PEREMPUAN LAIN

Cerpen Mell Shaliha

Perempuan Lain

“Assalammu’alaikum, Mas Adam, gmn kbrnya?”

Itu SMS pertama dari nomor yang tidak terdaftar  di list HP-ku. Lalu, aku jawab saja, mungkin dia teman lamaku.

“Wa’alaikumussalam, Alhamdulillah, kbr baik, mksh. Siapa?”

Kutunggu beberapa saat, tak dijawab. Kuputuskan melupakannya. Dua hari berlalu, SMS datang lagi dari nomor yang sama.

“Mas Adam, sdh makan blm? Jgn telat makan ya, jg kesehatan.”

“Maaf anda siapa ya, laki-laki atau perempuan? Jika memang tmn lama tlg sgr ksh tahu.” Jawabku tegas.

Lagi-lagi tak dibalasnya.

Selang sehari kemudian dijawabnya. “Tentu saja perempuan.” Hanya itu. Mengetahui dia perempuan, perasaanku jadi tidak enak. Ada-ada saja seorang wanita berani SMS seperti itu. Atau, mungkin dia tidak tahu bahwa aku sudah berkeluarga? Mempunyai seorang istri yang baik dan sabar melayaniku. Jujur saja, SMS itu menggangguku. Lagi pula perhatian kecil semacam itu tidak ada apa-apanya dibanding kasih sayang istriku. Latifah. Ah…, tiba-tiba aku merindukannya. Aku putuskan mengirim SMS istriku agar sekelebat perasaan tak enak itu segera pergi.

“Assalammu’alaikum, Ummi, lagi ngapain? Salma sdh pulang sekolah blm?”

Tak berapa lama kemudian istriku menjawab, “Wa’alaikumussalam, Bi, Salma baru saja plg, Ummi lg siapin mkn siangnya, Abi jgn lupa mkn dan  shalatnya.”

Tenang rasanya menerima balasan darinya. Aku tak perlu meresahkan apa pun, semua pasti baik-baik saja dan aku akan melupakan SMS itu.

Kurun waktu enam tahun pernikahan kami, tidak pernah ada masalah istimewa yang mengganggu. Latifah, istriku itu sangat penurut dan tidak banyak menuntut. Dia rela meninggalkan segala macam aktivitas luarnya semasa belum menikah, memenuhi permintaanku sebagai seorang istri. Sebelumnya dia memiliki profesi menulis buku juga editor di sebuah penerbitan mayor.  

Aku memang beruntung meskipun akhirnya profesinya sebagai editor aku pangkas habis. Aku tak mengizinkannya bekerja di luar. Sebelum memutuskan menerima lamaranku, ia telah meninggalkan pekerjaannya tersebut.

Beberapa novelnya pun sempat mengisi rak buku koleksiku. Aku mengenalnya dari buku-buku karyanya, namun tidak pernah kuduga bahwa mudah sekali aku bertemu dengan penulis muslimah itu.

Pertama kali aku melihatnya saat ada acara bedah buku dan pemeran buku di Boulevard UGM yang dibuka untuk umum. Seorang teman dari penerbit tempatnya bekerja mengundangku yang memang maniak buku untuk menghadiri acara tersebut. Kemudian kami berkenalan, muslimah yang anggun dan sopan. Dari gaya bicaranya pun terkesan demikian terpelajar. Tak lama kemudian aku mencari informasi tentangnya melalui temanku. Tak menunggu lama, aku segera mengajukan ta’aruf. Jujur saja, aku sangat mengaguminya. Mungkin bisa dibilang aku serba nekad. Pekerjaanku yang hanya seorang guru SMK berani mengajukan ta’aruf kepada seorang publik figur. Tanpa kuduga, ta’aruf-ku disambut dan aku segera melamarnya.

Ya, hingga pernikahan kami di tahun ke enam ini membuahkan Salma, anak pertama kami.

Sebenarnya aku sempat was-was, mengajukan syarat bahwa aku tak mengizinkannya bekerja. Bukan karena ragu kemampuanku memenuhi kebutuhan rumah tangga, tapi aku khawatir dia tidak ikhlas melepaskan popularitas yang didapatnya melalui pena. Saat itu, aku tidak tahu apa prinsip hidup dia sebagai seorang yang berprofesi penulis dan editor. Aku hanya meyakinkan bahwa aku sanggup membahagiakannya tanpa membiarkannya bekerja di luar rumah, itu sudah menjadi prinsipku sebagai seorang suami.

