JALAN MELINGKAR

Cerpen Lala ST Wasilah

Jalan Melingkar

MATAHARI tepat di ubun-ubun. Aku terbangun oleh suara derai tawa yang berasal dari ruang tamu. Dengan malas aku beranjak menuju tempat dispenser di ruang tengah, untuk menuangkan segelas air putih. Rasa haus segera lenyap setelah segelas air membasahi kerongkonganku. Aku penasaran dengan suara tawa yang mengganggu istirahat siangku.  Kusibak sedikit gorden jendela yang membatasi antara ruang tengah dan ruang tamu. Kulihat, istriku tengah bercanda dengan beberapa tamu laki-laki. Serr! Darahku berdesir. Siapakah mereka? Tampaknya mereka  begitu akrab. Kutata  kembali dadaku yang sempat berdetak. Ah, paling juga kawan, hiburku. Tak urung benakku bertanya, kenapa pula kebanyakan dari teman istriku adalah laki-laki? Apakah itu risiko  dari dunia seni? Kupikir juga tidak. Karena masih banyak yang teguh pada pendirian. Tidak kagetan. Istriku memang seniman. Tepatnya sastrawan. Telah beberapa buku puisi dan cerpennya diterbitkan. Dari segi wajah, sebenarnya tidak terlalu cantik. Itu pendapat orang. Tapi kalau sudah berdandan, bisa menyedot perhatian orang.  Dia pandai menyulap wajahnya dengan polesan bedak yang tebal, juga lipstik dan eye shadow yang berwarna berani. Belum parfumnya yang tak bisa telat. Ditambah lagi cara bicaranya yang mendayu-dayu. Begitu menjanjikan. Aku cemburu karenanya. Siapa bilang rasa cemburu hanya milik perempuan? Bukankah itu sebuah kodrat bagi para pencinta? Wajarlah kalau soal poligami akan selalu menjadi pro kontra yang tiada akhir.

Tentang cemburu itu? Apalah dayaku? Dia mulai getol  bicara tentang HAM, semenjak eksisitensi dirinya diakui di kancah sastra.  Mungkin sekarang bagi istriku, rasa cemburu bisa dianggap sebagai pelanggaran HAM, menghambat hobi dan kariernya.

Dan aku? Meskipun aku seorang guru SMU dan berwajah tidak jelek amat, yang juga mempunyai murid ABG yang cantik-cantik dan menggoda, tapi aku selalu jaga imej. Menjaga jarak. Bukan sok. Tapi aku sudah terlanjur menjaga perasaan istriku, yang kala itu begitu over-protective. Aku menerimanya bukan karena terpaksa. Tapi lebih karena aku mencintai istriku.

Sekarang semua jadi berbalik. Setelah istriku sendiri mulai menjadi public figure, justru aku yang dituduh pencemburu. Itu karena pernah aku bicara terus-terang. Ketika itu usai diskusi sastra, yang membedah buku puisinya. Begitu keluar dari ruang diskusi, istriku tak langsung pulang, tapi bercengkerama dulu dengan para peserta yang kebanyakan laki-laki. Duh genitnya, tak kalah dengan gadis tujuh-belasan. Suaranya pun dibuat-buat, jauh berbeda kalau bicara denganku yang tidak jarang bersuara sember. Berkali-kali istriku menempelkan bibirnya pada buku kecil yang hendak diberi tanda tangannya. Tak lupa disertai kata-kata maut: With love, Nita. 

“Nita, terus terang aku cemburu dengan semuanya,” akhirnya aku mengaku,  setelah sekian lama aku pendam.

Lho, sampeyan itu bagaimana to Mas Wik? Seniman ya harus begini. Harus komunikatif. Sudah jadi tuntutan publik. Jangan cemburuan to. Yang penting aku hanya milikmu. Istrimu!” sergah istriku gagah. Aku terpaksa diam, dari pada berkonflik lebih lanjut.

Besoknya aku diskusikan dengan Dodo, temanku sesama guru. “Do, aku sebenarnya mulai risih dengan cara istriku bergaul. Kalau memang harus begitu, sepertinya aku tak bisa mengikuti.  Aku mulai ragu. Di satu sisi aku tak ingin mengekang keinginannya. Namun, di sisi lain, aku tak mampu masuk ke dunianya. Aku tak habis mengerti. Kenapa dia itu tidak introspeksi, bagaimana dulu cemburunya yang terkadang malah tidak masuk akal.  Kamu tahu, sampai sekarang aku tidak punya teman perempuan, karena terbawa oleh rasa canggung. Eh giliran dia sendiri yang mulai jadi public-figure, dia yang melupakan. Wajar kan kalau aku gagap menghadapinya?” aku menumpahkan kekesalanku.

