SURAT DARI DESA

Cerpen Yonas Suharyono

SURAT Narti kuterima sore kemarin. Pak Unang, sesama karyawan bagian kebersihan menyodorkannya kepadaku dengan mata mengejek. “Tuh, pacar elu minta dikawin. Mangkenye, cepetan elu pulang kampung, kawini dia lalu elu ajak ke sini. Ntar biar dia buka warung ketoprak di sini.”

Ejekan Pak Unang berlalu begitu saja, tak pernah kugubris, seperti datangnya surat Narti yang hampir seminggu sekali. Aku sangat hafal dengan rengekan wanita sedesa yang dulu pernah mampir di hatiku. Dan, semenjak aku disibukkan oleh pekerjaan di kantor ini, bayangan Narti makin hilang. Kelebat Neneng, Euis, Khusnul, dan Susi, teman-teman sekantor silih berganti menggeser Narti, kasihan dia. Maka, aku tidak bernafsu lagi membuka amplop sederhana itu.

“Gimane, jadi pulang kampung? Udah deh, tinggalin aje pekerjaan elu, biar gue infal. Yang penting kawinin itu perempuan! Daripade elu ngedeketin Susi, belum tentu betul-betul demen ame elu. Elu tahu watak Susi, kan? Sama ame Neneng, Euis, Khusnul, Ratna, mate duitan semuenye. Paling-paling morotin duit elu. Begitu duit elu abis, ditendang deh elu.”

Kututup rapat-rapat telingaku dengan helm pengaman agar tidak mendengar kata-kata Pak Unang yang nyerocos bagai tetesan air dari kran yang bocor. Suara deru mesin pabrik membantu menutup telinga dari ejekan Pak Unang, kawan seperjuangan di pabrik paku yang hampir tiga tahun aku geluti.

Narti memang gadis desa yang pintar, manis, dan mungil. Ketika masih sama-sama sekolah di SPG di kota kabupaten, dia adik kelasku. Banyak teman yang berusaha mendekatinya, tetapi selalu mundur teratur karena tidak mendapatkan tempat di hati gadis sederhana itu. Aku termasuk yang enggan mendekatinya karena menyadari bakal mengalami nasib yang sama seperti Istono, Bejo, dan Barjo. Laki-laki seperti Istono terlalu tinggi untuk kujadikan pesaing, namun ternyata ia pun gigit jari. Barjo, si bintang kelas, mati-matian dia mengejar. Namun, Honda CB-nya tak mampu membuat gadis itu tekuk lutut. Kuakui, aku juga menaruh hati kepada Narti, tetapi perasaan itu tak berani kunyatakan dalam bentuk apa pun seperti Istono, Pujo, Barjo, atau laki-laki lain yang berusaha mendekatinya.

“Kang Di, jika surat ini sudah Kakang baca, aku sudah berada di depan murid-murid di tempat aku mengajar. Sekolah itu berada di Desa Sunggingan, desa tetangga, kira-kira satu jam perjalanan. Kakang tahu kan, perjalanan menuju desa itu tidak mungkin ditempuh dengan kendaraan roda dua. Maka, aku harus berangkat pagi-pagi agar tidak terlambat sampai sekolah. Ketika melewati Kali Jomblang, tempat kita dulu sering memancing, aku harus telanjang kaki, baru setelah sampai seberang sepatu itu kupakai lagi. Tak ada yang bakal menegur  ketika aku tidak mengenakan sepatu dinas, atau seragam harian. Jarang sekali, atau bahkan belum pernah ada pejabat dari dinas pendidikan yang mengadakan inspeksi ke sekolah ini selama aku diangkat sebagai guru tetap. Meski demikian aku tetap berusaha rajin dan loyal terhadap pimpinan juga terhadap anak-anak didikku. Bayangan akan mendapatkan tempat mengajar seperti sekolah tempat kita praktik mengajar dulu, pupus sudah. Guru baru harus mau ditempatkan di sekolah pelosok.

