PESAN KAOS OBLONG

Cerpen Faruk HT

Pesan Kaos Oblong

BONBIN[1] geger. Pada sekitar jam 09.00, ketika Bonbin mulai penuh dengan mahasiswa yang nongkrong, makan, minum, ngobrol di bangku-bangku yang tersebar di dalamnya, Parjo, salah satu crew Mbak Tentrem tiba-tiba menyapa semua orang.

“Selamat pagi, Mas-mas, Mbak-mbak, Bapak-bapak dan Ibu Dosen serta Karyawan Fakultas, kalau ada. Mohon perhatiannya sebentar, boleh nggak?”

Ngopo kowe, Jo? Sok pejabat!” salah seorang berkomentar.

“Ada apa, sih? Mau kawin, ya?” yang lain ikut nimbrung.

“Kepilih jadi ketua RT, barangkali.”

Parjo terpaksa berhenti sebentar menerima komentar-komentar itu. Sambil mesam-mesem.

“Begini, lho. Tadi pagi, aku nemu kaos oblong di gerobak. Siapa yang punya?”

Oalah, ternyata cuma itu.”

“Ambil aja, Jo. Langsung. Kok, pake diumumkan segala.”

“Sok jujur.”

Parjo berhenti lagi. Cengengesan. Ngambil kaos yang dimaksud di atas meja. Membentangkannya ke hadapan semua orang, ke kiri ke kanan ke depan ke belakang. Muter.

“Ini lho, barangnya.”

“Wow, keren. Barang mahal, Rek.”

“Kanggo aku aja, Jo!”

“Nah, iya, kan?” Parjo melanjutkan. “Saya nggak berani ngambil karena barang ini mahal. Nggak cocok untuk saya. Kalau make, malah dicurigai. Nyolong ngendi Parjo kuwi?!”

“Itu pantasnya untuk aku, Jo. Bawa sini!”

“Sini aja, Jo!”

“Nanti dulu!” Parjo tiba-tiba bicara lagi dengan agak tegas. “Kaos oblong ini nggak bisa sembarangan diserahkan kepada orang lain.”

“Sok, kamu, Jo!”

“Jual mahal!”

“Gini, lho,” kata Parjo lagi. “Waktu kutemukan tadi pagi, kaos ini tergulung. Begitu kubuka gulungannya, ternyata ada secarik kertas di dalamnya. Kertas itu ada tulisannya. Pesan dari yang punya, mungkin. Ditujukan sama mereka yang berminat memilikinya. Sayang di kertas itu tidak ada tanda tangan dan nama yang nulis”

“Wah, ini baru kejutan.”

“Kayak cerita detektif.”

“Jangan-jangan dari Tuhan!”

“Ngaco!!!”

“Baca, Jo, baca!!”

“Ya, ini, saya mau bacakan saja suratnya,” Parjo bicara lagi sambil senyam-senyum. “Eh, nggak, ding. Nanti, kalau saya yang baca, malah jadi nggak jelas. SD aja nggak lulus, je. Siapa yang mau baca?” Parjo bertanya sambil mengibarkan secarik kertas itu ke depan umum.

“Ayu! Dia pemain teater. Juara deklamasi!”

“Jangan. Jangan Ayu. Kan itu kaos laki-laki. Pasti yang ngirim ya laki-laki!”

“Acun!”

“Ngapain, Acun? Dia kan nggak bisa main teater?”

“Tapi, gayanya kan kayak Emha. Jago ngerayu lagi!”

“Ya, sudah. Acun.”

“Maju, Cun!”

Acun maju. Ngambil surat itu. Mau baca. Nggak jadi. Lihat kaos. Pegang-pegang kainnya. Lihat mereknya. Menudingkan jempol ke umum. “Siiip! Kaosnya apik tenan!”

“Wis, baca, disik!”

“Baik, aku akan baca. Minta gaya Emha apa gaya Rendra apa gaya Pak Djoko Pradopo?”

