PAWANG DOA

Cerpen Freddy Jogo Ena

Pawang Doa

“Kamu harus masukan isi amplop yang banyak, supaya doamu segera dikabulkan!”

Kata-kata itu terus terngiang ketika aku menemui kedua pendoa itu. Mereka duduk bersila dengan mata terkatup. Tak peduli orang yang lalu-lalang di depan Candi Bromo.

Di hadapan mereka penuh dengan aneka kertas ujub yang dikirim/dibawa orang dari mana-mana. Mereka sudah melayani ribuan permintaan doa. Tiada kenal lelah mereka mendaraskan doa siang dan malam untuk orang-orang yang tidak mampu berdoa.

Wah elok, doa bisa diwakilkan saja. Mau memohon apa pun silakan, cukup kirimkan kepada mereka. Rupanya tidak hanya dewan perwakilan rakyat. Ada juga perwakilan doa.

***

Suasana candi begitu hening, agak mistis. Bau kemenyan dan asap lilin berpadu menusuk hidung ditambah bunyi cipratan air orang mencuci muka atau mengisi botol/jerigen mereka.

Mbah aku minta doa, ya,” kataku saat mengunjungi candi itu pertama kali.

“Hai anak muda, kau minta doa apa? Masih muda sudah malas berdoa,” jawab si nenek sembari mengambil kertas ujub yang paling bawah, sesuai urutan penumpukan.

Si nenek memilah-milah amplop yang besar dan tebal untuk diletakkan terpisah dengan amplop yang kecil dan tipis.

Aku agak malu mendengar jawaban si nenek tadi. Jujur, aku jarang berdoa. Aku suka menitipkan doa di berbagai grup medsos. Malu juga aku diledek nenek itu.

Mbah, aku ingin kaya, dapat jodoh wanita tajir dan posisi tinggi dalam pekerjaanku,” pintaku pada si nenek.

“Anak muda, minta jangan aneh-aneh. Tuliskan saja apa permohonanmu. Letakkan di hadapan kami. Nanti kami akan doakan satu per satu sampai tiba giliranmu.”

“Apakah aku harus mengisi “amplop”, ya Nek,” tanyaku.

“Kamu mau doamu cepat dikabulkan? Isi yang banyak! Kalau ujub doamu tiga, jumlahnya dikalikan tiga. Maka sebelum pulang doamu sudah dikabulkan,” jawabnya.

Aku yang kebelet agar doa-doaku segera dikabulkan langsung saja memasukkan tiga puluh lembar uang seratus ribuan ke dalam amplop cokelat yang sudah kutulis dengan tiga ujub tadi. Ah, tidak apa-apa persembahan tiga juta untuk dapatkan tiga puluh juta, tiga ratus juta, tiga miliar bahkan tiga triliun.

“Mbah yakin doaku segera dikabulkan?” tanyaku saat menyerahkan amplop cokelat itu.

“Kalau kamu ragu-ragu dan tidak ikhlas, ambil kembali amplopmu,” tantangnya. “Berdoa harus ikhlas! Lihatlah amplop-amplop doa itu! Mereka ikhlas agar permohonan mereka dikabulkan,” tandas si nenek seperti mengejekku.

Aku melirik tumpukan amplop di hadapan penjaga candi itu. Aku tidak jadi goyah dan mulai percaya kepada kedua pendoa ini.

“Aku ikhlas kok, Nek, soalnya aku sangat berharap untuk mendapatkan semua yang aku minta,” jawabku yakin.

“Baiklah, Nak. Kamu harus ikut berdoa juga. Karena yang butuh itu kamu, bukan kami,,” tegas si nenek.

Jawaban si nenek seakan menggoyahkan lagi imanku. Sedangkan si kakek tetap khusyuk berdoa. Tidak pernah membuka mata. Aku makin yakin, pasti uangku tidak akan hilang percuma.

***

Sudah lewat tiga minggu. Hasil titipan amplop tiga juta belum terwujud. Aku semakin gelisah. Ketakutan menimpaku. Mimpi buruk menemani malam-malamku. Mau ke candi itu lagi belum berani. Aku harus bersabar dan menunggu dengan penuh keyakinan.

“Ah sok penuh keyakinan lu. Doa saja minta orang lain. Apakah masih pantas kamu punya keyakinan?” kata suara hatiku.

Makin hari beban batinku bertambah. Aku semakin tidak tenang. Apakah aku ditipu ya? Tapi, mengapa banyak orang mau datang kepada si penjaga candi tua yang pawang doa itu? Ya, ibarat pawang hujan bisa menunda atau mengalihkan hujan ke tempat lain, jangan-jangan uangku malah dialihkan ke tempat lain juga. Atau malah ke pemohon yang lain. Gawat! Aku harus mengadu ke siapa ya? Pasti tidak mungkin aku mengadu ke istriku. Aku kan mau buat kejutan dengan menjadi kaya mendadak. Ya tiba-tiba punya banyak uang gitu! Pusing-pusing! Itulah litani kegelisahanku.

