LIDAH

Cerpen Jitheng Asmoro WE

MARSU terjaga dari jalinan mimpi buruknya. Belitan kekuatan menyergap kesadarannya dengan paksa. Suatu perasaan sakit menjepit lehernya. Membuat ia tak leluasa bernapas. Dalam sejurus ia merasa dadanya menggelembung. Lalu serasa hendak meledak. “Ugh, Bbu, toll, tolooongh…!” Marsu ingin menjerit menahan rasa sakit yang dahsyat. Tapi, hanya desis nafas yang semakin sulit melintas rongga dalam batang lehernya yang kokoh.

“Uugh, uuuh, ….” Marsu mencoba lagi dengan bersuara. Tapi, rasa sakit yang berpusat di pangkal lidahnya bertambah sakit setiap kali ia berkeinginan membuka mulut.

“Uuhh, Ugh, hahh….”

Mendengar suara asing di dekat pendengarannya, Marni, istrinya yang dibuai harum surga fana yang masih menyisakan riak gelombang dalam jiwanya, ternyalang seketika. Harum surga fana melesat entah ke mana. Perempuan cantik dalam puncak kesuburannya itu menampak suaminya yang dicengkeram sensasi asing dengan mata seperti hendak melompat.

“Uugh, uuugh….”

“Pak?   Bapak kenapa? Kenapa?!” Marni terlepas dari belenggu ketertegunan yang mengunci jiwanya.

“Uuh, iidah, idah….”

“Apa? Ida? Ida siapa?” sergah Marni dengan cemburu.

Marsu menggerak-gerakkan tangannya ke muka istrinya. Lalu, dengan jari telunjuknya Marsu menunjuk ke dalam mulutnya yang terbuka.

“Kidah, … lidah…,” ucapnya dengan jiwa ingin menjerit lantaran menahan sakit yang dahsyat.

“Lidah, kenapa lidah Bapak?” tanya Marni seraya mengangkat kepala agar bisa menampak ke dalam rongga mulut suaminya. Marni kembali disergap sensasi asing. Ia melihat lidah suaminya berwarna merah pucat. Normal. Tapi, posisi organ bicara itu tampak menempel persis menutup rongga leher. Kaku dan tegang.

“Pak, kenapa? Kenapa lidahmu, Pak?” Marni bertanya dalam kengerian yang mencekam.

Marsu menggerak-gerakkan tangannya ke muka istrinya. Lalu kembali menunjuk-nunjuk ke dalam rongga mulutnya sambil bersuara, “Uhg, uhh, idah, lidaah….”

Kekejaman sensasi asing dan dahsyat semakin kentara tergambar pada raut wajah lelaki separoh abad itu. Nafasnya yang semakin sulit melintas keluar-masuk dalam lorong lehernya, membuat dadanya bergerak cepat. Turun naik. Turun naik.

“Ugh, Bbu, toll, toloongh….” Marsu memandang kepada istrinya penuh harap.

“Ya, ya….” Marni tersadar dari ketertegunannya. Buru-buru ia meraih kainnya yang teronggok di dekat kakinya. Lalu, dililitkan ke badannya dengan tergesa-gesa, sebelum kemudian melorot turun dari ranjang.

“Bbu, ttolongh….”

“Sebentar, Pak. Saya akan panggil Darman,” kata Marni seraya menyeret langkah ke pintu.

“Bbu, idah….”

“Sebentar, Pak. Biar Darman memanggil Pak Sobiri untuk mengobati Bapak,” ujar Marni sebelum menutup pintu kamar.

Sendiri dalam kamar. Marsu merasa benar-benar berada dalam dunia yang asing. Mulutnya yang membuka menahan lidahnya yang terjulur lurus dan kaku, membuat urat-urat di sekitar rahang dan lehernya terasa sakit.

Marsu mencoba menggerakkan kepalanya ke samping. Pandangannya terantuk pada seonggok apel di atas meja kecil di sisi ranjang. Buah apel masih tersisa separuh. Ia masih ingat bagaimana tangan halus istrinya bergerak dengan lembut ketika mengupas kulit apel. Lalu, memotong-motongnya menjadi bagian kecil-kecil. Dan, dengan tatapan mesra serta senyum merekah di bibirnya, Marni memasukkan potongan-potongan buah apel ke mulutnya. Satu-satu.

Tiba-tiba Marsu seperti disengat kalajengking. Kepalanya kembali bergerak ke posisi semula. Tegak lurus dengan atas kamar. Apel. Buah apel! Pikirannya mulai bernalar. Ia mulai mencari kronologi pra petaka yang kini menghujat lidahnya.

“Marni…,” desisnya dalam hati penuh curiga. Mungkinkah Marni yang membuat petaka ini? Oh, tidak! Marni tidak punya ambisi apa-apa terhadapnya. Tidak. Ia sangat bahagia bersamaku. Bukankah aku telah mengangkat ia dari tempat nista itu lima tahun yang lalu? Marsu semakin dihempas oleh pertanyaan-pertanyaan yang merajam pikirannya.

