TUJUH LIDI SAKTI DANAU RAYO (2)

Karya Ferry Irawan MN

Tujuh Lidi Sakti Danau Rayo (2)

Tujuh Purnama Kemudian

Malam semakin larut. Saat itu, air Sungai Rawas sedang banjir. Udara sangat dingin. Di bawah sinar bulan purnama kali itu terdapat sosok berterindak tengah mengendarai rakit. Dari cara rakit yang melawan arus dengan kecepatan melebihi cara biasa para penduduk menaiki rakit, jelas, pengemudi itu bukan orang biasa. Apalagi melihat dari caranya yang hanya sesekali mengayuh rakit dengan menggunakan sebatang ranting.

Dari kejauhan terdengar suara alunan tetabuhan yang memancing kerinduan siapa saja untuk mendekati sumber suara. Yah, pesta memang tengah digelar di atas goa batu dan kumpulan napal-napal yang sangat licin. Lama-kelamaan tempat itu dinamai Napallicin. Di atas goa batu ada taman-taman indah dan beberapa air yang tergenang cukup lebar. Di sekitarnya terdapat beberapa suku-suku yang tergabung ke dalam suku yang paling berkuasa kala itu. Suku Damhita namanya. Suku Damhita tengah mengadakan ritual rutin terhadap penguasa goa dari alam gaib. Yakni, setiap bulan purnama kepala suku Damhita selalu meminta pemuda tampan untuk dikorbankan keperjakaannya yang ada dalam suku-suku yang ia kuasai. Acara rutin itu bukan menjadi momok bagi setiap kepala suku atau calon pemuda bakal korban. Boleh dikatakan menjadi ajang sayembara. Namun, lain halnya yang terjadi pada bulan purnama kali itu. Diam-diam, Rampane sang kepala suku yang mendapat giliran menyerahkan pemuda tumbal nafsu dewi penguasa goa tengah merencanakan serangan ketika acara ritual berlangsung. Rampane ingin merebut kekuasaan dan telah bersekutu dengan beberapa suku lainnya. Rencana licik ini belum tercium oleh Subra, sang penguasa suku Damhita.

Subra tengah memimpin acara ritual. Suasana di atas goa batu berhias lampu-lampu obor berminyak lemak hewan ternak menambah keindahan mistis di bawah sinar bulan bulat penuh. Rapalan mantra terus dibacakan oleh dukun sakti kepercayaan Subra. Penari perempuan-perempuan yang berpakaian nyaris telanjang mengitari sang pemuda yang akan dikorbankan kesucian perjakanya. Melantunkan kidung-kidung asmara mistik. Ada dentingan kecapi mendayu pilu menambah ketenggelaman penghuni pesta terbuai dalam pesta ritual.

Setelah mantra usai dibaca. Para penari menghentikan gerakan. Sang pemuda calon persembahan harap-harap cemas; sebab bilamana sang Dewi Berambut Panjang tak berkenan padanya maka dia pun tahu apa yang bakal menimpa dirinya, kematian. Tetapi bilamana sang Dewi berkenan ia harus bersedia melayani nafsu seks Dewi selama beberapa pekan di alam gaib. Dan, ia akan dipulangkan—kembali ke alam nyata—dengan keadaan kurus kering atau menjadi hilang ingatan seperti para pemuda-pemuda sebelumnya.

“Wahai Dewi Terang Bulan Berambut Panjang yang cantik jelita. Kami datang memenuhi janji dan mempersembahkan pemuda pilihan dalam suku kami. Datanglah… datang… datang…. Terimalah persembahan kami.” Subra bicara sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

Tiba-tiba, didahului angin sepoi berhembus, aroma wangi menyebar ke segala arah, seketika suasana menjadi gelap gulita. Semua telah mengerti, itu pertanda kedatangan wujud sang Dewi penghuni goa. Semua menunggu keadaan menjadi terang seperti semula, dan sang Dewi biasanya akan muncul di tengah lingkaran para penari. Tepatnya, di hadapan pemuda yang akan dipersembahkan.

Ketika suasana menjadi terang seperti semula. Wujud dewi yang diharap-harapkan itu kini telah muncul. Dewi Berambut Panjang atau sering disebut Dewi Terang Bulan itu hanya menutupi auratnya dengan rambut panjang miliknya. Dia tersenyum sinis.

