SEMAR TUMBAL

Cerber R. Toto Sugiharto

Bagian Kedua Puluh Enam

SATU – dua menit tiada yang terlihat akan tampil. Baru beberapa detik kemudian, memasuki menit ke tujuh, mulai muncul seorang lelaki tampan. Ouh, dialah “Sadewa”. Ouh, disusul seorang lagi dengan ketampanan nyaris seimbang, “Nakula”. Kedua kesatria kembar itu spontan berlari-lari kecil menuju panggung. Maklum jarak antara panggung dengan posisi mereka lumayan jauh.

“Ayo, Raden Nakula. Raden Sadewa. Hidup Pandawa…!” seru pengunjung ber-koor.

“Yang lain mana? Ayo, mana Raden Bimasena? Juga, Prabu Yudhistira? Raden Arjuna? Ke mana kalian?”

“Ya, ke mana mereka?”

Suara pengunjung bersahutan minta disahut dan dipenuhi.

Untuk beberapa saat sepi. Sedetik kemudian suasana mulai gaduh lagi. Saat itu  muncul seseorang berdiri dari jongkoknya. Ribuan pasang mata sepakat menatap sosok itu. Memang gagah. Tapi, ternyata dia bukan salah seorang dari tiga tokoh yang ditunggu-tunggu kemunculannya itu. Dia bukan Yudhistira, bukan pula Arjuna, dan apalagi Bima.

Maka, ribuan orang pun kecewa dengan menyerukan bibirnya ber-huuuu bersama-sama.

Sang pembawa acara tidak kurang akal. Untuk mengisi kevakuman di panggung, karena “Nakula” dan “Sadewa” belum juga angkat bicara. Sang pembawa acara pun memanggil-manggil nama ketiga anggota Pandawa.

“Berikutnya kepada Prabu Yudhistira alias Pandu Dewanata, juga kepada Raden Bimasena, serta Raden Arjuna, dimohon kesediaannya untuk segera tampil di atas panggung guna menyampaikan klarifikasi persoalan yang akhir-akhir ini membuat situasi genting di Amarta. Silakan untuk tempat dan kesempatannya kami serahkan sepenuhnya kepada ketiga kesatria Pandawa yang akan menggenapi dari dua yang sudah ada di atas panggung, yaitu Raden Nakula dan Raden Sadewa. Terima kasih…!” ucap sang pembawa acara lantang.    

Dan, tiba-tiba sorai sorai bergemuruh dari arah samping kanan tengah. Dari arah tersebut muncul dua orang yang berdiri berdekatan. Mereka adalah “ Yudhistira” dan “Arjuna”. Lalu, disusul beberapa detik kemudian, dari arah kanan belakang panggung, muncul sosok lebih besar lagi, yaitu “Bimasena”.

Gemuruh suara pengunjung pun membahana. Alun-alun Amarta dipenuhi gemuruh pengunjung. Mereka mengelu-elukan tokoh idola. Sanjungan dan pujian menggelontor dari mulut pengunjung. Nyaris tiada yang tampil beda di antara ratusan ribu kepala pengunjung. Semua mengekspresikan perasaan sama. Kegembiraan, keriangan, kebanggaan, dan kekaguman.

Tapi, tunggu. Ada beberapa kepala yang bermain ekspresi. Bersandiwara. Mereka seakan-akan turut bergembira, ikut bangga, serta mengagumi Pandawa. Padahal, mereka memendam misi hendak menghancurkan Pandawa. Pertama, kelompok kerumunan di depan bawah panggung. Diam-diam mereka mulai menggelar alas untuk duduk. Kemudian, mereka terang-terangan duduk-duduk dengan santai sambil kepala menengadah menghadap panggung setinggi pinggang orang dewasa itu. Semula orang-orang di sekitarnya hanya tertarik mengikuti ulah sekelompok kerumunan itu. Mereka ikut duduk-duduk dan berjongkok di sebelah menyebelahnya. Memang ternyata lebih enak mendengarkan pernyataan klarifikasi dengan duduk dibanding sambil berdiri. Minimal bisa mengurangi otot kaki menyangga tubuh dan kepala. Selain itu, konsentrasi dalam mendengarkan suara kesatria “Pandawa” yang bergantian itu juga lebih mudah dikondisikan. Mungkin karena kebetulan tempatnya juga berdekatan dengan sumber informasi dan narasumbernya.

