SUNGAI DAN PERAHU

Cerita Mini Bambang Widiatmoko

Sungai dan Perahu

SUDAH sejak dua tahun terakhir ini, Pak Karno tampak kehilangan semangat hidup. Tiap hari ia duduk termenung di atas perahu klothoknya. Gelombang Sungai Barito terasa pula mengombang-ambingkan nasibnya. Penghasilannya kian menurun, seiring lajunya derap pembangunan jalan raya antar provinsi di Borneo.

Urang[1] lebih suka bajalan[2] naik bus ke Palangkaraya,” katanya getir.

Memang, sejak jalan beraspal yang menghubungkan kota Banjarmasin ke Kalimantan Tengah terus ditingkatkan, transportasi melalui darat menjadi kian lancar saja. Apalagi jembatan Barito sudah berdiri tegak, maka orang-orang tak lagi repot untuk berpergian.

“Apa Pak Karno kada[3] ingin mencoba mencari pekerjaan lain?” tanyaku.

Kada mungkin. Sudah puluhan tahun ulun[4] menekuni pekerjaan ini,” jawabnya sambil menghisap asap rokoknya dalam-dalam.

Ulun mencintai kehidupan di sungai. Sungai telah menghidupi keluarga ulun selama bertahun-tahun.”

Pak Karno lalu menceritakan kepadaku, bagaimana arus pembangunan demikian pesat tumbuh di kotanya. Pabrik kayu lapis berdiri berjejer di tepian sungai, sambil memuntahkan limbahnya ke sungai. Polusi telah mencemari sungai-sungai.

Tenaga kerja terus berdatangan dari pulau seberang, membuat kotanya menjadi kian padat. Rumah-rumah panggung terbuat dari kayu besi semakin memadati tepian sungai.

Julukan Banjarmasin sebagai kota seribu sungai makin hilang, karena anak sungai berubah jadi daratan, diurug dan dibangun rumah-rumah baru.

Kejayaan Pak Karno sebagai pengemudi perahu klothok, yang melayani trayek Banjarmasin – Palangkaraya sudah berakhir, Kini ia hanya melayani para pedagang membawa hasil bumi ke pasar terapung. Atau sesekali melayani wisatawan yang mencarter perahunya menuju pulau Kembang, hendak bakayuhan[5].

Aku teringat sahabatku, Bang Noorarini. Dia tak tahan lagi mengoperasikan perahu klothoknya, penghasilnya semakin menurun, tak mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Kini dia beralih menjadi tukang ojeg, dengan sepeda motor hasil penjualan perahu klothoknya.

Aku tak sanggup lagi mendengarkan cerita Pak Karno lebih lanjut. Kecintaan pada kehidupan di sungai demikian besarnya. Lingkungan kehidupan di air sudah membentuk kepribadiannya sejak ia masik kanak-kanak.

Kuselipkan uang tambahan buat ongkos sewa perahu klothoknya. Ia terpana menatapku, kulihat dalam bola matanya, keluguan dan kejujuran, meski derita selalu menghadangnya.

Sambil melompat dari perahu ke dermaga, kulihat burung alap-alap menukik menyambar seekor ikan yang menyembul di permukaan Sungai Barito.

Apakah aku juga akan disambar nasib di tengah buasnya kehidupan? []

Catatan:

Cerpen ini dimuat dalam  Antologi Cerpen Mini Elegi Gerimis Pagi  (KSI Award 2002).


[1] urang = orang (bhs. Banjar)

[2] kajalan = pergi

[3] kada =tidak

[4] ulun = saya

[5] bekayuhan = pesiar

Tentang Penulis

Bambang Widiatmoko

BAMBANG WIDIATMOKO, penyair kelahiran Yogyakarta ini  memiliki kumpulan puisi tunggal al. Kota Tanpa Bunga (2008), Hikayat Kata (2011), Jalan Tak Berumah (2014), Paradoks (2016), Silsilah yang Gelisah (2017). Kumpulan esainya Kata Ruang (2015). Sajaknya terhimpun di berbagai antologi puisi bersama al. Deklarasi Puisi Indonesia (2012), Sauk Seloko (2012), Secangkir Kopi (2013), Lintang Panjer Wengi di Langit Yogyakarta (2014), Jula Juli Asem Jakarta (2014),  Negeri Langit (2015),  Negeri Laut (2016),  Pasie Karam (2016), Ije Jela (2016), Matahari Cinta Samudra Kata (HPI., 2016), Sail Cimanuk (2016), Negeri Awan (2017), Kota Terbayang (2017), Hikayat Secangkir Robusta (2017). Negeri Bahari (2018), Kepada Toean Dekker (2018), Pesona Ranah Bundo (2018), Jazirah (2018), Dari Balik Batu-Batu Candi (2019), Cincin Api (2019), dan Negeri Pesisiran (2019).

Karya-karyanya dibahas dalam buku kritik sastra Puisi Indonesia Hari Ini: Sebuah Kritik (Korrie Layun Rampan, 1980), Bahasa Puisi Penyair Bambang Widiatmoko (Sugihastuti, Fakultas Sastra UGM, 1987), Berburu Kata Mencari Tuhan (Gama Media, 2008), Perjumpaan dengan Banten (Kumpulan Esai Wan Anwar, Kubah Budaya, 2011). Bianglala Perempuan dalam Sastra (Sugihastuti, Lembah Manah, 2012), Negeri Api Berlangit Puisi (KSI, 2013).

Cerpennya tergabung dalam antologi Lelaki yang Tubuhnya Habis Dimakan Ikan-ikan Kecil (2017). Ikut menulis di buku In Memoriam Titie Sahid, Jejak Kepergian (2012),  Jaket Kuning Sukirnanto (2014) Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku (2016), Apresiasi Sastra dan Perbincangan Karya (2016), Isu Sosial dalam Puisi (2017). Email bwdwidi@yahoo.com []

Leave a Reply

Your email address will not be published.