“Asem! Baca wae, Cun. Terserah kowe. Gaya Janaka ngerayu Srikandi ya boleh!”

“Baik aku akan baca. Gayanya gaya Tata Dado aja, ya?”

Sak karepmu!”

“Teman-teman warga komunitas Bonbin yang baik. Perkenalkan saya mahasiswa baru, angkatan tahun ini. Saya bukan mahasiswa yang rajin ke Bonbin, bukan warganya. Tapi, saya punya masalah yang saya kira hanya Anda semua yang bisa menyelesaikannya. Jadi, izinkan saya minta tolong pada Anda, atau pada salah seorang dari Anda semua.” Acun mengambil napas setelah berkeringat menekak-nekuk lidah dan tubuhnya gaya banci. Kemudian melanjutkan bacaannya.

“Kaos oblong yang saya tinggal di Bonbin ini adalah kaos kesayangan saya. Saya beli begitu saya baca pengumuman bahwa saya diterima jadi mahasiswa di universitas ini. Jadi mahasiswa tentu saja idaman saya sejak lama. Saya bayangkan, jadi mahasiswa itu enak. Saya bebas dari seragam yang mengurung saya selama dua belas tahun, dari SD sampai SMU. Saya akan bisa berpakaian bebas semau saya. Lalu, saya beli kaos oblong ini. Saya tidak menyentuhnya sama sekali selama dua bulan sejak beli. Pada hari pertama kuliah, baru saya memakainya.”

“Kecian, deh, lu,” seseorang berkomentar.

“Romantis banget,” celethuk yang lainnya.

“Tapi, saya sungguh kaget dan kecewa begitu masuk kuliah,” Acun melanjutkan. “Waktu mengurus KRS saya ditolak oleh dosen pembimbing saya. Katanya, mahasiswa yang memakai kaos oblong dan sandal jepit tidak dilayani untuk berurusan dengan fakultas. Saya diminta keluar, pulang, dan ganti pakaian dulu. Baru, katanya, boleh menghadap dosen, melanjutkan urusan. Hik….

“Huuu…, ditambahi sama Acun!”

“Biarpun kecewa, saya tidak keluar dari kuliah. Saya akan terus kuliah di sini demi orang tua.” Acun meneruskan, seakan tak mendengar komentar pendengar. “Tapi, saya tidak mau lagi memakai kaos ini. Saya simpam di rumah. Saya pajang sebagai kenangan indah dan sekaligus pahit. Namun, ternyata, menyimpan kaos ini tidak menyelesaikan masalah saya. Setiap kali melihatnya, hati saya sakit. Seakan segala mimpi anak SMU saya menguap dan lenyap, sia-sia.”

“Siapa, ya orangnya yang nulis ini? Kelihatannya cerdas dan puitis.”

“Jangan-jangan penyair terkenal?”

“Sutardji, mungkin?”

“Ngawur!”

Prekk!!!” Acun merespons para komentator. Nggak pake suara banci. “Maka, saya memutuskan untuk menyerahkannya ke Bonbin. Saya punya dua harapan pada warga Bonbin dalam hal ini. Pertama, saya bebas dari kenangan pahit yang terus mengganggu saya. Kedua, saya berharap di antara Anda atau Anda semua mampu membantu saya membebaskan fakultas dari larangan pake kaos oblong dan sandal jepit. Bukan demi saya sendiri saja, tapi juga demi angkatan-angkatan berikutnya dan kita semua, saya harap.”

“Gila, le!” Acun sendiri yang memberi komentar. “Bonbin ditantang!”

“Teruskan saja, Cun!” salah seorang pendengar menghentikan komentar Acun dengan wajah serius.

“Koas ini saya berikan pada siapa saja yang mau membantu saya dalam hal itu,” Acun melanjutkan. “Wassalam.”