“Subra…,” suaranya menggelegar. “Apakah ini pemuda sesembahanmu?”

“Betul, Dewi…. Mohon Dewi berkenan.” Subra menjura penuh hormat.

“Pemuda ini sudah tidak suci lagi, Subra. Dan kau tahu bukan, apa akibatnya?” sang Dewi tampak kecewa.

“Ampun… Dewi… hamba mohon ampun….” Subra tersungkur. “Hamba bersumpah, pemuda itu masih suci.”

“Aku tak bisa kau bohongi, Subra…,” tiba-tiba kuku-kuku jemari Dewi memanjang. Seketika tangannya terangkat, secepat kilat tangan kanannya menghujam dada si pemuda. Namun, sebelum sempat kuku-kuku tajam itu mengenai sasarannya, ada kekuatan tangan mendorong pemuda sesembahan. Pemuda itu terpelanting. Tangan kanan sang Dewi menghantam sebongkah batu tempat pemuda dibaringkan sebelumnya. Batu itu hancur berkeping-keping. Dewi menjadi murka melihat amarahnya tidak kesampaian. Kini, di hadapannya telah berdiri sosok Rampane, ketua suku Danau Tiga Warna.

“Memang, Dewi, pemuda itu sudah bukan perjaka lagi. Aku yang merencanakan semua ini. Aku ingin meminta keadilan dari Dewi malam ini.” Rampane melihat ke arah Subra yang sudah berdiri dengan dada bergemuruh menahan amarah pada Rampane.

“Dulu, Subra pernah mengikat janji padaku, dia ingin memberikan kekuasaan tertinggi dari segala suku yang ada di sekitar sini. Tetapi, itu ia lupakan. Bahkan dengan kesombongannya ia telah menghasut suku-suku lain untuk menyerang suku kami.”

“Ah, itu menjadi urusan kalian. Yang menjadi urusanku, siapa pun yang menjadi penguasa utama di sini harus mempersembahkan pemuda perjaka tiap malam di bulan purnama. Titik!” laps… Dewi Berambut Panjang sudah menghilang seiring jeritan kematian sang pemuda yang akan dijadikan persembahan. Tragis… pemuda bakal sesembahan itu sudah tidak bernyawa dengan lobang besar menganga di dadanya.

Suasana pun semakin tegang. Subra merasa terhina sekali atas kejadian malam itu. Sejurus kemudian dua pihak pecah menjadi dua bagian. Para penghuni yang mendiami taman luas di atas goa telah berhadap-hadapan, siap bertarung. Gelombang besar manusia menjadi dua bagian; Subra dengan suku-suku yang masih setia kepadanya dan Rampane bersama suku-suku rekrutan baru.

Pertempuran sengit pun lalu berkecamuk. Baku hantam, adu jotos atau sabetan senjata andalan berupa tulang belulang, pentungan kayu, atau alat-alat tajam terbuat dari logam sigap mencari mangsa. Pekik kematian dan erangan pesakitan membahana di tengah malam. Dalam sekejap genangan darah membanjiri tempat itu. Tiga danau kecil yang ada menjadi merah tergenang darah manusia. Malam semaki larut. Perebutan kekuasaan antar suku yang berseteru semakin dahsyat. Rampane dan Subra pun terlibat adu kekuatan. Dari segala yang ada perkelahian dua kepala suku inilah yang paling seru. Duel maut keduanya bukan hanya menggunakan keahlian silat, pertarungan hidup dan mati itu sampai pada tingkat tenaga dalam tingkat tinggi. Gerakan keduanya gesit dan cepat. Bagi orang-orang berilmu rendah hanya mampu melihat pertarungan itu tak ubahnya dua bayangan saling bertukar tempat.

Pada babak selanjutnya terdengar suara berdentum sangat keras. Sampai menghentikan seluruh adegan pertempuran yang ada. Semua mata terpasung ke arena tengah di mana tempat pertarungan dua kepala suku mengadu nyawa.

