TUJUH LIDI SAKTI DANAU RAYO (3-TAMAT)

Karya Ferry Irawan AM

Tujuh Lidi Sakti Danau Rayo-3

Pertarungan Tujuh Hari Tujuh Malam Babak Kedua

Embun Semibar mundur tujuh langkah. Kemudian duduk di tanah. Kedua tangannya bersedekap di dada. Beberapa saat kemudian ia berkata lantang, “Ayo silakan, siapa yang bisa mencabut lidi-lidi yang kutancapkan, maka aku mengaku kalah.

Enam orang warga, termasuk Aryo Kendi tertawa terbahak-bahak mendengar tantangan Embun semibar. “Hehehe… apa susahnya mencabut lidi tak berguna ini.” Kekeh seorang warga sembari mencabut lidi di depannya. Cres… dengan mudahnya lidi tersebut tercabut. Tanpa ada kesusahan sedikit pun. Begitu pula dengan warga-warga yang lain. Sampai pada orang keenam, semua lidi yang ditancapkan Embun Semibar dengan sangat mudah mereka cabut satu per satu.

Aryo Kendi tertawa keras. “Hahaha… orang buruk rupa ini sama-sekali tidak punya kepandaian apa-apa. Memalukan.” Aryo Kendi pun mencabut lidi di depannya. 

Embun Semibar benar-benar terpukul atas kejadian itu. “Hah. Bagaimana mungkin ini dapat terjadi. Padahal, aku sudah mengerahkan tenaga dalam tingkat tinggi. Kenapa mereka dapat dengan mudah mencabutnya tanpa merasa susah sedikit pun. Ini benar-benar tak beres. Tujuh ekor kerbau saja belum tentu sanggup menarik sebatang lidi yang kutancapkan barusan. Oh… Penguasa jagad raya, apa yang terjadi padaku sekarang ini. Kutukan apa lagi yang menimpaku sekarang ini. Mengapa ilmu kesaktianku tak berguna sama sekali berhadapan dengan warga suku Panggong yang tak mempunyai kepandaian apa-apa.” Embun Semibar Tenggelam dalam putus asa yang sangat. Kepalanya tersungkur mencium tanah.

Selanjutnya, Aryo Kendi sang kepala suku kembali angkat bicara. “Hai manusia jelek. Kau tadi sudah keliwat batas mempermalukan aku di hadapan wargaku. Aku kira kau ini orang sakti, makanya aku sengaja mengulur waktu demi menghormati sesama pendekar. Tapi nyatanya, kau seorang pembohong yang ingin tenar mendadak. Maka atas kelancangan perbuatanmu aku sekarang berubah pikiran. Kau harus dihukum pancung. Ayo wargaku yang baik hati. Tunggu apalagi bunuh pemuda brengsek itu… bunuh…!” Aryo Kendi memerintahkan enam orang warga yang telah berhasil mencabut batang lidi. Keenam orang ini mencabut golok dan bergerak tegap menuju Embun Semibar yang masih tersungkur di tanah. Ia pasrah atas kejadian yang bakal menimpahnya. Keenam orang warga saling pandang sebelum melakukan aksinya. Seorang di antaranya bergerak cepat mengayunkan golok ke tengkuk Embun Semibar.

Cress…!

Trang…!

Pancungan golok yang mengarah ke tengkuk Embun Semibar terhalang oleh benda lunak namun keras seperti baja. Ujung golok membentur air yang dimuntahkan seseorang. Keenam warga yang akan mengeksekusi Embun Semibar tersurut beberapa langka manakala menyaksikan Aryo Kendi yang berbuat demikian. Mereka menoleh ke belakang di mana tempat kepala suku itu semula. Alangkah terkejutnya mereka, ternyata di tempat itu ada dua sosok Aryo Kendi. 

“Lho… lho… kenapa ada dua Aryo Kendi.” Rungut salah seorang warga yang berkerumun. “Iya, yang mana yang asli ketua suku kita.” Sahut yang lain.

Embun Semibar sadar ada yang menolongnya, pendekar cerdik ini berkata. “Setelah melihat dua orang yang sama, aku yakin Anda adalah kepala Suku yang asli.”

“Aku sudah tahu siapa kau sebenarnya pendekar Buruk Rupa alias Embun Semibar. Kini tugas kita berdua untuk menumpas kejahatan mereka.” Ajak Aryo Kendi yang asli.

***

“Bapak, apa yang terjadi, apa yang terjadi padaku anakmu ini, Bapak…” Sentini memeluk Aryo Kendi, bapaknya.