            Aku pikir dia akan menolak mentah-mentah, ahh.. ternyata aku salah lagi. Prediksiku hanya sebuah pemikiran seorang yang sedang lemah iman, pemikiran orang yang tidak yakin akan dirinya sendiri. Dia hanya tersenyum saat mendengar syarat yang aku ajukan. Kemudian dia mengangguk. Tuhan mungkin sedang mengujiku, ya-kemudahan itu aku anggap sebagai ujian, apakah aku bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya atau tidak.

Selama menjadi istriku, dia sering mendapat undangan mengisi workshop kepenulisan. Dia tak akan pergi begitu saja sebelum mendapatkan izinku. Namun aku juga harus mengerti, ilmu yang dimilikinya memang harus diamalkan. Saat seperti itu, aku lebih sering meninggalkan tugasku agar bisa menemaninya. Pikirku… setidaknya aku sudah bisa menjadi suami yang “professional”.

Sejak kelahiran Salma, dia hampir tak punya waktu lagi untuk menulis. Terkadang aku tak tega melihatnya repot, apalagi memaksanya menghentikan kegiatan menulisnya secara total demi si kecil. Tapi, ternyata itu sudah menjadi pilihannya dan aku tak pernah bisa banyak membantu mengurus anak dengan telaten. Tugasku sebagai guru sangat menyita waktu, menuntaskan koreksi ujian siswa-siswaku atau mencari tambahan materi. Justru istriku yang sering lembur membantuku, saat seperti itu aku merasa menjadi suami yang tidak berguna.

“Bi, istirahat dululah, biar ummi bantu.” Damai sekali rasanya mendengar kata mutiara darinya itu. Tak ada yang aku rasa lebih istimewa selain hadiah Allah yang satu ini, Latifah.

Tiga hari lagi ulang tahunku yang ke-30, tidak ada yang spesial bagi kami. Tak pernah ada perayaan atau apa pun juga. Meski begitu, istriku tak pernah melupakan hari kelahiranku, ada saja yang dilakukannya untuk membuatku tersenyum.

“Siang Mas Adam, wah sebentar lagi ultah ya, bisakah kita ketemuan atau makan malam?”

Perempuan misterius itu datang lagi dengan sms genitnya. Aku benar-benar tak bisa tinggal diam. Harus kuberitahukan padanya bahwa aku sudah menikah, jika tidak hal  ini akan menjadi fitnah bagi keluargaku. Tentu, aku juga akan membicarakan masalah ini dengan Latifah, aku tidak mau dia tahu dari orang lain yang mungkin tidak suka dengan keharmonisan keluarga kami. Aku takut jika kemungkinan buruk itu terjadi, takut menjadi orang yang tak bisa dipercaya.

 “Maaf, jika anda ingin bertemu silahkan datang ke rumah saja, ada istri dan anak saya di sana. Tlg katakn siapa anda agar kami tidak salah faham, jika anda memang teman saya.” Balasku, yang lagi-lagi tak dijawabnya.

Malamnya aku membicarakan perihal SMS itu dengan istriku. “Mi, ada seorang wanita sudah beberapa hari ini SMS Abi. Tapi, dia enggak mau bilang siapa dia, ini SMS-nya kalau Ummi mau baca. Abi balas sekadarnya, takutnya teman lama Mi.” Jelasku panjang lebar.

“Iya Bi, nanti Ummi baca, baru repot nih ngajarin Salma nulis. Mungkin teman lama Abi?” Yach… aku sedikit kecewa dengan respons istriku yang biasa saja. Atau… mungkinkah dia marah karena aku baru membicarakannya sekarang?

“Duh Mi, maaf Abi baru kasih tahu sekarang, Abi pikir dia cuma iseng waktu itu. Ummi enggak cemburu?” Dia menengokku dengan senyumnya dan mengangguk.

“Iya Bi, teman Abi kan banyak, nanti Ummi lihat ya?”  Aku menghela nafas dan meninggalkannya di ruang belajar anakku.

“Siang Mas Adam, hari ini sy tggu di dpn masjid agung jam 05.00, tlg temui sy.” Kupegang kepalaku yang tiba-tiba berat seusai mengajar, ditambah lagi dengan SMS misterius itu. Akhirnya aku menyerah. Entah apa yang membuatku penasaran dengan wanita itu. Aku putuskan menemuinya dengan Latifah nanti sore.

“Mi, nanti sore temani Abi ketemu dgn org itu, Abi tdk mau prg sendiri. Plg skolah lgsng Abi jemput ya, please.”