***

Formasi ruang Bonbin tiba-tiba berubah. Empat gerobak yang sebelumnya berada di bawah atap Bonbin, bergeser ke luar, ke jalan setapak yang mengelilinginya. Bangku-bangku Bonbin yang semula membentuk kelompok-kelompok kecil yang tersebar, yang masing-masing berpusat di sebuah meja panjang membentuk posisi pengunjung yang saling berhadapan satu sama lain, eksklusif, berubah menjadi melingkar, menempatkan semua pengunjung yang duduk menghadap ke satu pusat, yaitu ruang tengah bonbin. Ruang tengah bonbin itu sendiri kosong. Hanya ada satu benda yang tergantung di atasnya: kaos oblong yang menjulur, bergoyang-goyang di tiup angin.

Bonbin berubah menjadi semacam ruang diskusi dengan formasi meja-kursi yang melingkar dengan kaos oblong sebagai pusatnya. Pengunjung datang satu demi satu. Tidak ada yang tampak kaget di antara mereka melihat perubahan ruangan itu. Beberapa orang mulai memesan minuman dan makanan dari gerobak-gerobak yang tersebar di sisi luar ruangan. Parjo, Nardi, Tentrem, Pak Kadin, anak perempuan Pak Kadim, dan kru-kru Bonbin lainnya melayani mereka seperti biasa. Hilir-mudik meramu minuman, makanan, mengantar, ngobrol pendek dengan pemesan, dan seterusnya.

Begitu bangku-bangku tampak penuh, Erwan, mahasiswa filsafat yang tampaknya berposisi sebagai pimpinan diskusi mulai bicara, dengan tiga buku tebal tergeletak di meja tempat duduknya.

“Selamat pagi, teman-teman!”

“Pagi!” jawab peserta serempak.

“Apa kabar?”

“Baiiik!!!”

“Segera mulai saja. Nggak usah basa-basi segala!” seseorang nyletuk.

“Baik. Kita mulai saja. Tapi, sebelumnya, saya ucapkan terima kasih untuk teman-teman yang hadir. Terutama mereka yang sudah mau membolos kuliah untuk acara ini. Terima kasih juga untuk Mbak Tentrem dan lain-lain. Yang bersedia digusur keluar, mau berlelah-lelah usung-usung, untuk suksesnya acara kita hari ini.”

“Aku mbolos satu kuliah saja. Jangan molor. Ndang mulai!”

“Ya, teman-teman. Seperti teman-teman tahu, peristiwa kaos kemarin berakhir tanpa adanya yang ngambil kaos itu.”

Wis ngerti!

“Bukan karena tidak ada yang berani mengambilnya di antara kita,” Erwan melanjutkan. “Tapi, karena kaos itu akhirnya kita jadikan milik bersama. Semacam pesan untuk warga komunitas Bonbin secara keseluruhan.”

“Ya…, hidup Bonbin!!!”

“Selama ini, kita cenderung dianggap sebagai kumpulan orang tak berguna. Hanya hura-hura, makan-minum, pacaran, mabuk, atau entah apa lagi.”

“Enak aja!”

“Tapi, tanpa kita duga, ternyata ada yang menaruh kepercayaan dan harapan pada kita. Ada yang mengingatkan kita bahwa ada masalah di sekitar kita. Dan, kita ditantang untuk berbuat sesuatu, mengatasi masalah itu.”

“Boon biin, eh. Hidup bonbin!!”

“Mahasiswa Indonesia sudah punya record yang hebat di sepanjang sejarah negeri ini. Sejak Sumpah Pemuda, Revolusi Kemerdekaan, tumbangnya Orde Lama, bangkitnya Orde Baru, sampai peristiwa reformasi yang baru lalu, mahasiswa menempati posisi dan peran terpenting, teman-teman.”

“Hidup mahasiswa!”

“Mahasiswa adalah pelopor gerakan moral di negeri ini. Pejuang tanpa pamrih. Inovator dalam berbagai pembaruan kehidupan berbangsa dan bernegara. Semua orang tahu itu. Dan, kita sendiri sepenuhnya sadar akan peran kita itu. Betul, kan, teman-teman?”