Bagaimana itu bisa terjadi? Rampane dan Subra sama-sama mempertaruhkan nyawa; mengeluarkan ajian pamungkas. Keduanya melesat ke udara. Dua bola api besar berbenturan. Pada waktu bersamaan, sosok misterius ikut meluncur ke atas, menghalau benturan ajian sakti yang mereka lepaskan. Dua bola api Rampane dan Subra berbenturan dengan dua bola salju dari kedua tangan sosok misterius yang muncul secara tiba-tiba. Ledakan dahsyat pun terjadi di udara. Api-api kecil pecah menjadi beberapa bagian. Melayang dan menghantam pepohonan dan bebatuan. Menumbangkan dan menghancurkan. Kebakaran hebat pun terjadi di beberapa bagian di tempat itu.

Rampane dan Subra mengerang. Dua-duanya jatuh ke bumi dalam keadaan luka parah. Setelah keduanya berupaya bangkit, mereka terkejut. Seseorang memakai terindak dan menyembunyikan wajahnya berdiri dengan tangan bersedekap. Rampane dan Subra mencium bau anyir menusuk hidung.

“Siapa kau, aku tak mengenalmu?” tanya Rampane

“Kau di pihak yang mana, hai orang asing?” Subra menimpali.

“Aku tak memihak siapa pun?” sahut orang misterius. “Kehadiranku di sini hanya ingin menyudahi pertumpahan darah. Dan, aku hanya penasaran atas ritual persembahan yang kalian lakukan di puncak goa ini.”

Rampane membaca gelagat usahanya akan kacau. “Orang asing,” dia bersiap-siap menyerang orang tak dikenal. “Sebutkan siapa namamu, dan enyah kau dari dari sini!”

“Namaku tak perlu kau ketahui, Rampane, tapi usahamu mengkudeta kekuasaan yang sudah kalian sepakati bersama Subra itu menyalahi adat istiadat suku-suku mana pun di muka bumi ini. Sebaiknya kau kembalilah ke Danau Tiga Warna, aku jamin Subra akan mengampuni kesalahanmu….”

“Ah… bedebah! Tau apa kau permasalahan di daerah kami.” Rampane langsung menyerang orang misterius. “Dengan cara ini aku mengusirmu…!” teriaknya. Angin menderu mengarah lawan tidak dikenal. Bukan main-main jurus yang dikeluarkan Rampane. Silat Harimau Gunung yang ia kuasi benar-benar sempurna. Hiattt…. Rampane terus melancarkan serangan terbaiknya. Namun, rupa-rupanya orang misterius bukanlah lawan yang sepadan dengannya. Tak lebih dari sepuluh jurus, perlawanannya tuntas sudah.

Hups… prak…

Rampane terjerembab setelah pukulan orang berterindak bersarang di lehernya. Rampane tertipu muslihat musuh. Dia mengira, saat ia melompat salto di udara dengan auman keras kemudian berbalik menerkam lawan. Malahan musuh memasang dada, seakan pasrah. Rampane semakin ambisi, terkaman kuku-kuku tajamnya hampir melukai dada lawan. Namun kejadian justeru sebaliknya, musuh misterius berkelit ke samping sambil melepaskan hantaman telak mengenai leher Rampane. Beberapa tulang lehernya patah. Kedua matanya melotot, mulutnya mengeluarkan sumpah serapah. Rampane berusaha menghimpun tenaga dalam. 

Kemudian, orang misterius itu bicara kepada orang-orang yang masih takjub dengan kehebatan memukau darinya. “Saudara-saudara. Sudahilah pertumpahan darah ini. Hiduplah kalian dalam naungan kedamaian. Sungguh, kekuasaan takkan nyaman dengan pertempuran semacam ini.”

Subra menjura hormat. “Terima kasih, Tuan. Kehadiranmu di sini sangat membawa arti bagi kami. Kata-katamu barusan memang benar adanya. Rampane sebenarnya bukan musuh bagi kami. Dia adalah adik kandungku. Dia kuserahi suku-suku yang berada dalam wilayah Danau Tiga Warna, Air Terjun Tumpak Tujuh, dan Benakat. Rupa-rupanya dia telah iri padaku. Ah, sayang sekali, kenapa semua ini harus terjadi. Tapi, biarlah. Itu urusanku dengannya. Sekali lagi terima kasih Tuan telah membawa arti kedamian bagi suku kami yang sedang berseteru ini.”