“Kang Di, kalau Kakang melihat murid-muridku barangkali Kakang kemudian tidak doyan makan. Mereka tidak berseragam, apalagi bersepatu. Rata-rata mereka mengidap penyakit kulit, karena tempat ini tidak ada air bersih. Jangankan untuk mandi, untuk minum dan memasak saja mereka harus berjalan beberapa kilo meter untuk mendapatkan satu ember air. Satu-satunya tempat yang bisa diandalkan hanyalah Telaga Gadung, telaga yang dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mandi, nyuci, bahkan mengguyang sapi. Belik di bawah pohon gayam itu hanya untuk memasak dan minum.”

Lembar pertama kubaca tanpa tertarik untuk mengenang masa lampau bersamanya.

“Kang Di, aku tahu surat-surat yang kukirim hampir seminggu sekali telah mengganggu ketenangan bekerja Kakang, tetapi demi seorang ibu dan embok camer, kalau boleh kubilang begitu, aku akan selalu mengganggu Kakang dengan surat-surat itu. Tak peduli apa Kakang baca atau Kakang campakkan ke bak sampah, tetapi perasaan yang membebaniku akan hilang meski sesaat. Hampir dua kali dalam seminggu ibumu, camerku itu datang untuk menanyakan kabar Kakang. Dia sangat menunggu Kakang, bukan sekadar uang kiriman Kakang. Maka, pulanglah barang sehari agar beliau tenang, biar rasa kangennya terobati. Jika Kakang enggan bertemu aku, ya ndak usah mampir, yang penting beliau tenang di rumah. Bukan aku enggan bertemu beliau, Kang. Bahkan, aku sangat senang bisa berkeluh kesah dengan ibu calon mertua.”

Kubayangkan wajah embok yang melongo ketika meminta Narti membacakan surat dariku. Selain buta huruf, beliau tidak mempunyai pekerjaan tetap, seperti kebanyakan orang desa lainnya. Beruntung masih ada sepetak kebun peninggalan ayah, sekadar mencari kesibukan. Maka, ketika kuajak Narti bertandang ke rumah, betapa girangnya wanita tua itu. Esok harinya semua tetangga diberi tahu, aku sudah bertunangan dengan gadis cantik bernama Sunarti, anak Juragan Ngabas.

“Sekarang rumah Kakang sudah ditembok setengah badan, sesuai permintaan Kakang. Hanya saja batu bata bagian luar masih kelihatan meringis karena belum diplester. Embok sudah betah di rumah setelah Kakang kirimi pesawat televisi, sehingga sudah tidak lagi nunut nonton ketoprak di rumah tetangga. Sekali waktu kubantu beliau memasak cara sekarang agar Kakang suka makan masakan beliau kalau pas Kakang pulang. Kakang mesti tahu, betapa besar kebahagiaan seorang ibu kalau anaknya yang sudah besar dan berhasil mau makan masakannya. Jangan dikira beliau senang ketika Kakang ajak makan-makan di restoran. Beliau pasti bilang ‘eman-eman’.”

Sejauh inikah keterlibatan Narti dalam keluargaku yang miskin. Aku sama sekali tidak mengerti ketika dia menyatakan perasaannya, “Aku sangat mengagumi Kang Di”. Kemudian, ketika ibu jatuh sakit, saat itu aku kelas tiga, dialah yang rajin menyiapkan makanan dan obat-obatan. Teman-teman bilang, “Narti suka kamu, Di. Mengapa kamu acuhkan? Jarang yang bernasib baik seperti kamu. Itu artinya kamu sedang kejatuhan pulung,” kata mereka. Aku sendiri tidak yakin dia menyukai aku. Yang kurasakan, dia bersimpati dengan keberadaanku yang miskin dan ibu yang sakit-sakitan. Di luar itu, aku sama sekali tidak ingin membayangkan yang terlalu muluk. Aku tak ingin berkhayal dan absurd.