Mereka pun bisa menyimak pernyataan yang dibuka oleh “Yudhistira” bahwa prinsipnya, mereka merasa prihatin mencermati dan merasakan peristiwa yang terkait dengan upaya mendiskreditkan ketokohan Semar selaku Panakawan. Karenanya, dia sebagai wakil dari keluarga “Pandu” mengajak rakyat Amarta untuk bahu membahu dengan menolak segala bentuk penghancuran citra dan martabat Semar dan termasuk pula keluarga Pandu.

“Untuk saya pribadi, biarlah orang lain mendiskreditkan saya. Menghancurkan nama dan citra serta martabat saya. Tapi, saya atau kami selaku keluarga besar Pandu tidak akan merelakan bila yang didiskreditkan, yang dihancurkan citra dan martabatnya adalah Semar Badranaya. Apakah kalian juga merelakannya…?” teriak “Yudhistira” dengan suara mantap dan penuh wibawa.

“Tidaaak…!” teriak sebagian rakyat Amarta yang memperhatikan dengan serius.

Teriakan itu pun disambut oleh bagian kerumunan rakyat Amarta di belakang dan sebelah menyebelahnya. Dalam sekejap suara yang sama sebagai respons atas solidaritas rakyat segera membahana. Tentu kecuali kerumunan di depan bawah panggung yang tidak menghayati teriakan tersebut.

“Yudhistira” pun surut. Menyusul “Arjuna” maju selangkah dari barisan Pandawa yang berjajar itu. Dengan suara lantang dan menggelegar, “Arjuna” pun membakar semangat rakyat Amarta, “Salam sejahtera, wahai Rakyat Amarta Raya….!”

Serentak suara rakyat pun menggemuruh, “Salam sejahtera…!”

“Hendaknyalah dijauhkan dari bahaya….!” sapa “Arjuna” menegaskan salamnya.

“Hendaknyalah dijauhkan dari bahaya…!” sahut suara rakyat serentak.

 “Terima kasih. Rakyat Amarta Raya yang berbahagia dan tentu juga yang tengah menjalani hidup prihatin. Kita prihatin oleh cobaan yang menimpa Semar Badranaya yang memiliki kemuliaan sebagai Sang Hyang Ismaya. Kita prihatin. Dan, kami menyampaikan pula terima kasih dan rasa optimis melihat sebagian rakyat, sebagian besar tentunya, dari kalangan rakyat yang menggalang dukungan melalui “Koin Peduli Semar”. Dan, apabila kemudian di kalangan rakyat terpecah-pecah menjadi entah berapa kubu, maka sesungguhnya hal itu hanya bersifat sementara. Karena, setelah kita berdiri di sini, kami mengklarifikasi hal yang sebenarnya, kita menyatukan pendapat dan kekuatan kita kembali. Utuh sebagai rakyat Amarta. Bagaimana, rakyat Amarta… setujuuu…!”

“Setujuuu…!”

“Terima kasih…!”

“Arjuna” pun surut dari posisinya yang terakhir kembali ke posisi semula.

