SEMAR TUMBAL

Cerber R. Toto Sugiharto

Bagian Ketujuh

SEMAR TUMBAL

SEMAR sebenarnya heran, mengapa Sutadangsa yang baru saja bertemu dan belum mengenal dirinya kok sudah berani mengajak bekerja bareng? Bukankah biasanya dalam adat kebiasaan manusia, mereka yang baru pertama kali ketemu belum langsung berani mengajak bekerja bersama? Lha, ini namanya Sutadangsa dan Nayadangka kok begitu saja langsung menawarkan pekerjaan buatnya? Otak Semar dirundung tanya, tapi ia ragu mengutarakannya. Tapi, aah, daripada dipendam mungkin lebih baik disampaikan. Juga, itung-itung buat mengakrabkan diri, “eh, anu, Sutadangsa…,” tutur Semar masih ragu.

“Yup! Ada apa, Panyukilan?”

“Mengapa sampean begitu saja percaya sama saya? Saya ini kan orang dusun pelosok. Bodoh lagi.”

“Ooh, itu. Begini, Panyukilan. Alasannya adalah, karena kami ini, saya dan Nayadangka juga berasal dari Nusarukmi.”

“Ooh, begitu ya? Wah, kita bertetangga, ya?” sahut Semar. Tapi, Semar meragukan keterangan Sutadangsa. Karena, bukankah tadi Nayadangka justru bertanya di mana Kerajaan Nusarukmi itu? Otak Semar mempertanyakan kontradiksi itu. Ooh, mungkin pertanyaan itu juga sebagai cara menguji pengetahuan Semar tentang Nusarukmi. Siapa tahu Semar hanya berbohong, asal menyebut nama. Aah, daripada penasaran dan menimbulkan pertanyaan di benak, lebih baik disampaikan saja, begitu batin Semar. Maka, Semar pun mengajukan pertanyaan lagi, “Tapi tadi kok Nayadangka tak mengerti letak Nusarukmi?”

“Oouh, itu. Aah, itu hanya pura-pura saja, Panyukilan. Nayadangka orangnya memang begitu. Pura-pura bodoh.”

“Padahal, memang guobluok…!” sahut Nayadangka melucu.

Semar dan Sutadangsa pun terbahak-bahak. Mereka bertiga melangkahkan kaki dengan mantap. Sutadangsa dan Nayadangka pasti senang mendapat kawan kerja baru. Artinya, punya harapan baru untuk mencapai efektivitas dan optimalisasi kerja. Semar pun sangat senang karena langsung dipercaya membantu Sutadangsa dan Nayadangka. Dia tidak perlu bersusah payah melamar pekerjaan. Tidak perlu mengikuti tes seleksi. Tidak perlu menyuap. Tidak perlu menjilat.

Sesampai di pasar kota, Sutadangsa dan Nayadangka merangkul Semar untuk masuk ke pasar itu. Rupa-rupanya mereka sengaja membawa Semar ke los pakaian. Di sana kemudian Sutadangsa mempersilakan Semar memilih baju, celana, dan keperluan lain terkait perlengkapan sandang. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Semar pun diajak ke los sepatu dan sandal. Sutadangsa membebaskan Semar memilih sepatu dan sandal dari berbagai merk dan bentuk.

“Aduuh, ini benar-benar luar biasa. Lha wong belum kerja kok sudah diberi perlengkapan mewah seperti ini?”

“Ini namanya fasilitas dari kami, Panyukilan.”

“Lalu, tugas saya apa?”

“Nanti kita briefing. Sekarang yang penting sampean masuk ke bilik mandi untuk ganti pakaian. Sekalian mandi saja, Panyukilan.”

Maka, Semar mampir di toko kelontong dan membeli sabun serta perlengkapan mandi. Lalu, Sutadangsa membawa Semar ke bilik mandi di sudut belakang pasar.

Di dalam bilik mandi, Semar berkaca. Ia pangling dengan wajahnya sendiri. Ouw, begitukah Semar dalam wajahnya sebagai manusia biasa? Ouh, manusia, manusia… seperti inikah cara kalian hidup? Batin Semar bertanya-tanya.

Aih, Panyukilan… sebenarnya tidak terlalu jauh perbedaannya yang tengah dialami Semar. Sebagai Panakawan, Semar sebenarnya juga tidak lebih sebagai manusia. Hanya saja, sifat-sifat kedewaan masih melekat dalam diri Semar. Nah, sekarang Semar sebagai Panyukilan, sifat-sifat kedewaan itu sengaja ditanggalkan dari diri Semar. Dan, ia sudah tahu sifat-sifat ke-Semar-an baru dipakai Bagong. Semar tersenyum menyadari keadaan dirinya yang berbeda itu. Seperti ada perasaan asing yang menyelimuti dirinya. Entah perasaan apa itu. Itukah perasaan autentik sebagai manusia? Aah, Panyukilan pun juga rikuh menggunakan jasad Semar.