“Kang Di, jika kelak Kakang pulang, tak akan Kakang dapati pohon-pohon jati di Bukit Taji itu. Sekarang, bukit itu gundul. Para penebang suruhan Juragan Jaya, merampas kebun jati milik desa kita itu dengan membabi buta. Bisa dibayangkan bila musim hujan tiba, desa kita bakal kebanjiran. Sebaliknya, pada musim kemarau sudah bisa dipastikan belik-belik dan sendang desa kita akan kekeringan. Lik Karju masih sehat, dia dibelikan bapak sepasang sapi untuk diternakkan. Dia masih jualan bakso di sebelah sekolahan kita dulu, larisnya bukan main. Jadi, kalau Kakang pulang, kita mampir ke warungnya.”

Warung bakso itulah yang mempertemukan aku dengan Narti. Semula aku tidak percaya kalau dia nitip salam lewat Kang Karju. Lelaki itu membisikkan pesan-pesan Narti. “Dia seneng kamu, Di. Tapi, hati-hatilah, bapaknya seorang juragan. Dia tanya, siapa pacar kamu. Lalu kubilang, siapa yang mau dengan anak janda miskin seperti dia. Kemudian dia nitip salam buat kamu, dan kamu diminta menemuinya besok di sini.” Ketika esoknya kutemui dia di warung Kang Karju, dia tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Saat itulah, kusadari ada debaran di dada, entah apa namanya? Aku tak ingin gegabah menyatakan sebagai cinta, aku sangsi.

“Ada keinginanku untuk melanjutkan sekolah di Universitas Terbuka, tapi kutangguhkan dulu. Aku menunggu keputusan Kakang, meskipun kita belum resmi menikah. Kang Di orang pertama yang kumintai pendapat dan pertimbangan. Jika Kang Di berkenan, aku segera mendaftar, tetapi tidak akan pernah kulakukan jika Kang Di tidak mengizinkan.”

Kulipat surat Narti dan kuselipkan di antara arsip di meja kerjaku. Kini aku telah menduduki posisi penting di perusahaan ini sehingga kesempatan untuk membalas surat Narti semakin sempit, sedangkan untuk menengok embok pun serasa sangat langka. Hari-hariku kuhabiskan untuk menyusun perencanaan dan pengembangan demi meningkatkan produksi perusahaan.

“Gimane, Bos Di?” suara Pak Unang membuyarkan lamunanku.

“Gimane apanya?” aku balik bertanya.

“Elu kira gue kagak tahu perasaan elu ape? Mentang-mentang udah jadi bos, ye.”

“Perasaan apa, Pak Unang?”

“Nih, dengerin ye. Laki-laki kalo udah seumuran elu, apalagi udah punya kerjaan tetap, makin banyak perempuan ngegodain. Elu punya tampang mirip bintang pelem, gaji elu gede, jabatan elu tinggi, apalagi yang elu tunggu. Mau nyari yang kayak bintang pelem, mudah bagi elu. Cuma, pesen gue, jangan ngedeketin Neneng, Euis, Khusnul, Ratna, apalagi Si Susi.”

“Wah, Pak Unang berlebihan deh, masak tampangku kaya bintang film. Film kartun apa? Dulu Pak Unang ngeledek tampangku kampungan, kan?”

“Beda deh. Dulu kan elu masih pake helm pabrik dan seragam merah. Sekarang elu udah berdasi. Kalo gue jadi elu, gue udah pasti nglamar jadi bintang pelem deh.”

“Lo, Pak Unang kan juga bisa ngelucu. Kenapa nggak nglamar jadi bintang film? Aku yakin Pak Unang lebih hebat dari pelawak-pelawak di televisi itu deh. Kan cuma bermodal suka ngebanyol sama nggak punya malu, hehehe….”