“Sudahlah anakku. Kau tidak bersalah. Engkau dalam pengaruh sihir seseorang. Apa kau lupa pesan Bapak sebelum berangkat. Bukankah Bapak akan pergi selama tujuh hari. Penguasa Jagad Raya menegurku untuk membatalkan tapabrata yang kurang satu hari. Ternyata, ini sebenarnya yang terjadi. Aku yakin, pria itu adalah orang yang pernah aku tolak ketika meminangmu kali terakhir.”

“Bujang Juaro. Sekarang aku tahu siapa kau.” Embun Semibar akhirnya pun tahu siapa sebenarnya yang telah membuat ia tak berdaya.

“Benar itu. Hahaha… kami adalah tujuh Pendekar Biksu Pencabut Nyawa yang menuntut dendam padamu Embun Semibar.” Aryo Kendi palsu akhirnya membuka jati dirinya. Badannya yang semula mirip dengan kepala suku, kini sudah berubah wujud aslinya. Ternyata dia adalah pendekar Biksu Berambut Gondrong alias Bujang Juaro. 

Melihat pimpinan mereka telah merubah wujud, pun juga demikian dengan keenam pendekar biksu lainnya. Mereka melepaskan rambut palsu di atas kepala masing-masing. Embun Semibar langsung dapat mengenali siapa mereka sebenarnya. Dan, ia segera menyadari kebodohannya yang sangat mudah menancapkan lidi-lidi sakti milik mereka. “Pantas, mereka sedemikian mudah mencabut tujuh lidi sakti yang sebenarnya milik mereka sendiri. Dan nasi sudah menjadi bubur, tujuh pendekar biksu yang sudah hilang kesaktian selama ini telah menjadi orang sakti kembali.” Sesal Embun Semibar.

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Embun Semibar melompat menyerang Pendekar Biksu berambut gondrong. Pertarungan seru tak terelakkan. Begitu pula dengan Aryo Kendi, ia segera menenggak tuak dari kendinya. Kepala suku langsung menyerang keenam pendekar biksu di hadapannya. Kini, perkelahian semakin seru di dua titik. Warga suku Panggong berkumpul dan menjadi penonton adegan yang belum seumur-umur pernah mereka saksikan. Perkelahian terus berkecamuk dan berpindah tempat. Di atas batu, di lapangan, di tebing terjal, juga di atas air. 

Tanpa terasa pertarungan sengit dan sangat seru tersebut memakan waktu cukup lama dan belum menunjukkan ada tanda-tanda akan berakhir. Para warga rela menyaksikan adegan demi adegan pertarungan para pendekar sakti. Mereka rela tak menggarap ladang, meninggalkan aneka rutin pekerjaan mata pencaharian sehari-hari.

Dan…, duel-duel maut itu telah memasuki hari ke tujuh. Para pendekar yang bertarung tanpa henti itu kini telah berkumpul di satu titik. Aryo Kendi semakin trengginas menggunakan jurus-jurus maut andalannya. Kalau dicermati dia kini telah menghadapi tiga orang lawan saja. Adapun tiga lainnya telah ambruk bersimbah darah di dekat perkelahian yang tengah berlangsung. Aryo Kendi masih dengan kendi sakti yang kerap kali mengeluarkan angin atau air tuak yang sanggup menjelma api. Dan, musuh-musuhnya menggunakan gendewa, gada. dan pedang panjang. Pijar-pijar api kelap kali terjadi manakala senjata sakti milik para pendekar sakti beradu.

Sementara itu, Embun Semibar yang berkelahi tak pernah menggunakan senjata apa pun masih berhadapan dengan Bujang Juaro dengan senjata yang berubah-rubah bentuknya. Kadang berupa trisula, pedang, keris dan sesuka-sukanya dengan kemampuan ilmu sihir miliknya. Pertarungan dua pendekar kelas atas ini benar-benar dikatakan hidup-mati. Embun Semibar pernah dikalahkan oleh Bujang Juaro. Akan tetapi kekalahan Embun Semibar kala itu karena tenaganya yang sudah terkuras akibat perlawanan sengit dengan kawan-kawannya yang semuanya dapat ditaklukkan oleh Embun Semibar. sekarang, keadaan menjadi lain, Bujang Juaro benar-benar menghadapi lawan yang seimbang. Dari hari pertama mereka sudah sama-sama menguras tenaga dan pikiran. 

