TUJUH LIDI SAKTI DANAU RAYO (1)

Karya Ferry Irawan AM

Tujuh Lidi Sakti Danau Rayu

Pertarungan Tujuh Hari Tujuh Malam

BUKIT indah itu bernama Bukit Sulap. Hutan lebat nan indah bila dipandang dari kejauhan itu sekaligus menjadi penyanggah bebatuan besar-kecil yang berserakan dan tertanam kokoh. Liukan sungai di pinggangnya pun menjelma selendang bidadari kahyangan. Sungai itu singgah di beberapa danau kecil yang kemudian pada akhirnya bermuara di sungai besar yang membelah dataran di bawahnya: Sungai Kelingi.

Malam itu sepasang anak manusia sedang memadu kasih di puncak bukit. Kebetulan, malam itu malam bulan purnama. Di bawah sinar rembulan yang menerangi puncak bukit, sepasang anak manusia bertukar cerita. Keduanya memang baru saling kenal. Api unggun ikut menjadi saksi percintaan mereka yang tengah kasmaran. Pertemuan keduanya harus berakhir ketika matahari pagi menyingsing. Sang wanita lenyap dalam pandangan pria. Hilang dari tempat duduknya di atas batu.

Suasana masih pagi. Sinar mentari memantul dari embun yang menempel di sesela dedaunan. Memutiara saat diterpa sinar matahari pagi itu. Tujuh kelebat bayangan bergerak cepat. Berpindah dari batu ke batu lainnya. Sesekali menerobos rimbun kayu dan bambu yang lebat. Saking cepatnya tujuh bayangan itu seakan tak menimbulkan suara apa pun saat bersinggungan dengan benda yang dijejaki. 

Aksi ke tujuh bayangan itu berhenti di padang ilalang di puncak bukit. Ternyata mereka adalah tujuh orang pendekar berpakaian hitam-hitam menyerupai jubah sebatas lutut. Matahari sudah naik sejauh tujuh tombak ketika mereka sampai di tanah datar yang rapat ditumbuhi ilalang dengan bunga-bunga putihnya yang sedang mekar.  Mereka berbaris dengan sorot mata tajam ke depan.

Tiba-tiba angin kencang berhembus bersamaan dengan suara tawa menggema ke segala antero. “Hahaha… tujuh pendekar biksu pencabut nyawa, Embun Semibar datang memenuhi tantangan kalian. Hahaha…!” Sosok tinggi jangkung berpakaian lusuh berwarna putih sudah berdiri sejauh tujuh tombak di hadapan tujuh pendekar yang dijuluki Tujuh Biksu Pencabut Nyawa. Lain halnya para biksu menjejak tanah ketika tiba di padang membentang, Embun Semibar justeru kedua kakinya berdiri di atas pohon-pohon ilalang. Ilmu meringankan tubuh yang ia pertontonkan benar-benar sempurna.

Cis…!” Seorang biksu meludah ke tanah dan melangkah ke muka. “Kau jangan pamer kesaktian Embun Semibar. Karena kehebatanmu hari ini akan berakhir.”

Embun Semibar memandangi orang-orang di depannya satu per satu. “Maaf, Tuan-Tuan, jauh-jauh kalian datang kemari hanya ingin menjajal kesaktianku. Padahal, masih banyak hal-hal penting yang dapat kalian lakukan di pulau seberang daripada kalian repot-repot datang kemari hendak bertarung denganku.”

“Nah, kau mulai keder nampaknya? Hahaha…, Embun Semibar, kalau kau menyerah sebelum bertarung itu kami maklumi. Mungkin itu lebih baik bagimu. Tetapi, satu syaratnya….” Sang biksu tak meneruskan ucapannya.

“Mudah sekali kau ingin menyudahi ajang debat ini,” sangkal Embun Semibar. “Wahai biksu yang baik hati, kenapa harus dengan syarat. Aku tak pernah mempunyai urusan dengan kalian. Tidak akan! Tidak akan!”

