METAMORFOSA

Cerpen Abidah El-Khalieqy

Metamorfosa
by nicky henderson

“BADANKU terasa gatal semua, Nak. Sekujur tubuhku, juga muka dan leherku. Ikan apa namanya yang telah kau masak tadi?” tanya Mak Tumpi.

Tumina gelagapan. Sejurus ia memandang maknya. Ia pandangi tubuh kurus yang berada di depannya, bajunya yang kusam, dan wajahnya yang tirus, juga kedua matanya yang buta. Bergetar hati Tumina. Ada desiran aneh yang merayapi sekujur tubuhnya. Tumina gagu dan bibirnya kelu.

“Mengapa kau diam saja, Nak? Aku bertanya, ikan apa yang telah kau masak tadi. Mengapa kau diam saja? Apa kau memasak ikan gathul kali? Aduh! Tubuhku gatal sekali seperti orang kudisan.”

Tumina membelalakkan matanya. Ia tatap nanar tubuh maknya. Ia amati kulit wajah, leher, dan pergelangan tangan. Berkerut dahi Tumina. Ia tak terlihat bercak cokelat atau merah seperti tanda-tanda penyakit kudis. Tapi, maknya terus menggarukkan tangan ke sekujur tubuhnya. Garukan itu terlihat semakin liar dan gencar, bahkan tampak kewalahan. Maknya yang kurus dan lemah itu, kini menjadi lincah dan menarikan tangannya dengan liar, menggaruki setiap bagian yang mampu dijangkau.

Tumina terpana. Berkali-kali tarik napas dalam-dalam. Ada beban yang memberati dan menindih napasnya, perasaannya. Tumina gamang dan bimbang. Ia tak kuasa menjawab pertanyaan maknya yang sederhana dan sangat keseharian, tapi Tumina tak mampu menjawab segala persoalan kehidupan keseharian yang sangat bahkan sangat biasa. Tumina gelisah.

“Nak, aduh! Nak, ada apa dengan tubuhku ini? Aduh! Gatalnya minta ampun. Duh Gusti… Kanjeng Pangeran…!” sebut Mak Tumpi.

Tumina terasa mengejang urat-urat tubuhnya. Tak terasa keringan berlelehan membasahi baju. Ia yang biasa cerewet dan pandai bersilat lidah, kini mulutnya terkunci. Matanya tak berkedip mengawasi tubuh maknya yang makin lama seperti jentik yang tengah menari.  Mak Tumpi kelojotan. Ia terus menggaruki rasa gatal di tubuh yang tak bisa dihentikan.

Dan, puncak dari adegan itu, Mak Tumpi lemas tak mampu lagi menggaruk. Ia jatuh terduduk di atas tanah disaksikan Tumina yang terlongong-longong tak mampu bicara, menjawab pertanyaan sederhana maknya. Sadarlah kini Tumina, bahwa maknya tak main-main dengan derita gatalnya. Ini pasti ada sebabnya dan Tumina tahu semua jawabannya.

Tumina membopong tubuh kurus itu dan membawanya ke galar ruang belakang. Maknya semakin lemas dan tak mampu lagi menggaruk. Yang keluar dari bibirnya hanya rintihan dan tinggal rintihan. Mak Tumpi membisikkan sesuatu tapi hanya berupa desisan. Mak Tumpi merintih dan mendesis, kadang menggelinjang seperti disengat kalajengking.  Tumina yang menyaksikan juga ikut kaget dan terkesiap darahnya.

“Oh… oh… gatal… gatal sekali. Mengapa kau diam saja. Nak? Mengapa? Oh… aku tak tahan!”

“Mak!”

Tumina melihat ada air mata meleleh di pipi maknya yang keriput. Sesekali tubuhnya menggelinjang dan Tumina ikut meremang. Tapi, Tumina tetap diam membisu. Seribu kata-kata, sejuta kata-kata telah hilang dari perbendaharaan mulut Tumina. Seakan lupa bahwa ia telah menguasai banyak kata-kata. Tumina lupa bahwa pertanyaan harus dibalas dengan sebuah jawaban.

“Nak…Nak, salep, Nak. Carikan salep.”

“Tak ada, Mak. Salep harganya mahal!”

“Carikan yang murah. Pokoknya salep yang bisa untuk obat.”

“Bahkan serupiah pun uang tak ada.”