Sementara itu, di bawah depan panggung, kerumunan massa tadi mulai membuka “kalangan” alias arena perjudian. Alas seadanya digelar. Kartu dikocok dan uang mulai ditebar. Perjudian dimulai. Orang di kanan-kiri “penjudi tiban” itu mulai resah. Mereka saling menunggu kanan-kirinya untuk menyikapi para “penjudi liar” itu. Lalu, salah satu di antara orang-orang itu mulai menggertak dan meminta “para penjudi” mengakhiri permainan. Tapi, tuntutan tersebut diabaikan. Mulailah terjadi saling dorong dan baku colek dan meningkat menjadi tamparan dan tonjokan-tonjokan.

Pada saat bersamaan, muncul dua sosok berpengaruh di Amarta. Yakni, “Kresna” dan “Gatotkaca”. Entah kerasukan jin atau makhluk halus penunggu Amarta sebelah mana, mendadak mereka berdua meloncat ke atas panggung. “Kresna” menyalami “Yudhistira”, “Bima”, “Arjuna”, “Nakula”, dan “Sadewa”. Diikuti “Gatotkaca” yang juga menyalami kelima keluarga besar Pandu itu. Selang beberapa detik berikutnya, “Kresna” dan “Gatotkaca” tanpa basa-basi lagi langsung menghajar kelima “Pandawa” itu. Masing-masing kesatria itu mendapat giliran pukulan, jotosan, hantaman dan cakaran-cakaran serta sentakan dan gebrakan ataupun tendangan, baik dari “Kresna” maupun “Gatotkaca”. Tentu saja “Yudhistira, “Bima”, “Arjuna”, “Nakula”, dan “Sadewa” mencoba melawan namun hantaman demi hantaman menghunjami mereka terus menerus.  

Sedangkan di bawah depan panggung juga terjadi keributan. Para penjudi berkelahi dengan “aparat keamanan”. Beberapa penjudi amatir itu dipukuli dengan tongkat pemukul sepanjang ukuran setengah panjang lengan orang dewasa. Tapi, kejadian penggerebekan itu tidak lama. Berikutnya, orang-orang  yang berjudi bersama “aparat keamanan” naik ke panggung. Mereka ternyata ikut-ikutan menghajar “Pandawa”, membantu “Kresna” dan “Gatotkaca”.

Tanpa disangka-sangka, “Pandawa” tidak menyangka akan menerima hunjaman pukulan dan cercaan sedemikian rupa. Lebih heran lagi. Mereka melihat pelakunya dikoordinasi oleh “Kresna” dan “Gatotkaca”. Keluarga “Pandawa” itu menganggap “Kresna” dan Gatotlaca” benar-benar yang asli. Sebaliknya, “Kresna” dan “Gatotkaca” juga menganggap “Pandawa” yang dihajar mereka juga anggota “Pandawa” yang asli. Alasannya, pertama materi yang disampaikan kepada rakyat sangat normatif ala Pandawa. Kedua, bila diberi kesempatan mengklarifikasi, “Pandawa” bisa kembali naik daun dan dipuja-puja rakyat Amarta. Tentu saja keadaan akan merugikan mereka. Karena itulah, maka “Kresna” dan “Gatotkaca” mengambil tindakan supercepat dengan menghajar “Pandawa” yang tengah berdiri di panggung.

Hiruk pikuk itu berubah menjadi heboh dan huru-hara. Rakyat bingung melihat kejadian itu. Mengapa Kresna dan Gatotkaca menghajar Pandawa? Mengapa penjudi dan aparat keamanan juga tidak melindungi Pandawa atau melerai perkelahian saudara itu?

Maka, rakyat pun tunggang langgang membubarkan diri dari pertemuan itu. Ada yang lari ke kanan. Ada juga yang ke kiri. Ada yang iseng ke atas panggung ikut memanfaatkan situasi. Ada pula yang hanya bengong sembari menunggu kesempatan situasi mereda.

Kacau balau. Keadaan pun berantakan. Bangku dan meja berhamburan patah dan terbalik posisinya. Tanaman hias pemercantik panggung juga hancur berhamburan. Umbul-umbul sobek di sana sini dan berjatuhan.