“Betuuul!!!”

“Emangnya Zainuddin Mz!”

“Hampir dalam semua masalah yang ada dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini kita terlibat secara aktif dan kreatif. Betuul???”

“Romo Mangun, dong!!!”

“Arief Budiman!!!”

“A.A. Gym!!!”

“Apa hubungannya???”

“Tapi, ternyata ada hal yang kita lupakan selama ini. Sebuah masalah yang tampaknya sepele. Tapi, sebenarnya sangat strategis bila kita mau memandangnya jauh ke depan. Masalah itu adalah masalah dalam kampus kita sendiri, teman-teman. Salah satunya masalah kaos oblong kemarin. Terima kasih Saudara pemilik kaos oblong yang sudah mengingatkan kita akan masalah ini. Saya harap Anda mendengar ucapan terima kasih kami ini. Di mana pun Anda berada!” Erwan menoleh ke kiri dan ke kanan. Melihat agak lama ke tempat parkir di sebelah selatan Bonbin. Yang lain ikut-ikut menoleh, bertanya-tanya dalam hati.

“Kemarin kita sudah sepakat menjadikan kaos oblong itu simbol perjuangan kita dalam pembangunan kehidupan sosial-politik dan budaya kampus. Kaos oblong itu menjadi misi kita. Benar???”

“Begitu sabda Tuhan pada mulanya!”

“Demi Marx dan Engels!”

“Gramsci!!!”

“Mbak Tentrem!!!”

“Iya, demi Mbak Tentrem!!!” beberapa orang mendukung yang terakhir. Serempak.

“Demi pecel dan bakso!!!”

“Tahu kupat Damarjati!!!”

“Kalau saya… Susilooo Bambaaang Yudhoyonooo!!!”

“Hidup moncong putih!!!”

“Nah, sekarang kita tinggal menetapkan langkah kita. Menyelesaikan masalah kaos oblong itu. Mari kita fokus mendiskusikannya.” Erwan melanjutkan setelah tersenyum melihat respons yang bermunculan tidak keruan di atas. “Ada pendapat?”

Seseorang mengangkat tangan. Bicara tanpa suara. Disusul suara seorang lainnya juga tanpa suara. Lalu, Erwan menanggapi tanpa suara pula. Kembali ke forum. Dan, seterusnya. Mereka tampak berdebat serius. Tuding sana, tuding sini. Semuanya berlangsung tanpa suara dan bergerak dengan cepat.

***

Formasi ruang Bonbin kembali seperti semula. Kaos oblong yang kemarin tergantung masih tetap di tengah-tengah ruang, tergantung, melambai-lambai, bergoyang ke kiri dan ke kanan. Tapi, ada lagi pemandangan baru di lingkungan itu. Di setiap jalan masuk terpampang sebuah papan nama dengan tulisan berikut.

MEREKA YANG TIDAK MEMAKAI KAOS OBLONG DAN SANDAL JEPIT, TIDAK DILAYANI DI RUANG INI

Pengunjung datang satu demi satu. Beberapa di antara mereka berhenti di pintu masuk. Memandang ke atas. Membaca. Tersenyum. Bercakap-cakap sambil kemudian melanjutkan langkah masuk ke bagian dalam. Duduk. Pesan makanan atau minuman. Ngobrol asik. Sampai Bonbin akhirnya penuh seperti biasanya.

Tapi, di tengah keasyikan para pengunjung yang masuk, duduk, datang dan pergi itu, tiba-tiba, dari arah FIB tampak seorang dosen, dengan pakaian safari abu-abu, berjalan menuju Bonbin. Wajahnya tampak keras dan serius. Langkahnya tampak tegap dan cepat.

“Ssttt…,” seseorang yang sedang duduk menghadap barat bicara pada banyak orang. “Kawan-kawan, lihat tuh,” katanya lagi sambil menoleh ke arah barat kembali. “Pak Basuki tampaknya mau kemari. Gejalanya sih ada masalah!”