“Kalau begitu, bicarakan saja baik-baik dengan istrimu,” begitu saran Dodo.

“Sebenarnya pernah Do, tapi sepertinya istriku mulai tak suka. Dan mulai menampilkan egonya.”

***

Sejak tadi hand-phone istriku berdering. Kulihat, istriku tengah tertidur pulas. Aku bimbang. Diangkat apa tidak? Namun akhirnya kuangkat juga.

“Halo Nita sayang, kamu sedang ngapain?” suara renyah seorang laki-laki menyapa. Deg!  Dadaku berdetak. Kujawab sapanya.

“Halo juga, ini siapa?” Tuuut…..telepon langsung diputus. Kecurigaan mulai berkecamuk di benakku. Siapa? Kuberanjak duduk di sebelah istriku. Kutatap wajahnya yang bagiku tetap saja secantik bidadari. Hari-hari kemarin kita sangat harmonis dengan kejujuran dan keterbukaan kita, sayang. Sekarang kenapa begitu banyak yang tak kuketahui tentang dirimu, batinku. Bersamaan itu, istriku terbangun oleh gigitan nyamuk. Ia melirikku.

Ngopo to Mas Wik menatapku seperti itu. Kayak baru ketemu saja,” katanya dengan masih memeluk bantal. Aku hanya tersenyum.

“Nit, Barusan ada telepon untukmu,”

“Dari siapa?” tanyanya terlonjak. Aku tunjukkan sebuah nomor yang tertera pada hand-phone nya. Tiba-tiba Nita menatapku. Amat nyalang. Aku kaget dengan sikap istriku.

 “Siapa suruh membuka hand-phone-ku,” bentaknya kemudian.

“Maaf, Nit, tadi kamu sedang tidur. Siapa tahu sangat penting.”

“Penting tidak penting itu bukan urusanmu. Mulai sekarang, kamu tak berhak lagi tahu tentang hand-phone-ku, begitu juga sebaliknya!” Dia membanting pintu kamar, meninggalkan aku yang masih dalam ketidak-mengertian. Sejak kapan dia belajar kata-kata seperti itu? Kuambil nafas panjang. 

***

Dua burung prenjak berkicauan di atas pohon belimbing. Beterbangan, seakan tak mau henti mengucapkan syukur pada sang Pencipta atas tersenyumnya pagi hari. Seperti biasa. Hari Mingu selalu aku isi dengan acara bersih-bersih rumah, sambil melatih Ais, anakku yang telah berumur tujuh tahun. Sengaja istriku tak kubangunkan, karena semalaman ia begitu khusyuk duduk di depan komputer menyelesaikan satu tulisannya. Pekerjaanku terhenti oleh suara bel rumah yang berbunyi. Kubuka pintu ruang tamu. Tiga laki-laki dan seorang perempuan dengan berpakaian nyetrik berdiri. 

“Nita ada?” tanya seseorang, tanpa basa-basi terlebih dahulu. Yang lainnya menyikut. “Eh yang sopan, itu suaminya lho” Sebelum aku menjawab pertanyaannya, ternyata Nita telah menghambur menuju kami.

“Halo sayang, tahu aja sih rumahku,” sapa Nita mesra. Rasa  sumringah memancar di wajahnya. Dengan akrab, Nita mencium pipinya satu per satu. Duh. Mataku terbelalak dengan pemandangan yang kulihat. Kekagetanku membuat lututku terasa lunglai. Kubiarkan mereka bergurau-ria. Tampaknya Nita tidak peduli dengan perasaanku. Beberapa saat Nita masuk kamar, dan begitu keluar dia sudah dengan dandanan yang cukup “heboh”.

“Mas, aku pergi dulu. Sudah terlanjur janjian. Mungkin pulangnya sore,” pamitnya, tanpa menunggu persetujuanku. Sebuah mobil kijang menderu meninggalkan asap pekat yang menusuk hidung. Kuelus dadaku untuk meredakan badai dalam dada yang bergemuruh.