“Baiklah, Subra. Aku pergi….” Orang berterindak melangkah hendak menjauh.

“Tuan…,” seru Subra. “Sudilah kiranya Tuan membuat keadilan antara aku dan adikku.” Kata-kata Subra penuh harap.

Dari balik bajunya, orang memakai terindak mencabut sesuatu dan melemparkannya. Dua benda kecil berwarna hitam melesat ke hadapan Rampane dan Subra. Benda itu menancap karena dorongan tenaga dalam jarak jauh. “Siapa yang berhasil mencabut lidi itu dia menjadi kepala suku paling utama di wilayah ini.” Pintanya tegas tanpa bisa ditawar.

Rampane dan Subra segera menghimpun tenaga dalam. Seluruh tenaga ia kerahkan. Kedua kakinya mengangkang menjejak bumi. Kedua tangannya mencabut lidi yang menancap bumi. Kepalanya terangkat ke atas. Keringat sebesar jagung bercucuran. Sejurus kemudian dia memekik hebat. Ia masih berusaha mencabut lidi di bawahnya. Keringatnya kini berganti butir-butir merah pertanda beberapa bagian syaraf tubuhnya pecah. Ia masih bersikukuh mencabutnya. Namun, pada akhirnya ia tetap tak mampu mencabutnya. 

Nyali Rampane semakin ciut dan kerdil, tatkala ia menyaksikan Subra begitu mudah mencabut lidi di hadapan kepala suku yang syah tersebut. Subra mencabut juga lidi yang sebelumnya tak mampu dicabut oleh sang adik. Kedua lidi tersebut diserahkan kembali kepada orang yang menurutnya telah berlaku adil untuk memberikan petunjuk kepada adiknya. Bahwa kekuasaan tidak dapat semata-mata dengan kemampuan taktik perang. Melainkan harus ada campur tangan Penguasa Jagad Raya.   

 “Siapakah namamu, sobat?” tanya Subra sambil menyerahkan dua buah lidi.

Orang berterindak membalik badan. Dia membuka terindaknya. Tidak hanya Subra, semua terkejut. Sekujur wajah penolong itu penuh luka dan mengeluarkan bau anyir menyengat hidung.

“Namaku Embun Semibar. Aku sedang berkelana mencari obat penyakitku ini.” Plas… kemudian dia melompat dan hilang dalam kegelapan malam, sisa-sisa benderang purnama hampir pagi.

***

Pernikahan Tak Wajar

Sebuah suku yang memiliki cukup banyak warga itu bernama Suku Panggong. Kepala sukunya bernama Aryo Kendi. Dia juga dahulunya seorang pendatang dan menetap setelah menikah dengan wanita cantik pribumi. Aryo Kendi pandai dalam memainkan jurus mabuk. Lebih-lebih pada saat Aryo menenggak air tuak dari kendi yang ia bawa kemana-mana. Kesaktiannya belum pernah ada yang menandingi.

Aryo Kendi tinggal di rumah berpenyanggah kayu miliknya bersama dengan putrinya bernama Sentini yang tengah beranjak dewasa. Kecantikan Sentini mirip sekali dengan mendiang ibunya, bahkan lebih cantik. Sudah banyak yang meminang Sentini dan belum satu pun yang diterima oleh Aryo Kendi sebagai calon menantu.

Malam kelam, Aryo Kendi duduk bermenung diri di atas batu berwarna putih. Laki-laki berbadan dempal berwarna coklat tua ini tampak sedang memikirkan masalah serius. Ia bicara sendiri.

“Hmmm… aku curiga pada pria berumur yang datang melamar putriku beberapa hari lalu. Pria itu meninggalkan ancaman serius.”

“Aryo,” kata pria yang melamar putrinya kala itu. “Aku sudah berniat baik melamar putrimu. Tapi engkau menolaknya tanpa alasan yang jelas. Kau akan menyesal pada akhirnya. Ingat itu, Aryo. Ingat! Ini penghinaan yang kau lakukan.”