“Embun Semibar, jangan banyak bacot. Sebaiknya engkau serahkan Putri Silampari yang kau nikahi beberapa hari lalu di kaki bukit ini. Karena dia adalah putri keturunan terhormat di daerah kami. Tidak sembarangan orang boleh menikahinya selain orang-orang yang berasal dari ras bangsa kami!” ujar biksu yang berperan menjadi juru bicara sejak semula.

“Ho oh, jadi tujuan kalian datang kemari hanya karena persoalan putri siluman itu?”

“Tutup mulutmu! Berani-beraninya kau mengatakan putri junjungan kami dengan sebutan siluman, setelah kau nikahi dia? Hah!”

“Putri Silampari yang kalian agung-agungkan itu aku belum pernah menjamahnya, apalagi menikahinya. Semalam, memang kami berada di puncak bukit ini. Aku berkenalan dengannya di sebuah pesta pernikahan anak ketua suku di kaki bukit ini.  Dan, Putri Silampari mengajakku ke puncak bukit ini. Akan tetapi, dia hilang entah kemana sejak matahari terbit tadi. Dia lenyap dalam pandanganku. Apakah aku berlebih-lebihan mengatakannya sebagai seorang Putri Siluman?” urai Embun Semibar.

“Cukup Embun Semibar! Kau pandai sekali membuat cerita konyol seperti itu untuk mengelabuhi kami. Padahal, kami sudah mengetahui semuanya. Dari keterangan warga yang kami peroleh di tempat pesta itu, jelas kalian hadir sebagai sepasang suami istri. Kawan-kawan, tunggu apa lagi. Kita beri pelajaran pemuda ini, biar dia benar-benar tahu siapa kita ini sebenarnya.”

Embun Semibar bukan hanya sakti, dia pun cerdik membaca situasi. “Hebat…! Apakah ini yang namanya pendekar. Beraninya main keroyok?”

Keenam orang yang semula bersiap-siap menyerang, urung melakukan serangan, malu dengan kata-kata yang dilontarkan Embun Semibar. Lain halnya dengan biksu paling depan. Ia menyergap dengan serangan tangan kosong bertenaga penuh yang didahului pekikan nyaring. Pertarungan sengit pun terjadi satu lawan satu. 

He… hiat… hiat…!

Hufs… ctar… bug!

Perkelahian itu jauh dari perkiraan sang biksu berkepala pelontos berbadan gemuk ini. Tak terasa sudah dua puluh jurus mematikan yang ia gelar belum satu pun dapat melukai atau membuat lawannya meringis. Alih-alih ia dapat menumbangkan Embun Semibar, malahan sudah tiga pukulan telak sempat bersarang di kepala dan perutnya yang buncit. 

Di adegan berikutnya biksu semakin meningkatkan serangan dan membuat pertahanan terhebatnya. Lain halnya dengan Embun Semibar, dia hanya melepaskan pukulan-pukulan berarti di saat ia memastikan serangannya dapat mengenai lawan. Perkelahian dua pendekar yang disaksikan enam pendekar lainnya telah meratakan rumput dan semak-semak yang ada. Rumpun-rumpun bambu ikut menjadi korban. Banyak sudah yang patah atau terbelah akibat menerima pukulan atau tenaga dalam yang luput dari kedua pendekar tersebut. Pertarungan sengit dan seru itu telah berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Sampai menjelang sore duel maut terus berlangsung dan berlanjut hingga malam harinya. Ketika pagi pertarungan itu kembali pada tempat awal mula pertarungan di mulai. Sang biksu mulai kelelahan. Lebih-lebih duel maut sudah beralih pada penggunaan tenaga dalam tingkat tinggi. 