“Wow, jelas, dong! Dia tidak akan kemari kalau nggak lagi marah!”

“Masalah apa, ya?” Ayu yang duduk di pojok timur-selatan bertanya lirih pada teman-teman semejanya.

“Pasti masalah papan nama itu, deh,” Vidya menyampaikan dugaannya.

“Kan baru saja dipasang. Dari mana dia tahu?” Ayu membantah.

“Biasalah. Di mana-mana ada orang yang dua muka. Juga di bonbin ini. Pasti ada yang lapor.”

“Iya, ya,” Ayu membenarkan dengan wajah ragu, heran, sedikit tidak percaya.

“Siapa yang pasang papan-papan itu?!” terdengar suara keras yang memecahkan keheranan Ayu dan mengubahnya menjadi ekspresi terkejut dan kemudian sedikit takut. Suara itu ternyata berasal dari Pak Basuki yang segera bergaung begitu ia sampai di muara Bonbin bagian barat.

“Semua orang menoleh ke arah datangnya suara itu. Tak ada yang menjawab sampai ketika Ginting yang duduk di sisi barat berdiri dan memberi tanggapan.

“Ada apa, Pak?” tanyanya sopan tapi dengan suara yang berat seperti biasanya suara orang Batak.

Pak Basuki menoleh sebentar pada Ginting. Tapi, dengan cepat ia menoleh kembali lurus ke depan, ke arah banyak orang.

“Siapa yang pasang papan-papan itu?” Pak Basuki mengulangi pertanyaannya. Kepalanya yang botak tampak berkilat oleh keringat.

“Saya, Pak!” Ginting bersuara lebih keras. Ia tersinggung tidak ditanggapi Pak Basuki.

Pak Basuki seperti tersentak mendengar jawaban Ginting yang langsung itu. Ia tidak menduga sebelumnya dan terpaksa menoleh ke arah mahasiswa asal Batak tersebut. Mereka yang sedang jajan di Bonbin itu juga terkejut. Mereka pun tak menyangka Ginting berani mengaku langsung tentang papan itu. Perhatian mereka menjadi terarah ke Ginting dan Pak Basuki yang sama-sama berdiri berdekatan.

“Kamu?” tanya Pak Basuki kemudian dengan wajah yang masih tidak bisa menyembunyikan rasa kaget dan herannya.

“Iya, Pak,” kata Ginting mantap.

“Kamu siapa? Saya nggak pernah lihat kamu di FIB. Apa kamu mahasiswa?”

“Iya, Pak. Saya mahasiswa.”

“Mahasiswa FIB?” Pak Basuki bertanya dengan wajah ragu, tak percaya.

“Bukan, Pak. Saya mahasiswa filsafat,” jawab Ginting. Wajahnya tampak mengeras dan membayangkan sikap nekadnya.

“Ooh, filsafat,” Suara Pak Basuki sinis. “Apa maksudmu dengan tulisan di papan itu, hei filosof?!” Pak Basuki bertanya sengak, membuat wajah Ginting yang hitam tampak merah.

“Untuk senang-senang aja, Pak. Emangnya kenape?” Ginting mulai tersenyum tapi nada hormatnya pada sang dosen lenyap. Badannya tampak lebih relaks, siap bermain-main. Dan, beberapa pengunjung jadi ketawa cekikikan meski lirih melihatnya.

“Senang-senang?!” Pak Basuki tampak muntap melihat sikap dan nada bicara Ginting. “Apakah ini rumah nenek moyangmu, bisa kamu pakai senang-senang seenakmu?!”

“Katanya sih, iya, Pak,” Ginting kembali tersenyum cengengesan sambil menoleh ke teman-teman mahasiswa di sekitar yang juga mulai cengengesan.

“Kamu tahu, papan itu mengarah langsung ke FIB???” Pak Basuki tambah marah. Tubuhnya seakan bergetar.

“Nggak, tuh,” jawab Ginting santai.