Keseesokan paginya, Aryo memanggil putrinya, seusai menyantap makan nasi dayang rindu kesukaannya. “Sentini, kemarilah, Bapak ingin bicara padamu.”

Gadis berkulit putih yang berwatak lembut itu mendekati bapaknya. Setelah ia duduk di hadapan orang tuanya, Aryo memulai bicara, “Anakku, Bapak akan pergi bertapa selama sepekan di atas bukit ujung desa ini. Jangan ceritakan kepada siapa pun kemana kepergianku.”

“Baik Bapak, akan saya jaga amanat Bapak.” Patuh Sentini.

Aryo Kendi beranjak dari tempat duduknya sambil mengikat kendi di pinggang. Kemudian, ia pun pergi meninggalkan rumah dan putri tunggalnya, Sentini. Anak gadisnya menatap punggung Aryo Kendi dengan tatapan ragu dan tak menentu. Kepergian Aryo Kendi semata-mata menuruti jiwa kependekarannya. Naluri yang menuntunnya untuk melakukan olah ketenangan batin dengan cara bertapa. Ia sama sekali tak menyadari bahwa sejak semula tindak tanduknya telah diamati sepasang mata.

***

Tiga hari kemudian. Warga Suku Panggong dikejutkan sebuah berita. Sang kepala suku akan menikah dengan anak kandungnya sendiri. Meskipun telah menuai protes dari para kerabat dan sesepuh, Aryo Kendi bersikukuh pada keputusannya. Sentini tak mampu berbuat banyak atas keputusan bapaknya. Ia seakan terkena sihir orang tuanya sendiri yang membuatnya seperti kerbau dicucuk hidung. Pernikahan tak lazim itu akan digelar tiga hari lagi.

***

Di sebuah tempat yang masih dalam kekuasaan Aryo Kendi. Di tempat sepi dan jauh dari pemukiman. Tersebutlah Mak Cimbe, begitu sebagian orang mengenalnya. Perempuan tua itu hidup sebatang kara di gubuk reot yang entah sejak kapan ia tempati. Tidak banyak yang tahu latar belakang kehidupan Mak Cimbe.

Sore itu, Mak Cimbe sedang mencari kayu bakar di sebuah lembah tak jauh dari gubuknya. Semenjak siang ia mencari kayu bakar dan mencari tanaman-tanaman hutan untuk lauk makannya hari itu. Hari mulai gelap. Mak Cimbe berkemas untuk pulang. Setelah meniti jalan terjal, ditambah muatan kayu yang ia ambin di punggung bungkuknya, Mak Cimbe terpeleset. Tubuh renta itu jatuh ke dalam jurang. Nasib baik masih berpihak padanya. Sebelum ia terhempas menyentuh bumi sepasang tangan menyelamatkannya. Mak Cimbe jatuh di pangkuan tangan seseorang yang menolongnya. Saat pertama, Mak Cimbe kaget, “Oh, siapa kau? Manusiakah, atau penghuni tempat angker ini?” Kalau tidak orang tersebut telah menolongnya, Mak Cimbe pasti akan lari begitu kali pertama melihat wajah yang sangat sangar sang penolong.

“Jangan takut, Mak. Aku manusia sama sepertimu. Aku hanya menolongmu…,” ungkap si penolong sambil menurunkan tubuh tua yang nyaris tewas tersebut.

“Dari mana asalmu, Nak? Mak ucapkan terima kasih, kau sudah menolong nyawa Mak yang hampir mati ini.” Selidik Mak Cimbe.

“Aku seorang pengelana. Aku tak mempunyai tempat tinggal.”

“Hari sudah hampir malam, Nak. Kau ikut dengan Mak saja. Menginaplah di tempatku. Mak akan masakkan santap malam buatmu. Mak hanya sendirian. Oh iya, siapa namamu, Nak?”

“Namaku Embun Semibar, Mak.” Sang penolong mengenalkan diri. Sebagai jawaban kesediaannya memenuhi ajakan Mak Cimbe, ia memungut kayu bakar yang berserakan, memasukkan ke dalam bunang ambin dan memikulnya di punggung. “Ayolah, aku antar ke tempat tinggal Mak. Silakan Mak jalan duluan sebagai penunjuk jalan.”