Di kejauhan, ada beberapa sosok berjubah hitam mencermati keadaan. Apabila ada di antara mereka yang berdiri dan bersikap seperti beberapa sosok berjubah hitam itu, maka kiranya mereka pun dapat menilai, cara yang dipakai “Kresna” dan “Gatotkaca” yang kemudian disusul dan ditunggangi kerumunan dan “aparat keamanan” itu jelas bukan cara dan sikap kesatria Pandawa. Artinya, “Kresna” dan “Gatotkaca” dan “aparat keamanan” itu pasti juga bukan identitas sejati mereka masing-masing. Dengan kata lain, mereka adalah gadungan atau orang lain yang menyamar. Tujuannya sama, penghancuran terhadap citra dan martabat Pandawa.

Tetapi, bukankah dengan demikian, bagi “Pandawa” yang dikeroyok hingga babak belur dan belakangan juga melakukan perlawanan adalah juga belum tentu Pandawa sejati? Bisa saja mereka adalah “Pandawa” alias orang lain yang juga meminjam sosok Pandawa.

Entah sampai kapan huru-hara dan kekacauan itu akan berakhir. “Pandawa” yang mendapat serangan dari “Kresna” dan “Gatotkaca” dan dibantu sekelompok orang tidak jelas itu masih mencoba bertahan dan sesekali melakukan perlawanan. Sampai akhirnya karena mereka menyadari diri sudah terdesak, maka serentak pula kelima anggota keluarga “Pandu” itu melesat, kabur untuk menyelamatkan diri dari penganiayaan “Kresna”, “Gatotkaca”, dan sekelompok massa tak beridentitas dan juga beratribut ala “aparat keamanan” itu. Yang penting saat itu adalah menghindar dari serangan lebih ganas lagi.

“Kresna” dan “Gatotkaca” pun merasa di atas angin. Maka, kesempatan itu dimanfaatkan oleh mereka. Serentak setelah melihat “Pandawa” lari tunggang langgang, mereka pun surut dan memberi aba-aba kepada “kawanan penjudi” dan “aparat keamanan” tadi untuk tetap mengejar “Pandawa” sampai mereka ditangkap dan diadili.

 “Saudara-saudaraku, rakyat Amarta semuanya…! Tenang…! Saudara-saudara sudah berada di bawah kendali kami. Saudara-saudara dijamin aman. Perlu kami jelaskan, bahwa para kesatria yang baru saja menjelaskan apa itu yang mereka beri istilah klarifikasi itu adalah bohong belaka. Jurstru mereka itu adalah para Pandawa gadungan. Mereka itulah yang menjadi bagian dari yang mendiskreditkan Semar Badranaya. Tapi, saudara-saudara sekarang boleh tenang kembali. Di tangan kami, Prabu Kresna dan Gatotkaca keadaan kembali terkendali…,” teriak “Kresna” dengan suara berapi-api.

“Horeee…!” rakyat pun termakan oleh ucapan tersebut dan merasa aman kembali.

“Jangan-jangan kalian juga gadungan…!” tiba-tiba terdengar celetukan dari sebelah kiri depan bawah panggung.

“Yaaa…!”

“Huuu…!”

“Sama saja…!”

Kemudian diselingi tawa keras dari sebagian besar pengunjung itu.

“Apa?! Kalian menuduh kami gadungan?!” tantang “Kresna” lantang.

“Jangan-jangan…!”

“Siapa tahu…!”

“Silakan buktikan…!”

“Apa jaminannya…?”

“Negara Amarta. Kalau kami terbukti gadungan, kuserahkan Istana Amarta dan negara ini kepada kalian untuk mengelolanya…,” tantang “Kresna” lebih lantang.

“Huuu…. Sama sajaaa…!”

“Sama saja bagaimana…?”

“Kalian berani dihukum…?”

“Dihukum…?”

“Ya, kalau terbukti kalian gadungan, kalian harus dihukum. Berani?”