“Papan itu menantang aturan di FIB. Apa alasanmu membuat tulisan seperti itu?!”

“Nggak ada tuh, Pak. Orang saya nggak tahu ada aturan gitu di FIB. Masuk ke wilayah FIB saja seumur-umur saya belum pernah. Iya, nggak teman-teman?” Ginting kembali menoleh teman-temannya sambil mengedipkan mata. “Tuh mereka saksinya, Pak,” lanjutnya sambil menunjuk ke teman-temannya itu. “Alasan apa? Mungkin kebetulan saja bunyinya mirip, Pak.”

“Saya nggak percaya itu kebetulan!” Pak Basuki tetap bicara dengan nada tinggi. “Pasti ada orang dalam yang menyuruh kamu. Nanti saya teliti lebih jauh. Awas!” Pak Basuki mengancam, berbalik, dan segera melangkah cepat kembali ke FIB.

Langkah Pak Basuki diikuti gemuruh tepuk tangan mahasiswa yang ada di Bonbin.

“Hebat kamu, Ginting!”

“Hidup Ginting!!”

“Jayalah Bonbin!!”

***

Ayu melenggang santai menuju Bonbin. Tubuhnya yang tipis-kecil seperti melayang di udara, dihembus angin menuju tempat jajan mahasiswa itu. Seperti biasa, pada jam 8.30 seperti itu, Bonbin sudah ramai. Tapi, ada yang agak aneh dalam pandangan Ayu. Tidak tampak ada gelas-gelas minuman di meja. Teman-temannya tampak mengelompok di satu meja. Ada yang duduk, ada yang berdiri. Ayu melangkahkan kakinya lebih cepat. Sesampai di gerobak Mbak Tentrem yang memang ada di sisi barat, ia lihat gerobak itu kosong. Barang-barang dagangan masih tetap berada dalam keranjang-keranjang, tergeletak di lantai. Sementara, para crew Mbak Tentrem tampak duduk termangu. Wajah mereka mengekspresikan rasa sedih bercampur cemas dan takut. Ayu berlari menuju gerombolan teman-temannya yang berkumpul di pojok timur-utara itu.

“Ada apa? Lagi ngapain? Kenapa warung-warung belum pada buka?” Ayu langsung memberondongkan pertanyaan dan tubuh kecilnya mendesak masuk ke dalam lingkaran teman-temannya itu. Wajah mereka tampak mengeras. Sedang diskusi serius sehingga seperti tidak mendengar pertanyaan Ayu. Mahasiswa FIB tahun kedua itu terpaksa diam dan menguping saja.

“Sama sekali nggak fair! Dosen itu kan intelektual. Universitas lembaga rasional, objektif, liberal, demokratis. Perbuatan mereka sama sekali nggak bisa ditolerir, deh! Kita harus berbuat sesuatu.” Tampak Acun bicara menggebu. Ayu bingung, nggak tahu kemana arah pembicaraan itu. Tapi, dia kali ini bisa bersabar. Semua orang tampak tegang. Dia nggak mau nimbrung lebih dulu.

“Yang harus kita perjuangkan lebih dulu adalah mereka,” Erwan mengajukan usulnya. “Mbak Tentrem dan kawan-kawannya. Kita harus lapor lembaga yang lebih tinggi. Rektor. Masa orang kecil yang tak bersalah malah dijadikan korban. Mereka kan nggak ada sangkut-pautnya dengan urusan kaos oblong kita. Kok malah diancam tidak boleh jualan.”

“Kukira cara itu tidak akan efektif,” Vidya menimpali. “Rektor pasti melindungi koleganya. Mereka setali tiga uang. Bukankah sudah lama universitas ingin menutup Bonbin. Malah soal ini bisa jadi alasan mereka. Lebih baik kita mengalah.”

Semua orang memandang Vidya. Wajah mereka tampak jengkel.

“Mengalah? Batak macam apa kau ini, Vidya?!” Ginting mengungkapkan kejengkelannya.