Malam itu, Embun Semibar menginap di tempat Mak Cimbe. Keduanya saling mengenal jati diri. Yang kemudian Mak Cimbe mengangkat Embun Semibar menjadi anak angkatnya. Dari keterangan Mak Cimbe pula, Embun Semibar mendapat kabar berita akan berlangsung pesta perkawinan tak lazim di Suku Panggong, yakni perempuan yang akan menikah dengan orang tuanya sendiri. Hatinya berseri-seri. Perkelanaannya dalam mencari obat sihir yang membuat dirinya menjadi pria buruk rupa hampir ia temukan. Dan, ia pun memutuskan tinggal di tempat Mak Cimbe untuk menunggu pesta perkawinan itu berlangsung. Mak Cimbe sama sekali tak mengetahui apa yang sedang ada di benak Embun Semibar.

Keesokan harinya, warga suku Panggong sudah banyak yang tahu. Di rumah Mak Cimbe ada seorang pria buruk rupa yang telah diangkat menjadi seorang anak. Beberapa warga yang penasaran sengaja ingin melihat seburuk apa wajah pria tersebut. Embun Semibar tak tersinggung atas kedatangan beberapa warga. Ia menyibukkan dirinya menanam sayur mayur dan palawija di sekitar gubuk Mak Cimbe. Warga yang sempat melihat wajahnya cepat-cepat berpaling. Jijik!. Pada hari kedua, hampir seluruh warga akhirnya telah mengetahui keberadaan Embun Semibar di tempat itu.

Di hari ketiga. Pernikahan tak wajar di Suku Panggong usai dilaksanakan. Aryo Kendi sang kepala suku mengumumkan akan dilaksanakan pesta selama tujuh hari tujuh malam atas perkawinannya dengan putrinya sendiri. Para warga yang ditunjuk, wajib menyumbangkan tetabuhan atau ritual-ritual hiburan untuk memeriahkan pernikahan tersebut.

Pagi itu, beberapa saat setelah dukun sakti Suku Panggong menuntaskan rangkaian ritual pernikahan, tiba-tiba, menyeruak dari punggung-punggung warga seorang pria memakai terindak lebar dan berpakaian putih lusuh. Embun Semibar melompat ke atas panggung acara. Kedatangannya sengaja membuat gaduh pesta yang tengah berlangsung.

“Aryo Kendi,” tegurnya tanpa sopan santun.

Seketika suasana berubah geger dan tegang. Warga harap-harap cemas. Ada yang meremehkan Embun Semibar.

“Uh, manusia buruk rupa ini belum tahu kehebatan kepala suku kita,” celetuk salah seorang warga di kerumunan manusia.

“Iya, anak angkat Mak Cimbe itu pasti akan binasa,” timpal yang lainnya.

“Hah, manusia berbau busuk. Enyah kau dari sini. Cepat! Sebelum aku berubah pikiran untuk membunuhmu.” Usir kepala suku.

Embun Semibar bergeming. “Engkaulah yang berkelakuan busuk Aryo Kendi. Apakah tidak sadar siapa yang kau nikahi di sebelahmu itu. Dia adalah anak kandungmu sendiri.”

“Hahaha….” Aryo Kendi tertawa. “Kau ini orang asing. Tahu apa kau tentang aturanku. Aku yang berkuasa dan membuat aturan di sini. Kalau aku menanam pisang di tanahku sendiri. Maka, aku pula yang berhak memetik buahnya. Bukan orang lain. Hahaha….”

Embun Semibar tak kalah dalih. “Kalau itu yang menjadi alasanmu. Berarti kau adalah binatang yang mengawini anakmu sendiri.”

“Bedebah!” Aryo Kendi naik pitam. “Apa maksudmu sebenarnya yang mau melawan aturanku di suku kekuasaanku ini, hah!”

“Akulah yang pantas menjadi suami anakmu.” Jelas Embun Semibar tanpa tedeng aling.

“Kalau aku tidak mau?” sangkal Aryo Kendi.

“Aku akan membunuhmu, dan tetap menikahi anakmu!” Tegas Embun Semibar.