“Aku tidak tanya rupiah.”

“Keinginanmu yang membutuhkan rupiah, Mak. Aku tak punya uang sepeser pun. Demi Tuhan! Mak, jangan macam-macam. Aku sendiri pusing. Kepalaku puyeng.”

“Oala… aku hanya ingin, kau mencarikan salep untukku. Itu saja.”

“Sudah kukatakan, salep harganya mahal. Lebik baik Mak diam, nanti kan sembuh sendiri, hilang sendiri rasa gatalnya!” Tumina mendelik memandang maknya.

Mak Tumpi tak peduli. Ia tetap merengek untuk dicarikan salep. Salep. Mak Tumpi hanya inget salep, obat oles untuk rasa gatal. Dan, Tumina belum tentu bisa menyembuhkan rasa gatal maknya. Untuk alasan pembelian salep, Tumina mendapatkan kembali kata-kata dan perbendaharaan bahasa yang demikian kaya.

“Ayo, Nak. Carikan salep. Kalau tak ada uang, kau bisa pinjam ke Lek Piyah dan Mbokde Lik. Kau tidak kasihan padaku, Nak? Aku sudah tak tahan. Tak tahan….”

“Utang-utangku sudah menggunung, Mak. Aku malu. Utang Mak padaku juga sudah banyak dan Mak tak pernah membayarnya. Kini, tak ada lagi yang mau memberi utang pada kita, Mak. Pasrah sajalah, nanti kan hilang sendiri rasa gatalnya.”

“Aku tak kuat… tak kuat….”

“Mak sendiri yang memaksa.”

“Memaksa apa, Nak?” tanya Mak Tumpi kaget.

“Memaksa minta ikan. Padahal, aku tak punya uang sepeser pun.”

“Lalu, kau dapat ikan dari mana yang kau masak tadi?”

Tumina diam sejurus. Bibirnya bergetar dan perasaannya bimbang, hatinya ragu-ragu. Ia tatap maknya lebih saksama. Tumina menelan air liur. Berkali-kali ia telan air liur itu untuk membasahi tenggorokannya. Tenggorokan yang seret bagai dilem getah jeruk kikit. Tumina batuk-batuk. Tumina menatap maknya dan bulu-bulunya meremang.

“Jawablah pertanyaanku, Nak. Ikan apa yang telah kau masak tadi?” pinta maknya merintih, menyayat pilu. Tumina terdongak. Ia terpana. Bibirnya bergerak-gerak. Seakan-akan tanpa disadarinya, mulut Tumina membuka.

“Yang kumasak tadi ulat, Mak?”

“Apa?”

“Ulat. Ulat yang bergerombol di pohon mangganya Lek Badri, Mak.”

“Nak! Ulat?! Duh Gusti Kanjeng Pangeran… jadi aku telah kau beri makan ulat, bothok ulat, Nak? Ibumu ini kau beri makan ulat. Nak?  Ibumu yang telah buta ini. Oh….” Mak Tumpi meratap pilu, kemudian dari tenggorokannya keluar bunyi aneh seperti perempuan tengah hamil muda. Mak Tumpi menggeliat-geliat ingin muntah. Pandangannya mengarah tajam ke arah Tumina. Bergetar-getar tubuh Mak Tumpi, seakan ia melihat ulat sebesar manusia tengah berdiri berhadapan dengannya dan ulat itu siap memangsa dirinya. Mak bergidik-gidik. Tumina tak bergeming.

“Inilah jadinya jika kau manja, Mak. Salah sendiri! Rewel!” bentak Tumina, merasa kurang senang melihat pandangan maknya yang terasa menghujat kesengajaannya.

Mak Tumpi seakan tak mendengar bentakan Tumina. Ia mengamat-amati wajah anaknya. Sekalipun ia buta, melalui penglihatan yang lain, Mak Tumpi menatap lekat ke wajah Tumina. Melalui indera keenamnya Mak Tumpi melihat mata aneh yang mengisi kelopak mata Tumina. Mata itu agak melesak miring dan kornea matanya keluar menonjol. Benarkah ini Tumina anaknya, bisik Mak Tumpi. Karena ia mencium bau iblis yang ganas.