“Ah, Abang. Jangan bawa-bawa Bataklah di sini. Ini soal mahasiswa. Intelektual. Bukan urusan marga atau semacamnya. Sabarlah dulu. Aku belum selesai bicara!”

“Aku juga nggak setuju sama Vidya,” Indah nimbrung. “Ngapain kita harus mengalah?”

“Lalu, kau mau apa, Indah?” Vidya menyangkal. “Urusan rektor itu butuh waktu panjang. Ketemu saja belum tentu bisa dalam dua tiga hari ini. Rektor kan lagi sibuk ngurus BHMN dan Research University-nya. Sementara itu, Mbak Tentrem dan kawan-kawan terpaksa kehilangan mata pencarian. Apalagi, kalau nanti hasilnya nihil.”

“Kita kan harus coba dulu, Vidya,” Acun melibatkan diri. “Nggak ada salahnya, kan?”

“Itulah mentalitas Indonesia,” Vidya bicara lagi. “Semuanya serba coba-coba, improvisasi. Otonomi daerah improvisasi. BHMN improvisasi. Apa kita mau ikut-ikutan orang-orang tua yang bodoh kayak gitu?”

“Apa hubungannya kaos oblong sama mentalitas Indonesia segala. Aku nggak ngerti, kemana pikiran Vidya ini?” Ayu tiba-tiba berkomentar. Ia kehilangan kesabarannya begitu mulai mengerti masalah yang sedang mereka bicarakan.

“Ah, kau, Ayu. Baiknya nggak usah ikut-ikutan, deh. Ini bukan soal asmara!” Vidya langsung nyamber ke Ayu. Ayu diam. Tahu diri. “Begini lho maksudku itu, teman-teman,” Vidya melanjutkan. “Sebelum melakukan sesuatu, kita pikirkan matang-matang kemungkinan hasil dan akibat-akibatnya. Kekuatan musuh, kekuatan kita. Cara yang diusulkan sama Erwan tadi lemah. Banyak risikonya.”

“Risiko apaan, tuh?” Ayu kembali nimbrung.

“Pertama, yang kubilang tadi. Jalan yang kita tempuh akan panjang, berbelit-belit. Korbannya Mbak Tentrem dan kawan-kawan. Kedua, juga sudah kubilang tadi. Rektor kemungkinan besar akan melindungi koleganya dan permintaan kita ditolak. Ketiga, kalaupun kita menang, ada risiko lain yang akan langsung mengarah ke kalian. FIB malu. Nilai kalian bisa anjlok. Lalu, kalian jadi mahasiswa abadi. Berani?” Vidya memutari wajah teman-temannya. Semua terdiam, tampak mulai ragu. Vidya melanjutkan: “Sudah. Kita ngalah aja. Lepas papan-papan itu. Minta maaf, kalau perlu.”

“Wah, sia-sia, dong semua yang kita usahakan sejauh ini,” Acun bicara. “Usul Vidya itu sama saja menyuruh kita melepaskan misi yang sudah kita sepakati kemarin. Mengatasi masalah yang ada di sekitar kita. Termasuk kaos oblong itu!”

Semua tampak diam. Berpikir keras. Menimbang-nimbang kembali apa yang dikatakan Vidya dan Acun. Mengingat kembali peristiwa-peristiwa dan tekad yang mereka bulatkan kemarin.

“Tidak, kawan-kawan,” Vidya melanjutkan. Kita hanya mundur selangkah atau dua langkah. Mencari jalan lain untuk maju kembali dengan misi kita itu. Misi itu tidak boleh dibuang. Sama sekali tidak.”

“Gimana caranya?” Ayu masuk lagi. “Emangnya gampang menjalankan lagi misi itu. Rasaku sudah buntu semua jalannya.” Ayu bergumam, seakan bicara sendiri.