“Siapa takut?” tantang “Kresna”.

Lalu, di antara orang-orang itu timbul tanya, bagaimana cara menguji kesejatian dua sosok di atas panggung itu?

Tiba-tiba seseorang seperti menemukan ide. Diam-diam dia mengambil sebongkah batu. Benda itu sebesar sekepalan tangannya. Dia pun menggeser kedudukannya agar mudah melemparkan batu itu ke atas panggung. Setelah mendapatkan tempat yang dianggap paling strategis, segera ia pun melontarkan batu itu ke arah “Kresna” di atas panggung.

Wusssht…!

“Kresna” mendengar desir angin dibawa atau membawa benda padat. Benda itu mengarah ke dirinya, melayang dari sisi kanan tubuhnya. Maka, secepat kilat bola matanya mengerling dan menangkap gelagat benda padat itu dan lebih cepat dari kerling matanya, tangannya sudah menyambut benda padat itu sebelum sempat menyentuh bagian tubuhnya. Claaap!

Batu sudah di genggaman tangan kanannya.

Pengunjung terpana. Mereka belum sepenuhnya menyadari akan apa yang telah terjadi dan dialami serta dilakukan “Kresna” di atas panggung.

“Beginikah cara kalian menguji kesejatian identitas Kresna?” teriak “Kresna” lantang dan membahana.

Pengunjung terdiam. Suasana sunyi. Beberapa detik lamanya hingga mereka seakan-akan bisa saling mendengar cara bernapas masing-masing.

“Terima kasih! Sebuah ujian yang surprise!”

“Ada lagi?!” teriak “Gatotkaca yang sedari awal tetap berdiam diri.

Wusssht!

Sebuah benda padat kali itu melayang dari arah kanan panggung. Kali itu giliran “Gatotkaca” yang meladeni lemparan itu. Berbeda keadaannya dengan yang dialami “Kresna”, posisi “Gatotkaca” lebih menguntungkan dirinya. Maka, melebihi gerakan “Kresna”, gerakan “Gatotkaca” pun dilakukannya dengan diselingi improvisasi. Saat itu, waktu benda padat tadi nyaris mengenai tubuh “Gatotkaca” maka kesatria itu meringankan tubuhnya mengambil sikap melayang bagai bersiap-siap terbang. Maka, begitu benda padat itu menyentuh tubuhnya, ia pun bersengaja bersikap bagai mendapat serangan hebat. Tubuhnya sengaja melayang ke belakang beberapa depa sembari ia mengaduh, “Aaah, ampuuun…!”

Pengunjung pun terpana kembali. Kali itu keterpanaan mereka diselingi rasa khawatir bila terjadi sesuatu yang melukai “Gatotkaca”.

“Ampuuun! Tidak apa-apa, tuh?” teriak “Gatotkaca” dengan suara keras dan lantang.

Pengunjung pun terbahak-bahak.

Kembali “Gatotkaca” membuat hiburan untuk pengunjung. Batu itu dikepal-kepalkan seperti tukang pembuat penganan menggulung-gulung tepung terigu. Lalu, perlahan-lahan batu itu berceceran tinggal kerikil dan pasir lembut di genggaman tangannya. Lalu, “Gatotkaca” menepuk-nepuk telapak tangannya dengan dua telapak tangannya bagai sedang bertepuk tangan.

Ulah “Gatotkaca” itu mendapat sambutan meriah. Rakyat pun beramai-ramai bertepuk tangan.

Keadaan normal kembali. Rakyat pun merasa lebih aman. Setidak-tidaknya mereka merasa sudah diberi jaminan oleh dua sosok di atas panggung itu bahwa mereka adalah kesatria Pandawa yang sejati.