Embun Semibar mulai menunjukkan ilmu-ilmu sakti yang ia miliki. Cabang-cabang ajian sakti “Embun Menebar” mulai ia kerahkan. Sesuai dengan namanya, dengan kemampuan miliknya Embun Semibar memekarkan jemari sepuluh dan memutar-mutarkannya di udara, seketika itu butir-butir embun pagi menggumpal seperti kapas berterbangan dan terhimpun di sekitar pertarungan dahsyat. Cuaca berubah menjadi dingin sekali. Tanpa disadari oleh biksu, pengaruh cuaca dingin itu menyergap urat-urat syaraf dan membuat gerakannya melamban, pukulan-pukulannya pun seakan tanpa tenaga. Sudah dapat ditebak apa yang bakal terjadi. Dengan sangat mudah Embun Semibar mendaratkan hantaman dan tendangan maut. Tidak cukup di situ. Butiran-butiran embun itu dikerahkan Embun Semibar untuk membungkusi tubuh lawan dan membuat biksu sama sekali tak dapat bergerak. Tubuhnya kaku mematung. Menyisakan sorot mata putus asa.

Hiaaat…!

Ctar…!

Pukulan pamungkas Embun Semibar hampir saja dapat menyudahi perlawanan biksu ini kalau saja tidak dihalau oleh salah seorang kawannya yang langsung masuk ke dalam arena pertarungan selanjutnya. Embun Semibar kini menghadapi musuh baru.

Akhirnya, satu demi satu lawan tanding Embun Semibar menyerah kalah. Pertarungan yang memakan waktu tujuh hari tujuh malam tanpa henti itu mulai menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Pada hari ketujuh. Embun Semibar bertarung melawan biksu yang paling sakti. Dan satu-satunya biksu di antara mereka yang mempunyai rambut sebahu, sama dengan dirinya. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Embun Semibar mengerahkan segala kemampuan terbaik miliknya. Keberuntungan masih berpihak padanya. Oleh karena keenam lawan yang sudah ia taklukan tidak ikut melakukan pengroyokan. Mereka masih mempunyai jiwa kesatria dan menyepakati aturan yang mereka tetapkan sebelumnya. Duel satu lawan satu.

Di pagi yang ketujuh. Embun Semibar mendapat pukulan beracun dari biksu berambut gondrong. Embun Semibar menggeram dan tersurut ke belakang. Dari celah bibirnya mengeluarkan darah hitam. “Racun…,” desisnya. Seketika ia merasakan dadaknya nyeri dan sesak. Sementara lawannya tersenyum puas dan menyeringai. “Aku rasa tuntas sudah kependekaranmu pagi ini, Embun Semibar.”

Embun Semibar merasakan sakit dan gatal yang luar biasa di sekujur tubuhnya, seakan tengah dikerubungi ribuan semut. “Sihir apa yang digunakan lawan. Kenapa badanku tiba-tiba menjadi gatal seperti ini.” Embun Semibar sempoyongan dan menggaruk-garuk badannya yang luar biasa gatal. Namun, garukannya malahan memperburuk keadaan. Dagingnya ikut terkelupas dan berdarah-darah berwarna hitam.

“Hahaha…. Itu sihir jahat dari perguruan kami, Kadazan, Embun Semibar….” Ledek lawannya. Melihat keunggulan sudah di depan mata, keenam kawanan biksu lainnya merapat dan ikut mencemooh Embun Semibar. “Tidak ada yang mampu melawan sihir jahat Kadazan milik kami. Termasuk kau. Hahaha….” Mereka tertawa lepas.

Embun semibar tersungkur merasakan sakit luar biasa… ia mengerang. Di saat kritis seperti itu, tiba-tiba angin kencang disertai gerimis terjadi di tempat itu. Semua terpana dengan fenomena yang ada. Ada petikan dawai nan indah. Entah dari mana arahnya. Bau wangi beraroma padi menebar menyedapkan menusuk hidung. Entah kapan pula datangnya, sesorang bertubuh semampai dan mengenakan mahkota di kepala serta mengenakan gaun indah mempesona sudah berdiri dan berjalan mendekat ke arena pertarungan.

“Putri Silampari…,” desis Embun Semibar. “Kau datang lagi.” Embun Semibar mengenali siapa yang datang. Lain halnya dengan tujuh orang biksu yang bertarung dengannya. Mereka semua bengong dan bertanya-tanya.