Darah amarah Aryo Kendi semakin mendidih. Wajahnya menghitam pertanda amarah sudah sampai di puncak ubunnya. Namun, sikapnya yang tak segera menyerang Embun Semibar membuat tanda tanya besar di hati para warganya. Kenapa ada orang yang berani menantang kepala suku sakti mandraguna itu. Dan, kenapa sang kepala suku tak segera membunuh pemuda kurang ajar tersebut.

Aryo Kendi memang tak melakukan apa pun. Malahan terlihat mengalah, padahal, ia tengah mengatur siasat. “Aku malu pada wargaku. Aku tak mau mengotori acara suci pagi ini. Tetapi, aku mempunyai syarat yang harus kau penuhi. Kalau aku kalah, maka aku akan serahkan putriku ini menjadi milikmu. Bagaimana, kau sanggup?” tantangnya.

Embun Semibar merasa di atas angin. Tanpa berpikir ulang, karena cita-citanya segera tercapai ia pun menyanggupi sebelum bertanya persyaratan yang bakal ia terima. “Baik, aku sanggup. Sebutkan syaratnya.”

“Ingat, wahai pria buruk rupa. Janji seorang pendekar adalah harga mati.”

“Cepat sebutkan apa syaratmu.” Tantang Embun Semibar tak sabar.

“Kau tancapkan lidi saktimu di halaman depan ini. Kalau aku mampu mencabutnya, berarti kau kalah. Ayo tancapkan lidi saktimu ke tanah.” Perintah Aryo Kendi sambil menuding.

Syarat yang diajukan kepala suku benar-benar membuat Embun Semibar kaget seperti disengat lipan. “Bagaimana orang tua ini tahu tentang lidi saktiku?” Ia tak habis pikir.

“Hei, kenapa kau melamun. Ayo mana lidi saktimu itu.” Ulang kepala suku.

Yakin akan kemampuan miliknya, Embun Semibar segera turun, para warga segera membuka jalan dan membuat lingkaran. Semibar mengambil sesuatu dari balik jubah dan di tangannya telah menjepit sebatang lidi berwarna hitam mengkilat. Lidi itu segera ia tancapkan ke tanah.

“Hehehe,” kekeh Aryo Kendi penuh arti. Ia segera turun dari pelaminan dan menuju tanah lapang. Semua mata yang hadir tak berkedip menyaksikan peristiwa tak biasa tersebut. Bagi orang yang sedikit mengerti tentang ilmu kesaktian sudah dapat menebak; dua orang pendekar akan mengadu kekuatan dengan ajian tenaga dalam.

Aryo Kendi tak langsung mencabut lidi yang sudah tertancap. Wajahnya menyeringai dan penuh arti. Dia menuding beberapa warga yang ada. “Kau, kau, kau, kau, kau, dan… kau. Maju!”

Keenam warga yang ditunjuk kepala suku patuh dan maju ke depan. Kemudian kepala suku menatap Embun Semibar.

“Pria berwajah jelek,” hinanya, “mana enam lidi yang lain. Kalau aku, jelas mampu mencabut lidi tak berarti ini. Aku menghargai niat baikmu untuk memiliki anakku. Maka keenam wargaku ini akan menjadi wakilku, mereka akan menjadi tolak ukur kemenanganmu. Mereka ini orang-orang yang tak mepunyai kepandaian apa-apa. Mereka takkan mampu adu tanding kesaktian denganmu. Kalau mereka nanti tak mampu mencabut lidi-lidi saktimu. Maka aku, atas nama warga di sini mengaku kalah padamu dan aku segera menceraikan anakku dan menikahkannya untukmu.” 

Embun Semibar kian terpojok. Diam-diam dia mengakui kesaktian Aryo Kendi. Nama besar sang kepala suku ternyata bukan isapan jempol belaka. Aryo Kendi bukan hanya pandai berkelahi, ternyata ia pun memiliki ilmu terawangan tingkat tinggi. Tanpa pilihan lain, akhirnya Semibar menancapkan keenam lidi yang tersisa. Mulutnya komat-kamit membaca mantra sakti. Suasana pun semakin tegang.      

***

(Bersambung ke sekuel terakhir, “Pertarungan Tujuh Hari Tujuh Malam Babak Kedua”)

Leave a Reply

Your email address will not be published.