Mak Tumpi tahu bahwa tubuh itu adalah tubuh Tumina, tapi mata itu alangkah liarnya, seperti mata iblis  dalam gambar-gambar. Sekali lagi, Mak Tumpi menatap mata Tumina. Benar. Mata itu sedemikian liarnya. Liar, buas, dan kejam. Ini pasti mata kepunyaan iblis yang dipinjam Tumina. Atau, iblis sengaja menginap di tubuh Tumina.

“Nak, kaukah itu, Nak?”

“Apa maksudmu, Mak?”

“Kau yang duduk di depanku ini?”

Tumina bingung oleh pertanyaan maknya yang aneh dan membingungkan. Tumina mendelik mendengarkan pertanyaan maknya.  Dahinya berkerut penuh tanda tanya. Tumina berpikir, apakah maknya telah kehilangan kesadaran karena gatal yang dideritanya. Ini benar-benar mustahil. Tumina tak percaya. Boleh jadi maknya telah mengecoh agar Tumina jatuh kasihan padanya.

“Pertanyaan macam apa itu, Mak. Jangan macam-macamlah! Bikin aku tambah pusing. Kalau Mak pura-pura sinting begini, akan kutinggalkan sendiri di sini.”

“Apa? Setelah kau beri bothok ulat yang mengerikan itu, kini kau mengatakan Makmu sinting. Tumina anakku…,” geram Mak Tumpi berkata sambil menggeretakkan gigi-giginya, Mak Tumpi menuding ke arah Tumina, tepat di depan hidungnya dan mengatakan dengan suara dalam, sedalam lautan yang tengah diarunginya. “Terkutuklah kau! Anak keparat! Ulat kau! Jadi ulat kau!” tandas Mak Tumpi parau, di ujung kesabarannya.

Tumina terpana. Antara percaya dan bimbang, emosinya meledak naik ke ubun-ubun, menggerogoti otaknya, jantungnya, paru-parunya, sendi-sendi dan tulang belulangnya. Oleh tekanan emosi yang dahsyat, Tumina tegang dan tubuhnya mengejang. Seakan ada yang menggelayuti kepalanya, menindihnya dengan bertonton batu hitam, kepala Tumina mengeras dan memadat, memadat dan terus memadat, mengetat dan mengetat tak bisa ditahan dan dicegah. Tumina berusaha menyadari keadaan, tapi terlambat.

Kutukan maknya mendenging dan terus berdenging di telinganya, membuat giris dan nervous. Tumina menggelinjang, berkali-kali ia menggelinjang, setiap empat menit, tiga menit, dua menit, dan satu menit, terus menuju hitungan yang kian memadat. Waktu pun terasa berlari kencang meninggalkan Tumina dalam fragmen mengerikan yang mencekam.

Tumina ingat kembali ulat-ulat yang merayap di pohon mangga Lek Badri, ketika ia mencutilnya seekor yang paling besar. Mata ulat itu, ia pandangi dan Tumina kaget. Mata itu memandang penuh protes dan ancaman. Tumina kembali menggelinjang. Ulat-ulat itu kembali menguasai ingatannya, merayapi seluruh sendi dan kesadarannya. Ulat itu berjalan naik turun di jantungnya, seperti raja dan Tumina budaknya. Tumina bergidik dan ingin muntah, tapi apa yang terjadi? Mulut Tumina terasa gatal dan menebal. Semakin lama semakin menonjol dan memanjang ke depan.

Tumina terus menggelinjang. Dalam hitungan detik ia terus menggelinjang. Angin berhembus perlahan dari celah lubang dinding bambu. Sepi mencekam ketika derit bambu ranjang Mak Tumpi  menggeriut. Mak Tumpi bangkit dari tidur dan merasa penyakit gatalnya sudah sembuh total. Dan, suara gedebuk menyusul kemudian, tepat di depan Mak Tumpi berdiri.

“Nak, Tumina. Apa yang terjadi?”

Tak ada sahutan.

“Kaukah yang jatuh ini?”

Hanya sunyi mendesah perlahan. Mak Tumpi penasaran. Dirabanya benda yang baru saja jatuh di depannya. Benda itu menggeliat dan kemudian merayap pelan kea rah Mak Tumpi dan menjilat kaki keriput itu dengan linangan air mata. Mak Tumpi tahu, itu jilatan ulat keket sebesar manusia yang hendak menggali makamnya. []

Catatan: cerita ini termuat dalam buku kumpulan cerpen Menari di Atas Gunting (Jendela, 2001).