Entah berapa menit Semar di dalam bilik mandi. Kalau saja tidak ada yang menggebrak-gebrak pintu bilik dari luar, Panyukilan pasti masih keenakan di dalam mematut-matut diri.

Beberapa detik Semar mengamati dan mencermati bayangan dirinya di cermin. Bayangan itu bukan dirinya. Ia adalah Panyukilan. Sedangkan dirinya tetap Semar? Aah, tidak juga. Ia adalah Panyukilan. Maka, ia pun menyapa bayangan dalam cermin itu, Panyukilan, selamat menjadi manusia. Selamat atas pekerjaanmu yang baru, bisik Semar.

“Ngapain saja di dalam? Ngorok ya?!” bentak seorang perempuan gembrot sewot.

“Maaf, Mbakyu.”

“Maaf Mbakyu. Emang aku mbakyumu?” keluh perempuan itu.

Panyukilan tersenyum pahit. Agaknya si gembrot sudah menunggu lama di luar. Agaknya si gembrot hendak buang hajat besar, sampai menahan-nahan perutnya hingga kesakitan.

Panyukilan mencari-cari Sutadangsa dan Nayadangka. Ternyata mereka sedang melihat-lihat arloji berkalung. Keduanya membelakangi Panyukilan. Maka, Panyukilan menghampiri mereka dengan diam-diam. Setelah dekat Panyukilan pun menyapa, “Cari arloji, Ki Sanak?”

Sutadangsa dan Nayadangka serentak menoleh. Melihat Panyukilan tampil beda, mata mereka pun membelalak.

“Wow? Tak salah lagi, Panyukilan?!” seru Sutadangsa.

“Wah, hebat. Kelihatan sembilan belas tahun lebih muda! Swear!” seru Nayadangka.

Panyukilan terkekeh-kekeh, “Mbok digenapi dua puluh tahun lebih muda gitu lho?” gurau Panyukilan.

Lho, yang setahun buat aku,” sahut Nayadangka.

Mereka bertiga pun terbahak-bahak.

“Ayo, sekarang kita briefing,” ajak Sutadangsa.       

Kemudian Sutadangsa membawa Panyukilan sebuah pos ronda di sudut pasar. Di pos itu kebetulan sepi. Padahal, biasanya pos ronda dijadikan tempat istirahat pedagang dan pembeli yang lelah. Mungkin karena hari juga belum terlalu siang dan tidak juga gerah.

 “Nah, di sini saja. Begini, Panyukilan. Pertama, kami mengucapkan terima kasih atas kesediaan sampean bergabung dengan kami. Lalu, mengenai pekerjaan kita, di sini dapat saya utarakan, bahwa kita ini sebagai pemberi jasa. Pemberi layanan. Lalu, siapa klien kita? Mereka adalah debitur. Orang yang berutang. Tugas kita adalah menagih kepada para debitur. Ini butuh ketegasan dan kedisiplinan.”

“Juga profesionalitas,” sambung Nayadangka.          

Yup! Profesionalitas. Artinya, kita benar-benar dituntut hanya untuk mengejar target. Tidak lebih dari itu. Tidak ada pertimbangan-pertimbangan lain.”

Panyukilan mulai paham. Dagunya manggut-manggut.

“Paham, Panyukilan?”

“Ya, saya ngerti. Kita ini juru tagih.”

“Nah, itu. Tepat sekali!”

Mereka pun terbahak-bahak.  

“Sekarang juga, tugas kita mulai. Panyukilan bersama Nayadangka. Aku  sendiri. Nanti kita hitung siapa di antara kita yang dapat tagihan lebih banyak. Itu nanti kita dapat insentif dari juragan kita. Oke?”

“Oke!” sahut Panyukilan mantap.

Nayadangka langsung sigap. Panyukilan pun mengimbanginya. Sebelum turun perintah kedua, Nayadangka sudah pamitan pada Sutadangsa, “Oke. Selamat bertugas. Ayo, Panyukilan. Kita berangkat!”

Panyukilan sigap dan menyeru, “Siap!”

Nayadangka dan Panyukilan melenggang mantap. Sutadangsa juga mantap melangkah. Arah mereka berbeda. Nayadangka dan Panyukilan ke utara. Sutadangsa ke selatan.

Sambil berjalan, Nayadangka menguraikan tugas mereka. Untuk hari pertama itu, Panyukilan hanya diberi kesempatan menemani Nayadangka. Dari tugas yang dikerjakannya nanti Panyukilan diharapkan bisa mempelajari dan akan mengetahui tugasnya yang akan dikerjakannya sendiri esok harinya. Panyukilan sepakat.           