Mendadak sebuah benda lebih besar melayang. Kecepatan benda itu melebihi gerak kilat dan petir. Bahkan, mata “Kresna” dan “Gatotkaca” pun tidak mampu menangkap dan mengidentifikasi benda tersebut. Warnanya hitam. Ukurannya seperti seukuran tubuh orang dewasa. Lalu, apa motif sosok tadi atau benda tadi melayang? Kalaupun benda tadi adalah benda padat yang dilemparkan, apakah motif pelemparnya? Kalaupun benda tadi sosok manusia seperti mereka, apa motifnya?

Ouh, tunggu! “Gatotkaca” seperti menerima sesuatu. Benda itu menempel di kotangnya. Selembar kain putih. Ouh, tunggu! Lihat! Ada tulisan di kain putih itu. Kain putih itu sobekan dari salah satu umbul-umbul.

“Pahlawan gadungan!”

Roman muka “Gatotkaca” pun memucat. Ia terdiam untuk beberapa detik.

“Kresna” segera mengatasi keadaan. Direbutnya kain itu. Jangan sampai mereka terlihat berubah warna muka dan penampilan.

“Ayo, dibaca keras-keras. Apa isi pesannya?”

“Tenang! Sebentar! Dengarkan ya…” teriak “Kresna” tetap lantang.

“Kain ini berisi pesan… pahlawan gadungan…! dengar?!”

“Dengar…!”

“Apa?!”

“Pahlawan gadungan….!”

“Pandawa gadungan…!”

Bersamaan dengan kegaduhan itu terjadi lagi aksi pelemparan benda padat. Batu sekepalan tangan orang dewasa. Batu lagi. Kerikil. Maka, panggung pun penuh dengan lontaran benda padat. Ada pula alas kaki.

“Kresna” dan “Gatotkaca” mulai terlihat tidak dapat mengatasi keadaan. Lontaran batu dan alas kaki semakin banyak dan tidak mungkin lagi dapat dikendalikan. Mereka pun mulai terlihat emosi. Mereka mengeluarkan jurus dan ilmu masing-masing. Maka, semakin terlihat bahwa jurus dan ilmu itu bukan yang dimiliki “Kresna” dan “Gatotkaca”. Kedua sosok itu mulai melontarkan kembali batu-batu alas kaki dan apa pun yang hendak menyentuh tubuh mereka. Benda-benda itu terlontar kembali ke arah pengunjung. Ada banyak orang yang terkena lontaran balik itu. Ada yang meraung-raung dan lari terbirit-birit menghindari lontaran. Tetapi, sebagian besar rakyat juga semakin berang. Mereka semakin menemukan alasan untuk menghajar “Pandawa” gadungan itu. Mereka pun berkesimpulan bahwa “Kresna” dan “Gatotkaca” di atas panggung juga tidak lebih dari sosok-sosok gadungan yang mencoba memanfaatkan emosi rakyat Amarta itu.

Keberangan menjadi keberingasan. Lontaran benda-benda semakin gencar dilemparkan dari pihak rakyat Amarta. Tak ayal lagi, “Kresna” dan “Gatotkaca” tidak mampu mengimbangi kekuatan rakyat Amarta. Apa boleh buat? Mereka pun menghentakkan kaki untuk kabur dari gelanggang itu.

Beberapa sosok berjubah hitam di barisan paling belakang, jauh dari panggung masih mengamati dan mencermati keadaan. Sebenarnya hanya ada enam atau tujuh sosok berjubah hitam itu. Bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Tapi, karena banyak pula sosok berpakaian hitam maka seakan-akan banyak sosok yang sama yang menempatkan posisi sama, mencermati keadaan.

Sosok-sosok itu masih berdiam diri. Tiada komentar dan gumaman dari mulut masing-masing. Tetapi, begitu mereka melihat “Kresna” dan “Gatotkaca” kabur, dua sosok berjubah hitam itu spontan melayang untuk mengejar dua sosok gadungan itu.