“Afwan Bi, Ummi sedang repot nyiapin masakan special buat Abi nanti mlm. Temui saja dia Bi, Ummi percaya kok sm Abi, jgn khawatir. Temuilah utk mnghargai org lain.”

Aku hanya memikirkan apa kata orang nanti jika melihatku sepulang sekolah bertemu dengan perempuan lain di jalan.

Dengan enggan aku mengendarai sepeda motorku menyusuri alun-alun utara menuju Masjid Agung. Udara mulai sejuk menjelang sore. Aku hentikan sepeda motorku di tepi alun-alun. Kunikmati sebentar suasana khas kotaku. Orange  memayungi cakrawala. Kuperhatikan pedagang lumpia dan martabak mempersiapkan gerobak dagangnya di sampingku. Bahkan sudah ada yang mulai membuka lesehannya. Aroma bawang goreng membuat perutku keroncongan, mengingatkanku pada Latifah yang pasti sedang  menungguku dengan masakannya yang tak kalah nikmat.

Aku segera beranjak, melaju sedikit lebih cepat, agar bisa cepat pulang. Sampai di depan masjid, tak kutemui siapapun. Hanya anak-anak TPA Fathul Bayan berlari keluar masuk masjid. Aku duduk di jok motorku, membelakangi pintu gerbang masjid. Kuputuskan menunggunya barang sepuluh menit.

“Hahh…!” aku berjingkat kaget, tiba-tiba kurasakan kedua tangan lembut menutup kedua mataku. Aku tak bergerak, ingin sekali aku menyumpahi kelancangan orang ini. Bukankah sudah aku bilang, bahwa aku sudah menikah?

“Siapa? Tolong lepaskan dan  jangan main-main.” Tegasku. Tak ada jawaban. Aku biarkan sampai dia melepasnya, walaupun aku menahan kesal yang amat sangat. Dari tekstur yang kurasa, sepertinya dia memang seorang wanita. Mengenakan baju lengan panjang karena lengannya menyentuh kedua pipiku. Lalu… aku sedikit merasakan bau softener dari bajunya.

“Tolong lepaskan saya, tidak pantas rasanya anda mempermainkan seorang laki-laki dewasa dengan cara seperti ini.”

Tak ada suara. Namun, pelan dia membuka kedua tangannya. Hatiku berdebar seketika. Menengoknya dingin tanpa turun dari motorku.

Astagfirullahhal’adziim…Ummi?!”  teriakku kaget. Dia tersenyum meledek, disusul gadis kecil yang terburu-buru menaiki motorku dan Cuuuup…cuup…muaah, menciumku bertubi-tubi. Aku menatap keduanya dingin, lalu mencubit pipi kedua ibu dan anak itu gemas.

“Selamat milad Abi…,” ucap kedua belahan jiwaku itu bersamaan. Huufff…Alhamdulillah…perempuan itu ternyata bukan perempuan lain.[]

Catatan: cerpen ini pernah dimuat di tabloid dwi mingguan Apa Kabar Indonesia di Hongkong, 2011.

Tentang Penulis

Mell Shaliha, atau bisa dipanggil dengan nama lengkap Ermawati. Kelahiran Gunungkidul, 29 Januari. Alumni SMK Negeri 4 Yogyakarta. Saat ini bekerja sebagai pendidik Paud, motivator kepenulisan dan novelis. Beberapa cerbung dan cerpennya telah terbit di media lokal Jogja maupun koran Indonesia yang terbit di Hongkong. Tujuh Novel yang sudah terbit Xie Xie Ni de Ai (Diva Press, 2011), Crying Winter (Diva Press, 2011), Novel Komedi (Sinar Kejora. 2013), Love’s Direction (Sinar Kejora. 2013), Big Time Passion (Sinar Kejora. 2013), The Dream in Taipei City (Indiva Media Kreasi, 2014), novel anak Rumah 1000 Dongeng (Diva Press, 2014), Novel A Simple Secret Love (Indiva Media Kreasi, 2019),  Antologi Kisah Ramadhan di Luar Negeri  (Qibla, 2014), dan lain-lain. Sangat menyukai kegiatan membaca, menonton, jalan-jalan, berorganisasi, dan memasak.  Penulis bisa disapa melalui email: mellsshaliha2901@gmail.com, Facebook: Mell Shaliha, atau Twitter: @mellshaliha.

Leave a Reply

Your email address will not be published.