Sampai sore, ternyata istriku belum juga datang. Dan  baru datang setelah jam sembilan malam. Begitu dia menghampiriku, aku langsung memberondong dengan pertanyaan. “Nita, siapa mereka? Dari mana saja kamu? Apakah sekarang kamu ingin kebebasan?” Rasa amarah  telah menguasai dadaku. Mataku menatapnya, tak berkedip.

“Salah lagi! Salah lagi! Kamu tak setuju dengan caraku bergaul? Dasar kuno. Manusia kan butuh perkembangan sesuai kebutuhan jiwa. Tidak monoton,” jelasnya tak mau kalah.

“O… jadi begitu! Oke! Aku tak bisa mengikuti caramu. Mulai sekarang, sebaiknya kita berjalan sendiri-sendiri.”

“Apa maksudmu Mas Wikan?” tanyanya penasaran.

“Kita cerai!” jawabku mantap.

Istriku terperangah. Ia tak menduga kalau kata-kata seperti itu bisa meluncur dari mulutku. Selama ini aku memang selalu mengalah bila ada masalah.  Kulihat nafasnya mulai berat. Terengah-engah. Matanya melotot seperti hendak mencelat.  

Oke! kalau itu maumu!” suaranya parau. Namun, dia melangkah menuju ruang dapur. Aku menangkap ada tanda-tanda yang amat membahayakan. Itu kulihat dari tatapannya yang mengandung ancaman. Dengan sigap kuikuti langkahnya.

“Apa yang akan kau lakukan?” Kudekap dia dari belakang. Kencang. Dia meronta.

“Tak perlu kau bertanya apa yang akan aku lakukan. Inilah jawabanku atas pernyataanmu,” matanya menjurus pada satu benda yang berkilat.

“Jangan, Sayang. Jangan kau lakukan hal yang merugikan. Aku cuma bercanda kok….” terpaksa aku berbohong. Aku sudah tak punya cara lain. Perlahan, emosinya mengendur. Dia menatapku, meminta kepastian. Mau tidak mau aku tersenyum, lalu mengangguk. Istriku nampak lega, lantas memelukku.

Dalam keletihan jiwa, aku melangkah menuju beranda depan. Udara sedingin es. Malam kian kelam. Di langit, tak satu pun bintang yang sudi tersenyum. Kuhempaskan tubuhku pada kursi bambu. Suasana bimbang kian menerjang ketika sebuah syair berkumandang di hatiku.

“Jika saja diriku ada di simpang jalan

mungkin aku masih dapat memilih arah

tapi kita telah jenuh dalam sebuah lingkaran

mungkinkah jalan hilang ketemu?”[]

Kedaulatan Rakyat, 4 Desember 2015.

Tentang Penulis

Mbak Lala” demikian ia biasa disapa, dilahirkan di Purbalingga, Jawa Tengah, pada 10 Juni, putri dari keluarga K.H. Umar Habib (almarhum) dan Hajjah Cik Inah Muthmainnah.

Masa kecil Mbak Lala hidup di lingkungan pesantren di Desa Rabak, Kecamatan Kalimanah, Purbalingga, sampai lulus Madrasah Ibtidaiyah GUPPI. Kemudian, Mbak Lala melanjutkan sekolah di SMP Darul Ulum, sambil mengaji di Pesantren Darul Ulum, Peterongan, Jombang, Jawa Timur. Pada saat SMA, Mbak Lala kembali lagi ke Purbalingga, sampai lulus dari SMA Muhammadiyah I Purbalingga. Hijrah ke Yogyakarta, Mbak Lala lulus sebagai sarjana hukum dari Universitas Cokroaminoto Yogyakarta.

Mengisi waktunya dengan banyak membaca cerpen dan novel, dari situlah Mbak Lala mulai menekuni profesi sebagai penulis cerita anak. Cerpen anak karyanya telah dimuat di Kompas (Anak) (Jakarta), Solo Pos (Solo), Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta), Suara Merdeka (Semarang), di majalah Kids Fantasi dan majalah Bobo (Jakarta). Sesekali Mbak Lala juga menulis cerpen dewasa dan dimuat di SKM Minggu Pagi dan Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta). E-mail: lalastwasilah@lawyer.com []

One Reply to “JALAN MELINGKAR”

Leave a Reply

Your email address will not be published.