“Gini saja. Sekarang giliranku. Aku punya ide. Tapi, rahasia. Yang kuminta dari kalian hanya rasa percaya bahwa aku mampu melanjutkan misi kita itu. Gimana?” Vidya kembali menatap mata teman-temannya satu per satu. Semua memandang padanya dan kemudian mengangguk meskipun dengan wajah ragu.

“Baik. Vidya melanjutkan. Langkah pertama, kita berbagi kerja. Yang laki-laki segera ke FIB untuk minta maaf dan mencabut papan-papan itu. Siap?”

“Yah, siap, deh,” kata mereka hampir serempak meski tetap lirih dan penuh ragu.

“Yang kedua, teman-teman perempuan bergabung sama aku. Nanti siang kita kumpul, menentukan langkah melanjutkan misi kita itu. Oke?”

“Nggih Bendara-Inang Vidya,” yang perempuan menyahut.

***

“Hayoo, lagi pada ngapain?” Acun membuka percakapan begitu duduk di hadapan Ginting, Bayu, dan Erwan yang sudah duduk sebelumnya di meja pojok timur.

“Eh, Cun, kamu sudah dengar, nggak aksi Vidya? Gila deh anak itu,” Erwan menjawab.

“Ngapain dia?” Acun bertanya.

“Vidya dan kawan-kawan di FIB sekarang. Mereka mau menghadap Pak Basuki. Katanya, mau ikut mengaku salah dan minta maaf.”

“Lho, kan kita sudah mewakili semuanya kemarin? Ngapain lagi merendah-rendahkan derajat kaya gituan?”

“Nggak tahu, dia,” Ginting nimbrung sambil tersenyum.

“Emangnya ngapain?”

“Justru dengan melakukan itu Vidya sedang melanjutkan misi kita,” Ginting melanjutkan.

“Apa hubungannya?”

“Mereka berangkat dengan pakaian rapi, mengikuti aturan fakultas. Memakai rok warna hitam yang tingginya di bawah lutut, memakai baju hem putih bersih, bahkan pakai dasi kupu-kupu segala.”

“Itu sih bukan melanjutkan misi namanya. Tapi, menyerah habis-habisan!” Acun menanggapi sinis.

“Jangan potong dulu, Cun,” Bayu ikut angkat bicara. Memang pakaian mereka patuh penuh pada aturan. Tapi, ada yang bisa mengganggu dosen-dosen moralis dan penuh sopan-santun itu.”

“Apanya?”

“Baju putih mereka semua tipis kelihatan bagian dalamnya. Padahal, isi di balik baju itu….”

“Hahaha…,” Acun tiba-tiba meledak, tertawa terkekeh-kekeh. “Aku tahu, aku tahu,” lanjutnya. “Yang paling serem pasti aja Vidya sendiri. Iya, kan? Goeedhe banget, provokatif. Hahaha…!!!”

“Jangan ketawa dulu, Cun,” Erwan menghentikan ketawa Acun. “Kita juga harus melakukan sesuatu, mendukung Vidya dan kawan-kawan.”

“Apalagi?” tanya Acun. “Kan semua sudah beres?”

“Belum, Cun. Biar gerakan Vidya lebih kuat, kita perlu pasang kembali papan-papan yang kemarin.”

“Oalah. Itu namanya bikin bencana lagi untuk Mbak Tentrem dan kawan-kawan. Masa nggak belajar dari pengalaman, sih, kamu, Wan!” Acun agak jengkel.

“Tulisannya ganti, dong. Yang tidak langsung nantang FIB.”

“Apa?”

“Gini: MAHASISWI YANG MEMAKAI BEHA ENGGAK DILAYANI DI TEMPAT INI.” []


[1] Bonbin adalah nama sebuah kantin di Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Catatan: cerita ini adalah karya Faruk HT kedua yang ditampilkan web ceritamu.net, sebelumnya sebuah cerita berjudul “Slaqe” pernah disuguhkan untuk Anda pada edisi 8 Agustus 2019.

2 Replies to “PESAN KAOS OBLONG”

Leave a Reply

Your email address will not be published.