ENAM JAHANAM

Cerpen Indra Tranggono

Enam Jahanam

RUANGAN yang tak begitu luas itu hanya diterangi bolam sepuluh watt. Keremangan terasa menekan dan menghimpit. Ruangan itu terasa makin sempit. Enam laki-laki tak henti-hentinya menghajar ruangan itu dengan semburan asap rokok. Lubang angin yang tak begitu besar di pojok atas salah satu dinding, tak berdaya memasok udara, membikin enam lelaki itu melepaskan bajunya. Peluh berleleran dari jutaan pori-pori mereka. Bau sengak keringat terasa menyengat berbaur dengan aroma alcohol dan asap tembakau.

Di depan enam laki-laki yang duduk mengitari meja itu, teronggok bergepok-gepok uang yang jumlahnya mencapai ratusan juta. Tumpukan uang yang teronggok bagai sampah itu menjadi titik pusat pandangan enam pasang mata yang menatap nyalang. Salah seorang mencoba menjamah uang itu, tetapi lima tangan yang lain mencegahnya.

“Kita belum sepakat untuk membagi uang itu. Kamu jangan lancing, Giring!” ujar Korak dengan mata berkilat-kilat.

“Bukankah aku juga pemilik sah uang ini? Aku yang pertama kali menodongkan pistol ke arah kepala pegawai bank. Kalau aku tak pernah memulai, perampokan itu tak mungkin terjadi, Korak!”

“Nanti dulu, Bung Giring. Ide perampokan itu muncul dari saya. Saya juga yang mengatur strateginya. Jadi, sesungguhnya akulah yang lebih berhak…,” ujar Crawak.

“Tapi, apa artinya ide tanpa keberanian? Akulah yang pertama kali melumpuhkan satpam dan polisi-polisi itu,” potong Gondes.

“Melumpuhkan polisi? Bukankah pistolku lebih dulu menyalak dari pada pistolmu? Begitu polisi itu roboh bersimbah darah, baru perampokan dimulai!” Tukas Brasak sengit.

“Kenapa kalian ini sibuk menghitung jasa? Seolah-olah kalian ini merasa paling pahlawan dan sibuk menyematkan tanda jasa semaunya. Apa artinya kepahlawan tanpa peran saya? Barangkali kalian menganggak aku ini coro, kecoa atau setidaknya kambing congek. Siapa yang berjaga-jaga di luar gedung bank? Aku, kan?! Sedikit saja aku lengah, pasti kalian habis. Begitu juga kalau aku tidak cepat-cepat melarikan mobil, setelah kalian berhasil menjarah uang. Yah… begitulah saya bukan pahlawan tapi menyelamatkan,” ujar Badheg.

“Tak ada gunanya kita menghitung-hitung jasa. Kita semua berjasa. Dan, siapa yang paling berjasa, dialah yang mendapat bagian paling banyak, “ Korak mencoba menurunkan ketegangan. Tetapi, mereka tetap saja saling tatap. Tak ada mulut berucap. Sedikit saja ada yang berani bergerak, pistol-pistol akan saling menyalak. Waktu terasa membeku. Angin terasa mati. Hanya dengus napas mereka yang terdengar.

“Sangat sulit untuk mengukur besar kecilnya jasa. Bagaimana kalau uang ini kita bagi rata. Saya kira persahabatan jauh lebih berharga daripada uang.” Badheg mencoba mencari penyelesaian,

“Itu kebijakan yang sangat tidak bijaksana.  Jelas tidak mungkin kita menyamakan jatah harimau dengan kelinci!” sergah Crawak.

“He, Bung, siapa yang kamu anggap harimau dan siapa kelinci? Itu diskriminatif!” sergah Badheg yang merasa tersindir.

“Aku tak mau tunjuk hidung. Tetapi saya kira, tidak kita keberatan jika yang dimaksud harimau itu ya… saya. Meskipun sesungguhnya saya sangat tidak enak untuk menyebut. Tetapi, kalau kita berpikir objektif….”

“Enak saja main klaim! Lantas, kalau kamu harimau, kami ini apa? Kelinci?!” potong Brasak meradang.