“Iye, tapi gue kagak bisa ngebanyol kalo di depan orang banyak, grogian, hehehe…”

“Nah, gitu. Jangan melihat dari tampang. Untuk menjadi bintang film selain tampang ganteng, juga harus pintar, pandai berakting, memiliki kepribadian kuat, Pak Unang.”

Keceriaan bersama Pak Unang terhenti ketika satpam mengantar surat untukku. Meski ada perasaan malas, aku buka juga surat Narti.

“Kang Di, pulanglah, ibu sakit keras!”

Seribu kunang-kunang melintas di depan mataku, berputar-putar bergantian membentuk formasi lingkaran yang tak terputus. Dalam kekalutan melintas bayangan embok yang tergolek lemas di amben kamar tengah. Perempuan renta itulah yang ingin kubanggakan dengan segala dayaku. Aku telah mempersiapkan rumah dan segala perabotnya di kota ini agar embok bisa kuboyong dan kumanjakan.

Kembali kubuka surat Narti, surat terakhir setelah lima bulan tidak pernah kuterima lagi. OB menyodorkan selembar tiket untuk pesawat yang akan berangkat satu jam lagi.  Kukemasi arsip-arsip di mejaku dan kutinggalkan kantor itu untuk segera menuju bandara.

***

Tak kudapati embok di rumahku. Tanda-tanda adanya kehidupan hanya tinggal tersisa sekawanan ayam yang berkeliaran di halaman samping. Bekas wadah makanan dan gelas minuman embok masih teronggok di meja kecil di pinggir dipan yang spreinya sudah kusut dan berserakan. Kurebahkan sejenak tubuhku di dipan ibu. Seorang anak tergopoh-gopoh mendekatiku.

“Paklik, embah dirawat di rumah Juragan Ngabas. Sekarang Paklik disuruh ke sana.”

“Bagaimana kondisi embok?”

Alhamdulillah, sudah agak membaik, sebaiknya Paklik  segera temui embah.”

Kutemukan embok tergolek lemah di salah satu kamar pemondokan milik Juragan Ngabas. Napasnya masih teratur, tetapi pandangannya kosong. Sebutir mutiara lepas dari sudut matanya yang cekung, mengalir di pipi yang kempot. Satu anggukan dan gerakan tangannya yang lemah menandakan kerinduan yang mendalam. Maka, kudekatkan tubuhku dan kupeluk tubuh kerontang itu dengan penuh penyesalan. Tidak ada kata yang terucap, hanya pandangan mata yang ingin bercerita banyak, tentang deritanya, tentang kesendiriannya, tentang keinginannya untuk segera momong cucu.

“Kang Di…, apa kabar?” Suara lembut perempuan yang pernah kukenal menyebut namaku. Kubalikkan tubuhku yang menggigil oleh debaran jantung yang terpacu. Suara itu lembut, tetapi menggema dalam relung hatiku. Suara itu kukenal tujuh tahun lalu ketika seorang wanita merengek minta dibuatkan gambar untuk alat peraga praktik mengajar di sekolah.

“Bapak menginginkan embok dirawat di sini pagi kemarin ketika mendengar dari tetangga bahwa kondisinya semakin melemah. Kebetulan ada dokter di rumah ini.”

Kupandangi wajah Narti yang teduh. Masih seperti dulu, tetapi kerudung itu menambah cantik penampilannya.

“Terima kasih, Narti. Maaf, kami merepotkan.”

“Tidak ada yang direpotkan, Kang. Warga desa ini sudah terbiasa hidup gotong royong. Satu sakit, semua ikut merasakan.”

Kupandangi lagi wajah Narti yang makin cantik. Kecantikan itu makin sempurna ketika kusadari perubahan pada dirinya. Kupandangi perutnya yang sudah membuncit, hamil.  Aku menelan ludah. Narti menunduk. Embok batuk.