***

Pengejaran terhadap “Yudhistira”, “Bima”, “Arjuna”, “Nakula”, dan “Sadewa” sudah mencapai perbatasan negeri Amarta dengan Hastinapura. Mereka lari terpisah-pisah. Keadaan tersebut tanpa dipikir, telah merugikan mereka. Dengan terpecah atau terpisah-pisah maka tiada kekuatan lagi di antara mereka. Untuk melawan pun mereka harus berpikir seribu kali. Tidak aneh bila kemudian kawanan penjudi dan “aparat keamanan” tersebut berhasil meringkus mereka.

Satu per satu tokoh “Pandawa” itu diikat kedua lengannya. Kedua mata mereka pun masing-masing diikat dengan kain hitam. Tetapi, anehnya, bukannya mereka dibawa ke Amarta, melainkan ke arah Nusarukmi. Kawanan penjudi dan “aparat keamanan” tersebut masing-masing menyandera satu tokoh “Pandawa”. Ada lima kereta berkuda yang dipakai untuk membawa tahanan tersebut.

“Kalian melakukan hal yang salah,” desis “Yudhistira” masih menahan sakit.

“Hush! Diam!” sergah salah satu penyandera.

“Siapa yang menyuruh kalian melakukan ini?” tanya “Arjuna” mencoba mengorek informasi dari para penculik itu.

“Jangan banyak tanya!” gertak pimpinan penyandera.

“Apa yang kalian lakukan ini sungguh konyol…!” geram “Bima” jengkel.

“Diam! Nanti kamu juga tahu!” sergah salah satu kawanan yang menyaru sebagai “aparat keamanan” sambil mengencangkan ikatan kain penutup mata.

Kulit wajah “Bima” berkerutan menahan tegangan akibat tekanan pada kain hitam itu.

Berbeda dengan ketiga keluarga “Pandu” itu, “Sadewa” dan “Nakula” hanya berdiam diri saja. Tapi, seperti telah menjadi kesepakatan bersama, “saudara kembar” itu mulai mengeluarkan suara berdehem dan batuk-batuk kecil. Dehem dan batuk-batuk itu dilakukan berulang kali. Mereka memang tidak terlihat memberontak, tetapi suara-suara dari mulut mereka akhirnya dirasakan menganggu para penyandera itu.

“Hei! Diam! Kalian tahu, kami minta tebusan apa?” gertak salah satu penyandera yang bertubuh paling besar.

“Aku memang baru batuk. Apa tak boleh?” bela “Nakula” sengit.

“Aku ngerti batukmu itu cuma main-main! Diam! Tak perlu alasan!” gertak penyandera lebih sengit.

“Hei! Kamu! Dan kamu! Kalian belum jawab pertanyaan kakakku tadi, sebenarnya kami minta tebusan apa?” sergah kawan penyandera yang bertubuh tinggi dan ceking.

“Sadewa” dan “Nakula” tetap berdiam diri. Bahkan, ia tidak lagi mengeluarkan suara dehem dan batuk lagi.

“Apa coba? Kuizinkan kalian bicara!” gertak penyandera itu.

“Kalian minta Amarta?” bisik “Nakula” sinis.

Para penyandera di dalam kereta berkuda itu terbahak-bahak.

“Kamu pikir kami materialistis! Negeri kami sudah lebih makmur dibanding negerimu!” sahut penyandera bertubuh paling besar.

 “Nakula” dan “Sadewa” memilih diam. Memang hanya akan sia-sia bila mereka bersitegang. Buang-buang energi dan pikiran. Lebih baik bersitegang dengan sesama pimpinan dari pada berdebat dengan gedibal alias bala dupak seperti kawanan penyandera kelas bawah itu.

“Baiklah! Sepertinya kalian hilang selera menjawab pertanyaanku.”

“Tak berselera atau bodoh?”

“Nakula” dan “Sadewa” tetap diam dan bersabar.

(Bersambung….)

Leave a Reply

Your email address will not be published.