“Saya kira untuk memastikan siapa harimau dan siapa kelinci hanya kejantanan ukurannya. Nah, siapa yang berani membawa lari uang ini  dan bisa lolos dari desingan peluru itulah yang layak disebut harimau. Ayo, siapa berani?!” ujar Gondes sambil menarik picu pistolnya.

Mereka kembali saling tatap. Usulan Gondes itu bagaikan ledakan mercon besar di dalam keheningan ruang pikiran mereka. Kejantanan mereka, tiba-tiba tergugat.

“Ayo, siapa berani. Tunjuk jari!”  desak Gondes.

Tak ada sahutan. Tak ada jawaban. Keheningan terasa mengeras. Dari luar rumah, terdengar sayup lolongan anjing.

“Kamu sendiri bagaimana? Siap?!” desak Giring.

Gondes celingukan, senyumnya terasa dipaksakan. “Lho, jangan saya. Saya kan pengusul,” kilahnya.

“Kamu sendiri takut, kan?” Crawak kembali menyulut rokoknya.

“Ya… ya…sebenarnya tidak takut. Tapi, anak-anak saya kan masih kecil. Lagi pula istri saya sedang hamil.”

“Kamu ini kayak para petinggi, sukanya main kambing hitam!”

Gondes kembali celingukan, nyalinya mendadak mengkerut.

“Okelah, saya kira kita perlu cari jalan lain. Kamu punya usul?” ujar Badheg.

“Kita mesti menempuh jalan pistol!” jawab Korak.

“Maksudmu?” suara Badheg, Giring, dan Crawak hampir bersamaan.

“Ya… pistol ini kita isi satu peluru. Lalu, kita putar. Kemudian, moncongnya kita arahkan ke jidat kita. Selanjutnya, kita tarik picu. Dan… kita akan tahu siapa yang mampu bertahan dan siapa yang roboh. Ini cara paling fair, bijaksana, dan sesuai dengan kejantanan. Oke?” ujar Korak sambil memainkan pistolnya.

Kembali enam laki-laki itu saling menatap. Berbagai perasaan teraduk-aduk dalam rongga dada mereka. Badheg menenggak bir untuk memompa keberaniannya. Gondes menyulut rokok untuk menutupi nervous-nya. Crawak mengetuk-ngetuk meja, entah apa maksudnya. Korak masih memain-mainkan pistolnya. Bibirnya tersenyum tipis. Ia merasa sangat yakin mampu melewati permainan yang mengundang maut itu. Dalam hatinya ia merasa geli, melihat lima kawannya yang tampak tegang.

“Aku kok merasa mencium bau mayat, ya? Jangan-jangan itu mayat-mayat kalian.” Gertak Korak. Tiga menit berlalu tanpa suara.

“Sekarang tinggal pilih. Uang atau maut. Bagi yang berdarah tikus, lebih baik mundur. Keberanian itu tak bisa dipaksakan. Dan, ketakutan itu sangat manusiawi. Tak ada gunanya berlaga gagah kalau toh akhirnya mati konyol.” Korak mengumbar teror.

“Bagaimana kalau kita foya-foya dulu?” Badheg mencoba mencairkan suasana.

“Ya, kita harus menikmati uang ini dulu,” Brasak menimpali.

“Hedonis-hedonis kaki lima ini cuma memikirkan perut dan kelamin,” kutuk Crawak.

“Jangan sok suci kami hedonis ketengan!” bentak Brasak sambil tangannya hendak melemparkan botol bir ke wajah Crawak. Tetapi, Giring cepat-cepat mencegahnya.

“Untuk mengukur kejantanan, kalian jangan pakai cara kanak-kanak! Sekarang kita undi, siapa yang lebih dulu menembakan pistol ini di kepala.”

“Sebentar!” Brasak menginterupsi, “kita tentukan dulu pistol siapa yang dipakai?”

“Bagaimana kalau pakai pistolku? Kebetulan pelurunya tinggal satu. Dan, aku sendiri tidak tahu di mana posisi peluru itu,” tawar Korak.

“Kamu jangan coba-coba mengelabui kami. Bisa saja semua sudah kamu atur. Kita ini memang perampok, tapi kita harus menjunjung tinggi etika permainan. Fair play! Sehingga, kita bisa menjadi perampok yang berbudi luhur,” ucap Badheg sambil tersenyum.