“Kang Nardi, setelah suratku yang terakhir tidak ada tanggapan, aku makin yakin bahwa Kakang sudah mendapatkan kebahagiaan di kota. Desakan bapak agar aku tidak menjadi gunjingan tetangga dan mendapatkan sebutan ‘dara daluarsa’ aku memutuskan menerima lamaran Dokter Kurdi. Kang…, maafkan aku tidak bisa membahagiakan embok….”

***

Kuboyong embok ke kota setelah lebaran usai. Wanita itu kelihatan dua puluh tahun lebih tua dari usianya yang baru enam puluh. Namun, kebahagiaan tampak pada raut mukanya ketika aku pertemukan dengan teman-teman kerjaku.

Kuyakinkan bahwa Nardi, anaknya, telah mewujudkan impiannya untuk menjadi orang kantoran yang tidak perlu berpanas-panas. Dia pun sudah menduduki posisi penting di perusahaan tempat bekerjanya. Akan tetapi, ada satu hal yang belum bisa membahagiakan embok: memberikan momongan cucu.[]

Catatan: cerpen ini sebelumnya termuat dalam buku kumpulan cerpen Burung Gagak di Pohon Cendana (Digna Pustaka, 2011). Dan, cerpen ini adalah kali ke-3 karyanya dimuat dalam web ceritamu.net

Tentang Penulis

Yonas Suharyono, dilahirkan di Gunung Kidul, Yogyakarta, 11 April 1959. Menyelesaikan pendidikannya mulai dari SD, SMP, SPG, hingga UT di tanah kelahirannya. Aktif menulis cerita pendek pada tahun 1974 ketika duduk di kelas 3 SMP. Tahun 1980, karyanya baru dimuat di media nasional. Saat masih tinggal di Yogyakarta, sempat belajar menulis kepada Ragil Suwarnapragolapati. Selain cerpen dan puisi, dia juga menulis novel, esei, dan tulisan jenis lainnya. Beberapa karyanya yang sudah terbit adalah antologi cerpen Burung Gagak di Atas Pohon Cendana (Digna Pustaka, 2011), Musikalisasi Puisi; Panduan Mudah Mengenal dan Mempelajari Seni Memusikkan Puisi (Digna Pustaka, 2013), dan sebuah novel Wayang Lembah Dawul (Digna Pustaka, 2017).

Sejak tahun 1984, ia sudah menjadi guru bahasa Indonesia di SMP Negeri Jeruklegi, Cilacap dan SMP Negeri 1 Cilacap. Sebelumnya, ia pernah mengajar di SD Inpres di daerah Gunungkidul Yogyakarta. Dalam organisasi profesinya, ia pernah menjabat sebagai sekretaris Forum Komunikasi Pengembangan Profesi (FKPPG). Aktif menyampaikan makalah dalam beberapa seminar berkaitan inovasi pembelajaran, antara lain di Balai Bahasa Jawa Tengah, FKPPG, FIG, ISPI, dan Agupena Kabupaten Cilacap.

Karya-karya inovatifnya menjadi finalis beberapa kompetisi, antara lain: Marimas Peduli Unika Soegijopranoto, P4TK Provinsi Jawa Tengah, LPMP, dan LKG tingkat nasional yang diadakan Kemendikbud.

Finalis Bintang Radio dan Televisi DIY jenis keroncong tahun 1982 ini pernaj juga mengantar anak didiknya menjuarai berbagai kompetisi seni music dan sastra tingkat provinsi Jawa Tengah, antara lain: juara 1 lomba paduan suara SMP tahun 2003, juara 1 lomba music ensemble SMP 2004, vocal grup SMP tahun 2006, dan  Jambore Sastra Yogyakarta tahun 2010. []

2 Replies to “SURAT DARI DESA”

  1. Thank you for the sensible critique. Me and my neighbor were just preparing to do a little research on this. We got a grab a book from our local library but I think I learned more clear from this post. I’m very glad to see such wonderful information being shared freely out there.

Leave a Reply to oprolevorter Cancel reply

Your email address will not be published.