Sampailah mereka di sebuah rumah besar dan megah. Mulut Nayadangka mencocor, katanya, meskipun rumah itu besar dan mewah, tapi pemiliknya banyak utang. Karena itu, rumah itu selalu kelihatan kosong tanpa penghuni. Alasannya, pemiliknya baru ada urusan bisnis di luar kota. Bahkan, kadang-kadang mengaku sedang ke luar negeri. Alasan itu tentu saja hanya untuk jaga gengsi dan menyembunyikan diri dari kelemahan ekonominya itu. Suatu kali, karena sudah tidak punya uang lagi di dompet, sedangkan tuan rumahnya baru kabur untuk menghindari tagihan, istrinya terpaksa menjual seperangkat mebel. Caranya, mereka memanggil jasa angkut peralatan rumah tangga. Lalu, kereta kuda pengangkut itu sengaja dimasukkan ke dalam gerbang. Lalu, gerbang itu ditutup. Dan, mulailah seperangkat mebel, meja kursi dan almari diangkut. Dari penjualan mebel itu mereka bisa melanjutkan hidup.

“Tapi, hari ini sudah kelewat dari masa jatuh tempo. Kita tak bisa menolerir mereka. Lihat apa yang aku lakukan nanti,” bisik Nayadangka mendengus.

Panyukilanmengangguk-angguk. Matanya masih takjub memandangi kemegahan rumah mewah itu. Benarkah apa yang dikatakan Nayadangka? Separah itukah kehidupan seseorang di Nusarukmi? Hanya ingin tampil menawan tapi keropos di dalam.

Wahai manusia, betapa malang dirimu…?

“Ngomong-omong, apakah kamu juga punya utang?” bisik Nayadangka.

Panyukilan terkekeh-kekeh, “Aku tidak. Tapi, istriku punya.”

Nayadangka tertawa serak, “Berarti bisa dibilang, kamu juga punya utang.”

Panyukilan terkekeh-kekeh dan mengangguk-angguk, “Memang kalau sama istri, uangku ya uang istriku. Utang istriku ya utangku.”

“Tapi, utang suami ya tanggung sendiri….,” seloroh Nayadangka.

Panyukilan terkekeh-kekeh, “Bukankah itu seperti negara yang berutang, lalu rakyatnya yang menanggung?” desisnya.

Nayadangka terbahak-bahak, “Berarti utangnya negara ya utangnya kita. Sampean juga, kan?”

Berdua pun terbahak-bahak. Tapi, tawa Nayadangka hanya sebentar. Tiba-tiba ia seperti memikirkan sesuatu. Sikap Nayadangka itu mengundang tanya Panyukilan.

“Kenapa?” bisik Panyukilan.

Nayadangka ragu mau bicara.

“Ada sesuatu yang aneh?!”

Nayadangka menggeleng, “Entahlah. Tiba-tiba aku sadar, baru kali ini aku bisa tertawa lepas saat menjalankan pekerjaan rutin.”

“Biasanya bagaimana?!”

“Biasanya tertawa itu pantangan. Jangankan tertawa. Senyum saja bisa ditendang Kang Sutadangsa.”

“Oya?!”

“Ya, karena memang begitu standar penampilan kami. Pantang tersenyum. Tak boleh ramah kepada sembarang orang.”

“Ooh, aku tahu maksud sampean. Terutama kepada klien, kan?”

“Ya.”

“Tentu saja. Kalau sampai mereka melihat senyum sampean, mereka bisa mempermainkan sampean.”

“Betul. Jadi, artinya, mulai detik ini kamu mesti mengurangi senyuman dan tawamu. Tahu maksudku?”

Panyukilan terhenyak, “Ya, aku tahu.”

“Bagus!”

Maka, Nayadangka memantapkan lenggang kakinya. Panyukilan pun mengimbangi di sebelahnya.

Dalam sekejap pintu gerbang rumah mewah itu sudah di depan hidung mereka. Tangan Nayadangka dengan cepat dan sigap mengetuk pintu itu, “koncreng… koncreng… koncreng…!

Bunyi gemerincing lonceng seukuran setengah telapak tangan orang dewasa itu digoyang-goyang jemari Nayadangka yang kekar.

Tak lama kemudian terdengar derik besi beradu dan digeser untuk membuka pintu gerbang itu.

“Selamat siang! Di mana Tuanmu?”

“Anu, Tuan baru di… di…,”

“Di dalam, kan? Panggil segera. Aku yang datang.”

“Bukan, Tuan. Maksud saya, di luar kota.”

Alah, alasan klise. Sudah bosan aku mendengar kebohonganmu. Katakan yang sebenarnya.”

“Anu Tuan, lha wong perintahnya begitu kok.”

“Naaah, kan! Apa kubilang! Aku sudah nggak percaya lagi sama Tuanmu itu.”