“Lebih baik kita kumpulkan pistol kita. Keluarkan semua pelurunya,” ujar Giring.

Enam pistol diletakkan di meja. Masing-masing memuntahkan semua peluru. Kemudian, Giring mengambil satu pistol dan diisi satu peluru. “Sekarang kita undi,” ujar Giring sambil mengocok kartu domino. Masing-masing orang mendapat satu kartu. Pemegang kartu domino yang jumlah bijinya paling banyak, dialah yang mendapat giliran pertama, disusul pemegang kartu yang jumlah bulatannya lebih rendah. Begitu seterusnya.

Ketika Giring siap membagi kartu-kartu domino itu, Korak memotong, “Jangan hanya kamu yang mengocok kartu. Kita semua tahu, tanganmu punya mata!”

Giring tersenyum pahit. Ia serahkan tumpukan kartu itu ke Brasak. Brasak dengan ketenangannya yang tinggi mengocok kartu itu. Kemudian, kartu itu diberikan kepada Gondes. Begitu seterusnya, sampai akhirnya tiba pada giliran Badheg sebagai pengocok kartu terakhir. Dengan tangan gemetar Badheg membagikan kartu-kartu itu.

Lima pasang mata mengawasinya secara saksama. Penuh curiga. Semua tegang. Suasana hening kembali berkuasa. Gesekan kartu dengan meja kayu itu terdengar sangat keras. Napas mereka naik turun. Dan, di luar rumah terpencil itu, suara gonggongan anjing masih terdengar sayup. Badheg hampir pingsan ketika tahu ia mendapatkan kartu balak enam, jumlah tertinggi. Keringat dingin membanjir dari jutaan pori-porinya.

“Sekarang kita banting kartu-kartu kita!” ujar Korak.

Lima tangan siap membanting kartu ke atas meja. Tetapi, mendadak Badheg cepat-cepat mencegah dengan suara gemetar. “Maaf, bagaimana kalau kita tempuh cara yang lebih manusiawi?”

“Ayo banting kartumu, pengecut!” desak Brasak. Wajah Badheg pucat. Memutih seperti kertas kumal. Ia mendadak menangis, “Saya tidak ingin mati. Saya belum siap mati….”

“Diam, pengecut! Kamu yang pertama!” Korak menyerahkan pistol. Wajah Badheg makin pucat. Dengan lemas, Badheg menerima pistol itu. Mengangkatnya dan menodongkan ke pelipisnya sendiri. Tangan dan jari-jarinya gemetar. Keringatnya dingin mengucur deras.

“Cepat!” desak Brasak.

Jari telunjuk Badheg gemetaran menarik picu. Tenaganya mendadak terasa raib. Kelima kawannya memaksa. Terus memaksa. Rasa malu dianggap pengecut mendadak member kekuatan Badheg. Picu itu ditariknya kuat-kuat. Semua tegang. Kesadaran Badheg seperti timbul-tenggelam. Ia tidak tahu, hidup atau mati. Yang didengarnya hanya bunyi “dek”. Sontak kegembiraan Badheg meledak. Ia menari-nari mengelilingi meja bundar di mana lima kawannya sedang menunggu maut.

“Terima kasih, Tuhan…. Terima kasih, Tuhan. Ternyata, Engkau juga mendengarkan doaku, meskipun jiwaku ini kotor selalu. Percayalah Tuhan, jika aku yang memenangkan harta rampokan itu, aku akan lebih banyak beramal. Akan kusantuni orang-orang miskin, anak yatim….”

“Diam! Permainan belum selesai!” bentak Brasak. “Sekarang giliran kamu, Korak!”

Korak dengan penuh percaya diri mengambil pistol itu. Alkohol memompa keberaniannya. “Inilah kenangan terindah dalam hidup saya,” ujarnya sambil menebar senyum. Tapi, tak ada yang memperhatikan. Semua orang sibuk dengan pikirannya sendiri. “Aku telah bertekad mempertaruhkan hidupku dalam perjudian nasib. Dan, hanya sang pemberi sejati yang akan meraih kelahiran kembali….”

“Ayo cepat! Jangan malah ngoceh!”

“Baik. Sekarang, sang pemberani sejati akan mengajari kalian untuk lolos dari kepungan maut dan mereguk kemenangan.” Korak mengarahkan pistolnya ke keningnya.

