MENEMUI SOSOK NYENTRIK OTTO SUKATNO CR

Menemui Sosok Nyentrik Otto Sukatno CR

Habis Jum’atan. 5 Juli 2019. Sekitar pukul satuan.

“Mas, lagi santai, gak? Aku mau main ke tempat jenengan.” Pesanku via WA kepada Mas Otto.

Tak lama balasan muncul. “Ya, silakan.”

Dengan segera kubalas lagi. “Oke, Mas, otw.” Padahal, baru mau meluncur. 🙂

Lalu, dengan menaiki kendaraan roda dua, kurang lebih dua puluh menit, aku sudah sampai di rumahnya. Sebuah bangunan yang tampak tenang, di pinggir Selokan Mataram, Purwomartani, Kalasan, Sleman.

Di beranda yang tertutup oleh gerbang, Mas Otto, tampak duduk-duduk di sana.

Assalamu’alaikum….

Wa’alaikum salam.…

Setelah salaman, kami pun memulai percakapan. Saling bertanya kabar dan lain-lain.

Lalu, dia masuk rumahnya, selang beberapa menit dia keluar membawa baki berisi dua gelas kosong dan setoples gula pasir. Habis itu dia masuk lagi dan di tangannya tergenggam panci kecil bergagang yang berisi cairan kopi yang panas sembari menumpahkannya ke dalam dua gelas tadi.

“Ayo kita minum kopi dari Gayo.”

“Lho model buatnya gak diseduh ya…tapi digodok dulu.” Tiba-tiba teringat kopi godog ala Blora.

“Sudah lama kalo aku bikin kopi kayak gini… digodog, tapi sebelum full mendidih langsung diangkat. Coba saja nanti kamu rasakan sensasinya.”

“Wah…siap, jadi penasaran nih.”

Ini adalah kunjungan yang entah telah berapa kali aku ke sana. Dan, seperti biasa isi kunjunganku adalah ngobrol ngalor ngidul….

Di tengah percakapan, lalu aku melirik setumpuk kertas kerja dengan beberapa coretan pulpen….

“Apa itu, Mas?” tanyaku.

“Oh  ini kegiatan di samping mengajar, menulis, dan semacamnya, saya juga kadang ikut ngedit naskah di sebuah penerbitan di Jogja. Tapi, teknis kerjanya masih manual, yakni ngedit langsung di atas naskah print-print-an,” jawab Mas Otto yang menjadi dosen tidak tetap di ISI Yogyakarta.

Lalu, dia pun bercerita tentang pekerjaan ngeditnya, kalau akhir-akhir ini dia sering garap job ngedit naskah terjemahan dari kitab berbahasa Arab.

Setelah ngobrol bab penerbitan… pandangan mata saya tertumpu pada sebuah buku tebal dengan kertas yang bagus  Candi sebagai Warisan Seni dan Budaya Indonesia terbitan Yayasan Cempaka Kencana tahun 2003.  Ujungnya kami pun ngobrol tentang candi. Tentang rahasia-rahasia candi yang jarang diungkap orang.

Perbincangan beralih lagi ketika menyinggung nama Stamford Raffles, tentang dana revolusi, tentang aktivitasnya di kampung tempat tinggalnya, tentang pengalamannya saat masih muda, dan lain-lain.

Dari perbincangannya yang cukup gayeng adalah ketika kami ngobrol tentang dunia wayang.

“Mas, siapa tokoh wayang idola jenengan?” tanyaku. Maklum, dulu tokoh idola wayangnya adalah Werkudara alias Bima, pernah juga mengatakan bahwa idolanya adalah Kresna. Ternyata, idola tokoh wayangnya sekarang berganti.

“Idolaku sekarang Togog.”

Kemudian, ia pun menjelaskan alasannya secara panjang lebar, tentu saja dalam perspektif filsafatnya. Yang intinya, menurut dia: Togog adalah bisikan hati nurani. Dan, Semar adalah ego dalam diri. Standar kebenaran yang diacu Semar cocok oleh mereka yang memiliki cara pandang umum. Sedang standar kebenaran yang diacu Togog hanya bisa dipahami oleh orang-orang tertentu. Kalo dihubungkan dalam konteks agama, kebenaran Semar adalah kebenaran syari’at dan kebenaran Togog adalah kebenaran hakikat. Dan, bla-bla-bla…

Sayangnya, obrolan menarik ini mentok ketika sampai pada pertanyaan: “Sebenarnya dalam dunia pertunjukan wayang, siapa sih orang yang pertama kali mengenalkan dua tokoh ini?”

Tentu saja kami berdua sama-sama tidak tahu dan perlu mencari jawabannya. Di samping waktu juga yang sudah berlalu beberapa jam….

Begitulah setiap bertemu dengan Mas Otto, selalu ngobrol kesana-kemari berganti-ganti tema. Maklum, kunjunganku tidak menyiapkan beberapa pertanyaan penting dahulu… hasilnya ya selalu kayak gini ini, hahaha…

Otto Sukatno CR

Dia adalah sosok yang menyenangkan… dan nyentrik kalau berbincang dengannya. Dia selalu berbicara mengenai segala sesuatu dengan cara pandang subjektifnya sendiri… tidak terbiasa ngekor dengan pendapat si A, si B, dan lainnya.

Saya mengenal beliau sudah lama sekali. Saat saya belajar menulis tahun 1995-an. Mas Otto Sukatno CR adalah salah satu tokoh sastrawan yang lahir dari Kelompok Teater Eska, sebuah kelompok teater kampus di lingkungan IAIN Sunan Kalijaga (Sekarang UIN Sunan Kalijaga) Yogyakarta. Dari kelompok teater ini banyak lahir sastrawan Indonesia yang cukup mumpuni, sekadar menyebut nama ada Abidah El-Khaliqie, Hamdy Salad, Ulfatin CH, Mathori A Elwa, M. Faizi, Kuswaidi Syafe’i, dan lain-lain.

Dia lebih dikenal sebagai penyair dan penulis naskah teater, namun dalam perjalanan kariernya, ia pun menulis pelbagai genre yang disukainya, termasuk fiksi dan sejarah kebudayaan Jawa. Karya-karyanya lumayan bejibun kalau disebutkan satu per satu, baik naskah teater yang pernah dipentaskan, naskah tulisan-tulisan lepas di media massa, naskah yang diikutkan kompetisi dan meraih penghargaan, juga naskah yang telah diterbitkan menjadi buku.

Ayah dari Anggra Agastyassa Owie dan Acatya Abbra Adikya Owie, hasil perkawinannya dengan Wiwik Kuspitasari, sekarang selain menjadi konsultan dan konseptor di kampungnya serta beberapa tokoh di republik ini, ia pun menjadi konsultan ahli sejarah Dieng bentukan BI Jawa Tengah. Sambil terus berkarya, hidup damai mendiami lembah Selokan Mataram.

Hari sudah hampir senja. Sehabis numpang shalat Ashar di area panggung yang menjadi bagian beranda rumahnya, aku pamit pulang.[]

Otto Sukatno CR-2

Leave a Reply

Your email address will not be published.