“Saya sudah cukup bahagia hidup seperti ini,” ucap Marni beberapa waktu lalu. Ketika ia tengah didera rasa sentimental setelah menyadari dirinya tak mampu menjadi laki-laki sempurna.

“Aku tak mampu memberi momongan, Marni.”

“Itu tidak akan mengurangi rasa cinta saya terhadap Bapak,” kata Marni.

“Kamu sungguh-sungguh?” ia ragu waktu itu.

“Jiwa dan raga saya telah saya serahkan kepada Bapak sejak dulu ketika Bapak membawa saya pergi dari….”

“Jangan bicara hal-hal yang sudah lalu, Marni. Aku tidak suka.”

“Maafkan saya….”

Marsu menepis kecurigaan terhadap istrinya itu dari kecamuk dalam hatinya. Lalu, ia mencoba untuk duduk sambil menahan rasa sakit di batang lehernya. Setelah berhasil menyandarkan punggung ke dinding, pikirannya kembali mengembara. Mencari-cari di antara peristiwa yang telah lampau. Dan, wajah tenang seorang Kili, karyawan yang tersingkir itu memulai segalanya.

“Kau baca ini!”

Marsu masih ingat bagaimana pucat pasi wajah Kili ketika ia menunjukkan surat keputusan atasannya. Karyawan dengan pembawaan tenang melambangkan kejujuran sekaligus kecerdasan itu masih membisu dihempas kenyataan yang tak pernah dinyana-nyana.

“Jadi saya dipindahkan?” tanya Kili kemudian.

“Kenapa mesti bertanya?” Marsu menukas tanpa memandangnya. “Surat ini sudah memberi jawaban dengan jelas.”

Kili menunduk. Hari-hari buram membayang dalam benaknya dengan seketika. Saat itu ia seperti telah berada di sebuah ruang di samping gudang. Tempat penyimpanan barang-barang dan surat-surat tak berguna lagi.

“Jadi, Kili….” Marsu memenggal ketercenungan Kili, “Aku mau bekerja,” katanya mengusir dengan halus. Sesungging senyum penuh kemenangan tergambar di bibirnya.

Kili beranjak dari belakang mejanya. Mengemasi buku-buku dan kertas-kertas yang bertebaran di atas meja. Setelah mengembalikan ke tempatnya di file cabinet, ia berdiri memandang lurus tepat ke mata lelaki separoh abad yang masih berdiri di seberang meja. Terus memandang. Sebelum akhirnya bibir yang pucat itu bergumam, “Terima kasih.”

Lalu ia berbalik, pergi. Tanpa menutup pintu ruang, Marsu tersenyum. Kemudian beranjak menutup pintu. Lalu kembali ke meja. Setelah puas menatapi hasil kemenangan yang terlukis pada meja dan kursi di hadapannya, ia beringsut duduk di belakang meja. Tangannya menepuk-nepuk bantalan empuk dan halus di bawah kedua tangannya.

Marsu tersenyum puas. Usaha yang ia perjuangkan ternyata tidak sia-sia. Masih segar dalam ingatannya kapan dan bagaimana ia menebarkan intrik-intrik yang telah direncanakan setelah ia yakin akan hasilnya. Cukup lama ia mengincar jabatan yang hampir lima tahun membuat Kili hidup dengan gelimang kemudahan. Ternyata tidak begitu sulit meyakinkan atasannya. O, lidahnya telah terlatih. Lidah yang manis dan begitu lentur untuk menjalin kata fitnah. Dan Pak Bos, atasannya begitu mempercayainya. Maka, jadilah ia di belakang meja yang menjadi incaran banyak karyawan di PT. Perlindungan.

Marsu masih membeku dalam belitan jalinan yang bermain-main, ketika pintu kamar terbuka. Marni, istrinya menyeret Pak Sobiri, mantri kesehatan desa.

“Tolong, Pak Mantri, suami saya,…” Marni mengibaiba.

“Tenanglah, biar saya periksa,” kata Pak Sobiri sembari beranjak ke sisi ranjang. Lalu dengan senter kecilnya, mantri kesehatan itu menyorotkan ke dalam mulut Marsu yang membuka. Pak Sobiri mengernyitkan jidatnya. Mula-mula matanya melihat lidah yang menjulur kaku, tapi detik berikutnya ia melihat genangan air ludah yang berwarna hitam legam dan berbau busuk. Sesaat kemudian, genangan itu mengental dan mengental. Bau busuk makin menyengat. Ia pun kembali mundur, menjauhkan diri dari mulut Marsu. Tapi tiba-tiba ia berseru kaget, “Tidaaak! Ampun, ampun, saya tidak! Tidaaak!”

“Pak Mantri, ada apa? Bagaimana suami saya?!” sergap Marni ketika melihat Pak Sobiri berkemas-kemas dan menjauhkan diri dari sisi ranjang.