Detik-detik berlalu sangat tegang. Semua menahan napas. Dan, mendadak terdengar letusan pistol. Dor!!! Kepala koyak terkoyak timah panas. Darah bersimbah di meja. Kawan-kawan Korak menatap kematian itu dengan perasaan dingin.

“Tuhan, ampunilah Korak. Dia orang baik, meskipun hobinya merampok. Dia merampok karena hidup dan hari depannya telah dijarah para perampok lain yang lebih besar dan kuat,” ujar Badheg takzim.

“Jangan malah berkotbah! Isi peluru!” desak Giring.

“Sebentar. Meskipun korak itu bajingan, dia juga punya hak mendapatkan kehormatan  bagi kematiannya. “ Badheg mengangkat mayat Korak ke pojok ruangan.

***

Permainan kembali dilanjutkan. Kematian Korak, diam-diam, telah mengguncang jiwa lima lelaki itu. Tetapi, demi kejantanan dan harga diri, permainan tetap harus diteruskan. Tak ada seorang pun yang bisa menghentikannya. Kini, sampai pada giliran gondes. Dengan penuh ketegaran ia mencoba berjudi dengan nasib, tapi justeru maut yang menyongsongnya dari liang pistol. Kepalanya hancur, darah muncrat, dan otaknya terburai.

Disusul Brasak. Perampok yang rajin masuk dan keluar penjara itu juga bernasib tragis.  Kepalanya remuk. Crawak pun gagal menghindar dari cengkeraman maut. Timas panas itu mengeram di rongga kepalanya.

“Sekarang kamu!” ujar Badheg sambil memberikan pistol itu kepada Giring. Giring menggigil. Wajahnya pucat pasi. Peluhnya berleleran di sana-sini.

“Ayo pengecut! Hanya yang berdarah jawara yang berani menantang maut.” Badheg kembali menyodorkan pistol itu dan diterima Giring dengan terpaksa.

Tangannya gemetaran.  Giring merasakan jarak antara hidup dan mati tinggal sejengkal. “Bagaimana kalau uang itu kita bagi rata,” ujar Giring penuh iba.

“Enak aja. Kamu bidikkan pistol ini atau aku yang membidikkan ke jidatmu!”

Giring mengarahkan pistol itu tepat di keningnya. Ia berdoa, semoga ada tangan malaikat yang mampu mengambil sebutir peluru sebelum picu itu ditariknya. Ia menarik napas beberapa kali. Keraguan masih menyergapnya. Namun, mendadak muncul harga dirinya yang mendorong tangannya untuk menarik picu. Terdengar letusan. Giring roboh. Kepalanya bolong. Darahnya muncrat di sana-sini.

***

Malam telah bangkrut. Angin pagi telah bertiup. Satu per satu mayat-mayat itu dibawa Badheg keluar rumah. Di depan lima mayat yang terkapar itu, Badheg melakukan upacara kecil untuk memberikan penghormatan terakhir kepada para pecundang itu. Kemudian, lima mayat itu dibakarnya bersama uang ratusan juta hasil rampokan.

Badheg tidak merasa menyesal melihat tumpukan uang yang tidak menjadi miliknya itu pelan-pelan mengabu.  Ia pun tidak merasa bangga menjadi pemenang dalam permainan pamer kejantanan yang mematikan itu. Matanya tajam menatap lidah-lidah api yang membakar jasad lima kawannya. Ia mendadak merasakan matanya basah. []

Yogyakarta, 18 Juli 2000

Catatan:  Cerpen ini pernah dimuat di di Kompas Minggu, 30 Juli 2000.

Tentang Penulis

Indra Tranggono, adalah pemerhati kebudayaan dan seni. Tulisan-tulisannya sering muncul di banyak media massa, seperti majalah Horison, Harian Kompas, Harian Jawa Pos, Harian Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, dan lain-lain. Aktif dalam berbagai aktivitas seni-budaya di DIY. Pernah mengasuh rubrik sastra di koran Masa Kini. Pada tahun 1984, ia bersama beberapa temannya menerbitkan bulletin Kebudayaan Refleksi. Sempat juga bekerja di Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerbitan Yogyakarta atau LP3Y. Puisi-puisinya antara lain masuk dalam antologi Gunungan (1983), Tugu; Antologi Puisi 32 Penyair Yogya (1986—editor Linus Suryadi AG), Prasasti, dan Sembilu.