Hufs heat jreg…

Pada akhirnya, Pendekar Biksu Berambut Gondrong alias Bujang Juaro mendapat serangan mematikan di lehernya. Jemari tangan kanan Embun Semibar yang sudah dialiri Ajian Embun Menebar sedingin es telah bersarang di jakunnya. Memecahkan urat-urat syaraf. Bujang Juaro seketika merasakan pandangannya berkunang-kunang. Dan dari hidung, telinga, dan mulutnya mengalir darah beku. Dia terluka parah. Bujang Juaro terhuyung dan bertekuk lutut hingga menyentuh tanah. Tatap matanya nanar. “Aku belum menyerah keparat. Kalau pun aku mati, maka kau juga akan mati. Ini, terimalah ajian pamungkas milikku. Sihir Maut Kadazan.” Kemudian, ia mengangkat kedua tangan dan menangkupkannya di awang-awang. Ajaib. Kedua tangannya dapat memanjang setinggi dua tombak. Mulutnya komat-kamit membaca mantra. Embun Semibar berbuat sama, ia duduk bersila di tanah. Kedua tangannya di angkat menengadah ke atas, kemudian membetuk silang. Adegan selanjutnya benar-benar menakjubkan untuk dipandang. Tubuh bersila Bujang Juaro terbang ke angkasa. Tangan panjang miliknya mengayun kencang ke arah Embun Semibar laksana dua batang pohon yang tumbang. Manakala kedua tangan itu menghantam Embun Semibar yang telah menyilangkan tangganya di atas kepala, terdengar suara gemelegar bagaikan batu keras menghantam bongkahan salju. Tenaga dalam Bujang Juaro menjelma api, sedangkan kekuatan magis Embun Semibar laksana bintik-bintik salju tajam yang sanggup membunuh apa saja. Di babak ini, tuntaslah pertarungan keduanya. Buajang Juaro jatuh ke bumi. Kedua tangan milik Buajng Juaro tercerabut dan tanggal dari bahunya. Sang pemimpin pendekar biksu ini mengerang kemudian diam dan ambruk dengan mata melotot. Sumpah serapah masih terdengar dari mulutnya yang berlepotan darah segar dan beku.

Di bagian lain, sama halnya dengan ketiga kawanan biksu yang mengeroyok Aryo Kendi. mereka mengalami nasib sama. Tubuh mereka bolong-bolong karena tak mampu membendung semburan air tuak dari kepala suku. Ketiga-tiganya mengerang kesakitan. Aryo Kendi menendang satu per satu lawannya. Keenam lawannya mencelat ke atas dan jatuh bertumbukan satu sama lain di samping pimpinannya. Kini, Bujang Juaro dan enam pendekar biksu yang sudah tak berdaya tersebut menjadi tontonan para warga yang masih setia menyaksikan pertandingan sangat seru tersebut dari hari pertama.

Aryo Kendi mendekati Embun Semibar yang sudah berdiri dari duduknya. “Wahai pendekar yang mulia Embun Semibar. Aku percaya engkau dapat menghukum mereka agar kejahatan mereka tak terulang lagi. Lakukanlah semaumu.” Pinta Aryo Kendi.

Embun Semibar maju mendekati musuh-musuhnya yang sudah kalah. Dari balik saku ia mencabut sebilah pisau kayu bergagang ular naga berwarna hitam. Manakala pisau itu tercabut dari sarangnya. Suasana berubah menjadi gelap di tempat itu. Angin menderu bergemuruh. Petir menyambar-nyambar. Embun Semibar menuding pisau sakti miliknya ke atas yang spontan mengeluarkan pijar kilat menyilaukan mata. Kemudian pisau itu ia hujamkan ke bumi. Seketika bumi seakan mengalami gempa. Bumi seakan berderak-derak. Dan Embun Semibar mencabut pisau sakti miliknya dan dari dalam tanah menyembur air bening dengan derasnya. Dalam sekejab di tempat itu yang memang berbentuk lembah telah tergenang air dan mendanau. 

Kepala Suku memerintahkan para warga untuk naik ke daratan. Air semakin menggenangi tempat itu hingga mengkaramkan suku Panggong. Karam Panggong. Embun Semibar pun tak mampu menghentikan air yang semakin tinggi. Dia pun cemas. Saat seperti itu, ia baru teringat benda sakti yang ia miliki selain pisau. “Wahai Putri Silampari, datanglah, aku butuh bantuanmu.” Ia mengundang putri Silampari sambil memijit-mijit sebutir padi di jemarinya.