Mantri kesehatan itu tidak menjawab. Ketakutan yang maha dahsyat tengah membungkam keterjagaan nalarnya. Bayangan wajah Marsu yang berubah kasar dengan kulit mengelupas seperti terus menguntit pandangannya. Lalu lidah itu, lidah yang kaku itu, seperti hendak mematuknya. Ular, ular…. Ia pun berlari keluar dari kamar dengan terbirit-birit.

“Toloooong, tolooooong!” teriak Marni sambil berhambur menyusul Pak Sobiri yang telah melintas halaman rumah.

“Bbu… bbu….!” Marsu memanggil-manggil istrinya sambil melorot turun dari ranjang. Dengan menahan himpitan rasa sakit di batang lehernya ia menyusul ke luar.Tampak istrinya terduduk di halaman rumah. Kain yang melilit tubuh istrinya tak beraturan lagi. Ia pun terjerembab di lantai teras rumah saat ia hendak bergegas menolong istrinya.

Marsu merayap seperti geliat seekor ular menuruni tangga teras rumah. Ketika kedua tangannya menyentuh tanah halaman, ia tercekat.

Matanya ternyalang menampak jari jemari tangannya perlahan menghilang. Belum lagi terjawab keheranan yang mampu menepis rasa sakit di batang lehernya, ia kembali dicekam kengerian yang dahsyat menakala lehernya menyusut dan terus menyusut. Hingga akhirnya lenyap ditelan badannya sendiri.

Marsu ingin menjerit selantang-lantangnya. Tapi, hanya desis-desis yang tidak jelas yang keluar dari mulutnya. Pada puncak kengeriannya, ia menampak dirinya telah menjadi seekor ular. Lalu dengan kesedihan yang meluluhlantakkan jiwanya, ia bergerak mendekati istrinya yang tak sadarkan diri. Betapa ingin ia memeluk istrinya.

Pada saat itu, ia terusik oleh hiruk-pikuk yang muncul dari mulut jalan desa. Ia mendongakkan kepala. Tampak penduduk desa berjalan ke arahnya. Semua membawa kayu. Wajah-wajah mereka tegang campur ngeri.

Dan saat berikutnya, ia merasakan hantaman yang bertubi-tubi menimpa badannya. Tanpa ampun. Ia lantas tak bertenaga lagi. Lemas. Dengan sisa tenaganya ia mencoba mengangkat kepalanya. Ia melihat langit berwarna merah darah. Dan, Kili memandang ke arahnya. Wajahnya masih pucat pasi seperti mayat. Ia mendesis sebelum segalanya menjadi gelap.[]

Tentang Penulis

Jitheng Asmoro WE. Lahir di Magelang, 11 Februari. Mengawali menulis sejak di bangku SMP.  Pada awalnya menulis puisi dan dibacakan di radio pemerintah daerah. Memasuki usia SMA, Jitheng mulai menulis cerpen dan novelet. Cerpen pertamanya berjudul “Kabut di Hari Lebaran” dimuat Sinar Pagi Minggu Jakarta (1982). Sejak itu karyanya berupa cerpen banyak dimuat di koran dan majalah remaja ibukota.

Pertengahan Mei 1989, Jitheng merantau ke Jambi dan sejak Maret 1990 bekerja pada Pengadilan Negeri Muara Bulian di Kabupaten Batanghari. Kesibukannya tidak menyurutkan aktivitasnya dalam menulis. Puluhan puisi, cerpen dan novelet banyak dimuat media Jambi antara lain Harian Independent (Jawa Pos Grup). Selain menulis puisi, cerpen, cerita bersambung, Jitheng juga menulis naskah drama dan teater sekaligus sebagai pemain dan sutradara. Jitheng juga tercatat sebagai salah satu pendiri dan pembina sanggar Teater Pijar Batanghari.

Beberapa naskah karyanya telah dipentaskan di beberapa even, antara lain: “Takluknya Singa Padang Pasir” (1994), “Bukit Terakhir Pejuang” (1994), “Senja Merah Membara” (1995), “Prahara yang Usai” (1996), “Merakit Mimpi” (1996), dan “Lanskap Buram” (1997).

Karya cerpen Jitheng dibukukan bersama cerpenis Jambi, Dari Kedondong Sampai Tauh (Dewan Kesenian Jambi, 1999) dan karya puisinya juga terkumpul dalam antologi bersama penyair Jambi, Kelopak (Taman Budaya Jambi, 1997).

Kini, bersama istrinya Dra. Mahmudah Anik Wardani.dan kedua anaknya Swastia Verha Setyanikma dan Faiz Azhar Rizalta. Tinggal di  kampung halamannya di Muntilan sambil terus menulis. []

86 Replies to “LIDAH”

  1. Cerita yang membuat saya tak mau berhenti, terus dan terus dituntun untuk terus menuntaskan kalimat terakhir?
    Salam Mas Jitheng Asmoro

Leave a Reply

Your email address will not be published.