Tahun 1990-an, puisinya Megatruh Jawa menjadi juara dua lomba penulisan puisi yang diselenggarakan Dewan Kesenian Yogyakarta dan Taman Budaya. Pada tahun 2000-an, cerpennya Anoman Ringsek meraih juara pertama lomba cerpen yang dihelat TBY. Ia juga pernah melawat untuk sebuah pementasan teater di Melbourne Australia, bersama Teater Gandrik (1998). Juga turut mendirikan Komunitas Pak Kanjeng (yang kemudian berubah nama menjadi Gamelan Kiai Kanjeng) tahun 1997,  dan  Komunitas Seni Kuaetnika (1999). Tahun 2011, ia mendapat Hadiah Sastra dari Yayasan Sastra Yogya yang didirikan Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo. Cerpen-cerpennya telah sepuluh kali masuk dalam Cerpen Pilihan Kompas (2002-2014).  Tahun 2015, mendapat Penghargaan Kesetiaan Berkarya dari Harian Kompas.

Skenario filmnya Negeri Tanpa Telinga masuk nominasi Festival Film Indonesia 2014 dan berhasil menjadi skenario terbaik dalam Festival Internasional Bali (2014).  Bukunya yang sudah terbit, antara lain, 33Profil Budayawan (TVRI –Sinar Harapan, 1985),  Sang Terdakwa (Yayasan untuk Indonesia, 2000—kumpulan cerpen), Iblis Ngambek (Kompas, 2003—kumpulan cerpen), Monumen (Yayasan untuk Indonesia, 2003—kumpulan naskah drama), dan Menyublim hingga Rahim (kumpulan naskah drama terbitan TBY 2015,—editor), Menebang Pohon Silsilah (Kompas, 2017), dan beberapa lainnya. Ia juga terlibat dalam program pemberdayaan desa/kelurahan budaya yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan DIY. []

45 Replies to “ENAM JAHANAM”

  1. [url=https://enenedprobel.tk]enenedprobel.tk[/url]
    [url=https://phihandnegenli.gq]japanese and black guy porn [/url]
    [url=https://icawnetbiabum.cf]tumblr mature women sex video [/url]
    [url=https://bandcendepasi.gq]blonde milf amateurs nude [/url]

  2. I liked up to you’ll obtain carried out proper here.
    The caricature is tasteful, your authored material stylish.
    however, you command get bought an impatience over that you would like be
    delivering the following. sick definitely come
    further in the past again since precisely the
    same just about a lot frequently within case you defend this increase.

  3. Terrific article! That is the kind of information that are meant to be shared around the net.
    Shame on Google for now not positioning this submit upper! Come on over and seek advice from my web site .
    Thank you =)

  4. I like what you guys are up too. Such clever work and reporting!
    Keep up the superb works guys I’ve incorporated you
    guys to my blogroll. I think it will improve the value
    of my web site :).

  5. Autoliker, Autolike International, Auto Like, Autoliker, Autolike, Auto Liker, autoliker, autolike, Photo Auto Liker, Status Liker, Increase Likes, ZFN Liker, Working Auto Liker, Photo Liker, auto liker, auto like, Status Auto Liker

  6. I like what you guys are up too. Such intelligent work and reporting!

    Carry on the excellent works guys I have incorporated
    you guys to my blogroll. I think it’ll improve the value of my site :
    ).

  7. Good day very cool blog!! Man .. Beautiful .. Superb
    .. I’ll bookmark your blog and take the feeds also? I’m glad to seek
    out numerous helpful information right here in the submit, we want develop extra techniques in this regard, thank you
    for sharing. . . . . .

  8. Hi there! Someone in my Facebook group shared this website with us so I came to take a look.
    I’m definitely loving the information. I’m bookmarking and will be tweeting this
    to my followers! Outstanding blog and great design and style.

  9. I like what you guys are up also. Such intelligent work
    and reporting! Carry on the superb works guys I have
    incorporated you guys to my blogroll. I think it’ll improve the value of
    my site :).

Leave a Reply

Your email address will not be published.