“Tapi, bener, Tuan. Tuan saya nggak ada di dalam.”

“Terus, tidur di mana dia semalam?”

“Biasa, Tuan. Di…”

“Rumah istri mudanya?”

Pembantu itu mengangguk-angguk.

“Nyonyamu ada, kan?”

Pembantu itu menggeleng.

“Ada atau ada?”

“Tuan ini bagaimana, sih? Lha wong dibilang nggak ada.”

“Kamu belum bilang apa-apa kok.”

“Tapi aku sudah geleng-geleng, kan?”

“Itu kan bisa dipahami nggak pergi. Berarti ada di rumah.”

“Tuan ini bisa saja.”

“Kamu juga bisa saja. Seperti Tuan dan Nyonyamu yang sok kaya itu.”

Pembantu itu tertunduk takut.

“Sekarang katakan pada Tuanmu, ada tamu, ini orangnya. Mau ngajak bisnis. Cepat!”

“Lho, kan sudah saya bilang tadi Tuan nggak ada. Tidur di rumah istri mudanya.”

“Maksudku, kamu susul tuanmu di rumah istri mudanya itu. Atau, kamu bisa suruh Nyonyamu. Ini kesempatan kamu sebagai pembantu menyuruh Nyonya rumah yang menjadi juraganmu. Ngerti?”

“Ngerti, Tuan tapi aku nggak mau.”

“Nggak mau bagaimana?”

“Ya, daripada aku malah dipecat. Nanti aku ikut siapa?”

“Wah, repot kalau sudah begini,” keluh Nayadangka salah tingkah. Ia mengerling ke arah Panyukilan, “Nah, ini,.. temanku ini mau mengajak bisnis Tuanmu. Aku sama sekali nggak ikut-ikutan. Bilang saja, atau suruh pembantu yang laki-laki ada, kan?”

“Ada, Tuan, namanya Peno. Tuan pernah suruh dia beli rokok, kan?”

“Aah, nggak tahu! Masa bodoh! Sekarang cepat suruh si Peno itu. Susul Tuanmu dan bilang ada tamu, investor batu permata mengajak bisnis dengan Tuanmu. Cepat!”

“Baik, Tuan. Saya panggil Peno dulu.”

Pembantu itu masuk. Tapi, belum jauh melangkahkan kaki, Nayadangka menegurnya, “Heh, pembantu bego! Apakah kamu nggak mempersilakan kami masuk dan duduk dulu?”

Pembantu menoleh ke arah Nayadangka dan Panyukilan, “Oya, maaf. Silakan duduk dulu. Boleh di taman. Boleh di beranda. Silakan pilih.”

Nayadangka mengambil bangku di taman, “Bagaimana menurut kamu, Panyukilan? Taman ini….”

“Bagus. Indah dipandang mata.”

“Keindahan yang semu.”

“Lho, kenapa?”

Lha wong dari utangan. Kamu bayangkan coba, bangku yang kita duduki ini, rerumputan itu, serumpun bambu kuning dan mungil, bunga-bunga. Semuanya dapat dari utang. Istilah kerennya kredit. Berarti kan keindahan yang semu.”

Betul juga kamu, bisik dalam hati Panyukilan merumuskan, wahai manusia, malangnya nasibmu. Membangun keindahan semu dengan utang.

“Mereka itu nggak adil pada kita, Panyukilan.”

“Sori, kamu bicara tentang siapa?”

“Para debitur itu. Pengutang.”

“Maksudnya nggak adil?”

“Ya, lihat saja. Kalau pas mereka butuh kita, mereka merunduk-runduk. Meminta-minta dipinjami uang. Tapi, begitu menikmati hasil utangan dan waktu ditagih, mereka selalu menghindari kita, menjauhi kita, seakan-akan kita ini hantu. Coba, apa adil sikap seperti itu?”

Panyukilan manggut-manggut.

“Memang, kita juga tahu, utang itu masalah perdata. Itu yang dijadikan dalih mereka. Intinya, ujung-ujungnya kalau bisa ya ngemplang.”

Panyukilan tersenyum menyimak gerutuan Nayadangka.

Peno datang bersama pembantu perempuan, “Tunggu ya, Tuan. Saya jemput Tuan dulu,” kata Peno kepada Nayadangka dan Panyukilan.[]

(Bersambung…)

162 Replies to “SEMAR TUMBAL”

  1. I seriously love your website.. Excellent colors & theme.
    Did you create this site yourself? Please
    reply back as I’m looking to create my own personal site and would like to know where
    you got this from or exactly what the theme is named.
    Kudos!

  2. Pingback: ciprofloxacin hcl
  3. Pingback: generic ventolin
  4. Pingback: viagra samples

Leave a Reply

Your email address will not be published.