“Ah itu salahmu sendiri. Kamu terlalu malas tetapi rakus. Bukankah Pencipta sudah berikan kamu waktu enam hari untuk bekerja supaya bisa hidup?” kata hatiku lagi.

“Hai, melamun apa?” tiba-tiba Om Rudi menepuk pundakku. Om Rudi, adik kandung bapakku, yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku. Ia tempatku mengadu selama ini daripada kepada ayahku, yang juga kakaknya.

“Haha…siapa yang melamun, Om?” elakku. “Aku lagi memikirkan ujub-ujub doa yang baru kutitipkan kepada pawang doa di Candi Bromo pada malam Jumat Kliwon, tiga minggu yang lalu, Om,” jawabku lancar.

Om Rudi mengerti maksudku. Ia geleng-geleng kepala. Dan dengan nada agak keras dia berkata, “Apa? Kamu belum berubah juga? Dasar pemalas. Maunya lekas kaya tanpa bekerja keras. Kamu pikir dengan memberi kepada pawang doa itu, kamu langsung kaya? Kamu dibohongi. Di bawah tempat duduk para pawang doa itu ada terowongan untuk menampung uang-uang ujub orang. Setiap hari bisa terkumpul puluhan juta dari jualan jasa doa. Biar kamu tahu ya, sebagian besar peminta doa banyak yang sakit jiwa karena kehilangan uang.”

“Sekarang masa puasa, seharusnya kamu perbanyak doa dan laku tapamu, bukan dengan cara seperti ini. Kamu mau berusaha menyogok Tuhan, padahal Tuhan tidak pernah mau disogok. Dia hanya menghendaki kita hidup seturut kehendak-Nya,” katanya Om Rudi.

Aku membisu! Rupanya Om Rudi tahu banyak tentang pawang doa di Candi Bromo itu. Sebagai kontributor sebuah koran harian, Om Rudi pasti sudah sering “blusukan” mencari berbagai informasi, termasuk tentang pawang doa itu.

“Kamu kira dengan kasih mereka uang, kamu akan kaya? Apakah kamu yakin bahwa si pawang doa itu akan mendoakan kamu? Si kakek itu memang buta jadi dia kelihatan seperti sedang berdoa. Sedangkan si nenek itu bertugas untuk memasukkan amplop-amplop berisi uang ke dalam lubang dekat tempat duduknya. Amplop-amplop yang kamu lihat menumpuk di hadapan kakek pawang itu tidak ada isinya lagi. Pawang doa itu hanya diperalat seseorang untuk menipu dan memeras.” Kata-kata Om Rudi makin pelan dan terdengar menasihatiku dengan sepenuh hati.

“Iya Om, terima kasih banyak.” Hanya itu yang keluar dari mulutku.

***

Pengakuan dosaku yang terakhir belasan tahun silam. Bapa, aku mau mengaku…. Aku pernah membawa sejumlah uang untuk pesugihan agar cepat kaya. Aku pernah mengancam yang meminjami aku uang agar dia tidak boleh menagih lagi, karena uangnya sudah hilang.

“Tidakkkk, aku belum mau bertobat, uangku belum kembali. Aku harus mencari si si pawang doa penipu itu. Tidakkk…!”

“Pa, bangun… ada apa kok Papa teriak-teriak?” tanya anakku yang tidur di sampingku.

Ternyata aku bermimpi untuk mengaku dosa, untuk bertobat. Tapi, rasanya masih berat. Dendamku masih membara pada pawang doa penipu itu.

“Mereka tidak menipu. Mereka hanya pintar memanfaatkan kebodohanmu dan orang-orang yang mau dengan ikhlas kehilangan uang.” Tegur sebuah suara dalam hatiku.

“Oh, iya ya,” jawabku tak tahu harus berbuat apa.

Ah sudahlah. Uang sudah hilang bersama kebodohan yang kupelihara, batinku menghibur diri dalam malu dan sesal.[]

Pondok, akhir Februari 17

Catatan: cerita itu sebelumnya termuat dalam buku antologi cerpen Dari Mijil ke Kali Progo (Digna Pustaka, 2017).

Tentang Penulis


Freddy Jogo Ena atau Alfred B. Jogo Ena. Lahir di Flores, 7 Maret 1974. Sejak duduk di bangku SMA sudah aktif menulis. Adalah seorang editor senior. Dan, pernah mengedit naskah bersejarah Elvis Always on My Mind (The Most Expensive & The Most Exclusive Book) yang harganya dijual 30 juta per eksemplar. Pegiat dan pendamping penulisan di Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias. []

One Reply to “PAWANG DOA”

Leave a Reply

Your email address will not be published.