Sinar kuning tiba-tiba hadir di tempat itu. Melayang-layang mengelilingi air danau kemudian sinar kuning itu berhenti di depan Embun Semibar. Sinar itu berubah bentuk menjadi seorang putri yang sangat cantik dan harum, seharum nasi dari padi dayang rindu. Embun Semibar menjadi tontonan seluruh warga yang ada. Termasuk Sentini putri kepala suku. Wajahnya berseri-seri melihat perubahan yang terjadi pada fisik pendekar buruk rupa yang telah menjadi pria yang sangat tampan. Putri Silampari berkata, “Embun Semibar. Penyakitmu sudah sembuh karena kematian penyihirmu sendiri. Karena perbuatan jahat pendekar-pendekar biksu itu biarlah mereka terpendam dalam danau ini selamanya. Sedangkan Bujang Juaro, mayatnya akan kulempar ke tempat asalnya. Agar para warga sekitar Bukit Sulap dapat menguburkannya di sana. Kelak, danau ini akan menjadi saksi dan menjadi pelajaran bagi warga sekitar sini di kemudian hari.”

“Aku paham, kekasih gaibku. Tetapi, kenapa engkau berbohong tentang obat penyakitku. Kenapa engkau mengatakan, penyakitku ini akan sembuh setelah aku….”

“Sssttt…” Putri Silampari menempelkan jari telunjuk ke bibirnya sendiri. “Kau jangan marah padaku. Itu aku lakukan agar engkau tidak terlalu berharap agar aku menjadi istrimu.” Laps… sang putri sudah menghilang dalam pandangan Semibar. Sejurus kemudian, dia melihat sosok mayat mencelat dari dalam danau yang ia duga itu mayat Bujang Juaro. Embun Semibar beranjak meninggalkan tempat itu. Para warga pun berbuat yang sama. Mau tak mau semuanya merelakan tempat tinggal mereka menjadi karam. Tenggelam dalam danau berair sangat bening. Suku Panggong telah karam. Karam Panggong.   

***

Di hari-hari selanjutnya, Embun Semibar sudah menjadi suami Sentini. Mak Cimbe sudah menjadi bagian dari keluarga kepala suku. Setahun kemudian Sentini melahirkan seorang putra. Namun sayangnya, Sentini meninggal saat melahirkan anaknya. 

Aryo Kendi masih menjadi kepala suku Karam Panggong yang sudah berpindah letaknya dari suku yang sudah tenggelam. Hari-hari selanjutnya, Embun Semibar berpamitan kepada mertuanya, Aryo Kendi untuk meneruskan petualangan panjang. Sesama pendekar, Aryo Kendi memaklumi kemauan menantunya tersebut. Adapun putra Embun Semibar ia bersedia untuk mengurusnya, yang kemudian oleh Aryo Kendi diserahkan kepada Mak Cimbe sebagai perawat putra dari putrinya, Sentini. Atas jasa Mak Cimbe yang telah merawat dan membesarkan cucunya, Aryo Kendi menghadiahi Mak Cimbe lahan tanah yang cukup luas. Dan untuk menggarap lahan pemberian sang kepala suku, Mak Cimbe juga diberikan beberapa orang pembantu. 

Lahan tanah yang tak berjauhan dengan rumah kepala suku itu ditanami umbi merambat bernama bengkuang atas perintah kepala suku. Dari hasil bengkuang itu Mak Cimbe kemudian dapat hidup serba berkecukupan. Lama kelamaan Mak Cimbe oleh warga Panggong disapa dengan sebutan Nenek Bengkuang.  Adapun danau lebar yang mengkaramkan Suku Panggong di kemudian hari oleh masyarakat dinamai Danau Rayo.  

Lubuklinggau, 9 Agustus 2016

—Tamat—

Tentang Penulis

Ferry Irawan AM. Lahir di Musirawas, tinggal di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Aktif di dunia seni (teater, puisi, musik, dan menulis). Sekarang aktif di Dewan Kesenian Kota Lubuklinggau dan Komunitas Melangun.

Beberapa karya novel yang pernah ditulisnya adalah: Umang (DIVA Press, 2009), Saung Naga (Elsyarif, 2009), Ranah Sriwijaya (Elsyarif, 2009) Tuah (Elsyarif, 2010), Puyang Keramat (2012), Babad Sriwijaya; Dapunta Hyang Sri Jayanaga (DIVA Press, 2013) dan Sang Harimau Menteng (Tanpa Tahun). Karya puisinya yang telah terbit di antaranya: Mantra Orang-orang Hebat (Digna Pustaka, 2014), Pisau yang Terluka (Benny Institute, 2016), dan Tambatan Hati; Antologi Puisi, Cerpen dan Esai (Digna Pustaka, 2009). Karyanya yang lain: Mutiara Kesabaran Risalah Hidup Syarif Hidayat (Kompas Gramedia, 2016)

Untuk komunikasi dapat dihubungi via email umang.feri@gmail.com/ ferry.mafaza.gmail.com []

2 Replies to “TUJUH LIDI SAKTI DANAU RAYO (3-TAMAT)”

  1. Pingback: viagra suppliers

Leave a Reply

Your email address will not be published.