Tentang Penulis

Abidah El-Khalieqy. Selain dikenal sebagai penyair, ia pun dikenal sebagai novelis Indonesia. Karya-karya kesusastraannya diikutkan dalam berbagai buku antologi bersama seperti: ASEANO: An Antology of Poems Shoutheast Asia (1996), Cyber Album Indonesia – Australia (1998), Force Majeure (2007), Rainbow: Indonesian Womens Poet (2008),  Word Without Borders (2009), E- Books Library For Diffabel (2007), I-lit.com (2012) dan lebih dari 15 buku sastra lainya.

Membacakan karya-karya puisinya di Taman Ismail Marzuki Jakarta (1994, 2000), menjadi peserta APWLD (Asia Pacific Forum on Women, Law and Development, 1987), serta aktif dalam KDPI (Kelompok Diskusi Perempuan Internasional, 1987-1989). Mewakili Indonesia dalam ASEAN Writers Conference/Work Shop Poetry di Manila, Philipina (1995). Menjadi pendamping dalam Bengkel Kerja Penulisan Kreatif MASTERA (Majlis Sastra Asia Tenggara, 1997). Membacakan puisi-puisinya di sekretariat ASEAN (1998), Konferensi Perempuan Islam se-Asia-Pasifik dan Timur-Tengah (1999), International Literary Biennale (2007), Jakarta International Literary Festival (2008), Aceh International Literary Festival (2009) dan, Konferensi Pengarang Muslimah di Kuala Lumpur (2010). Bedah Film dan Novel “Perempuan Berkalung Sorban” di Hongkong (2009) dan, Singapura (2010). Mengikuti progam SBSB (Siswa Bertanya Sastrawan Bicara) di berbagai kota besar di Indonesia (2001-2008)

Mendapat Penghargaan Seni dari Pemerintah DIY (1998). Novelnya yang berjudul Geni Jora menjadi pemenang dalam Lomba Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta (2003). Dinobatkan sebagai tokoh “10 Anak Zaman Menerobos Batas” oleh Majalah As-Syir’ah (2004). Memperoleh anugerah IKAPI dan Balai Bahasa Award (2008), Adab Award 2009. Dinobatkan sebagai “Sepuluh Muslimah Kreatif” oleh Majalah NooR (2010). Memperoleh Anugrah Sastra dari Kemendikbud RI (2011).

Namanya mulai melambung sejak novelnya Perempuan Berkalung Sorban difilmkan tahun 2001.

Bukunya yang sudah terbit: Ibuku Laut Berkobar (1997), Menari di Atas Gunting (2001), Perempuan Berkalung Sorban (2001), Atas Singgasana (2002), Genijora (2004),  Mahabbah Rindu (2007), Nirzona (2008), Mikraj Odyssey (2009), Kisah Tuhu  (2009), Menebus Impian (2010), Mataraisa (2012) dan, Mimpi Anak Pulau (novel biografi, 2013), Santri Cengkir (novel biografi, 2013). E-mail: elkhaliy@yahoo.com. []

6 Replies to “METAMORFOSA”

  1. One more thing to say is that an online business administration course is designed for individuals to be able to smoothly proceed to bachelor’s degree courses. The Ninety credit diploma meets the other bachelor college degree requirements when you earn your associate of arts in BA online, you will possess access to the modern technologies within this field. Several reasons why students want to get their associate degree in business is because they may be interested in this area and want to receive the general education necessary just before jumping right bachelor diploma program. Many thanks for the tips you really provide within your blog.

  2. Hey, I think your blog might be having browser compatibility issues. When I look at your blog site in Ie, it looks fine but when opening in Internet Explorer, it has some overlapping. I just wanted to give you a quick heads up! Other then that, superb blog!

  3. certainly like your web site but you need to take a look at the spelling on several of your posts. Many of them are rife with spelling issues and I in finding it very troublesome to tell the reality nevertheless I will certainly come back again.

  4. What i do not realize is in reality how you’re not really much more well-preferred than you might be right now. You are very intelligent. You already know thus considerably in the case of this matter, produced me personally believe it from numerous various angles. Its like women and men are not involved unless it is one thing to accomplish with Lady gaga! Your individual stuffs outstanding. At all times care for it up!

Leave a Reply

Your email address will not be published.