“Hah! Dayang Matorek. Ah, bukan… ternyata kau hanya mirip.” Biksu Berambut Gondrong mengucek-ucek mata. “Si… siapa kau wahai putri yang cantik. Dari mana asalmu?” 

“Aku? Kalian tidak tahu siapa aku? Lucu kalian ini. Lantas apa maksud kedatangan kalian kemari? Hah?!” tiba-tiba wajah Putri Silampari menjadi merah kelam. Marah.

“Ap… apakah kau ini Putri Silampari, keturunan leluhur kami?” tanyanya berpura-pura bengong dan bersikap hormat.

“Cukup. Aku tidak ada hubungan apa pun dengan leluhur kalian. Dari dahulu aku sebagai penghuni bukit ini. Justeru kedatangan kalian ini telah mengotori taman-taman indah istanaku di sini. 

Cepat sekali. Tubuh Putri Silampari melayang dan mencabut sesuatu dari punggung para biksu satu per satu. Seketika itu pun para biksu merasakan dirinya lemas tak bertenaga. Putri Silampari melayang dan kembali pada tempatnya semula. Di tangannya menggenggam sesuatu berwarna hitam.

“Cepat. Pergilah kalian dari tempatku ini, sebelum aku berubah pikiran untuk membunuh kalian.” Usir Putri Silampari. Kata-katanya bernada ancaman. Tujuh pendekar biksu pencabut nyawa yang sudah dicabut kekuatannya itu bersegera meninggalkan puncak bukit. Mereka jatuh bangun sambil berlari menjauh. Tidak ada lagi kesaktian yang mereka miliki. Sedikit pun. Semuanya sirna bersama telah dicabutnya susuk berbentuk batang lidi yang telah tertancap di punggung mereka masing-masing.

***

Tujuh Lidi Sakti dan Sebutir Padi

Putri Silampari masih mematung sampai tujuh punggung biksu hilang menuruni bukit. Kemudian, ia melangkah menghampiri Embun Semibar yang masih terbaring di tanah. Embun Semibar meringis dan napasnya bergemuruh menahan sakit luar biasa.

“Semibar,” tegur Putri. “Kau masih membenciku, karena aku tiba-tiba menghilang dan lenyap dalam pandanganmu ketika itu?” sikapnya ramah dan menghibur.

“Kenapa kau datang lagi, setelah kau menghilang cukup lama. Aku tetap menunggumu di tempat ini. Malahan yang datang para pendekar biksu yang akan membunuhku.”

“Sudahlah, Semibar. Tak usah kujelaskan alasannya. Karena aku bukan berasal dari golongan manusia sepertimu.” Sang Putri berdalih. Dari ucapannya menampakan kesedihan mendalam. Pertentangan batin yang berkecamuk dalam dirinya.

“Berarti kau ini benar siluman adanya?” Semibar meringis dan berusaha duduk. Ia menahan diri untuk tak lagi menggaruk badannya. Agar lukanya tak lagi bertambah.

“Aku adalah bidadari bumi. Yang dalam duniamu kau sebut sebagai peri. Yah, aku adalah salah seorang peri penghuni Bukit Sulap ini.” Putri Silampari menguraikan jati dirinya.

“Aku tak peduli siapa dirimu. Aku rela menjadi suamimu. Jati dirimu bukan menjadi penghalang. Aku sudah puas berkelana. Aku ingin menetap saja di sini. Bagiku tidak mengapa engkau dari golongan peri.” Harap Embun Semibar.

Sesaat sang putri menatap iba pada Embun Semibar. Tapi, ia menggeleng pelan. “Tidak mungkin. Tidak mungkin, Semibar. Aku tetap takkan bisa kau miliki selamanya. Dunia kita berbeda. Engkau memang berhati luhur. Aku… aku juga mencintaimu…,” kata-kata Putri Silampari terdengar serak. Dua matanya telah mengalir air. “Kau jalani saja hidupmu, sesuai dengan keadaan yang berlaku pada manusia. Biarlah hubungan kita berakhir pada saling kenal yang panjang. Kalau kau rindu padaku, panggillah, aku akan datang, Semibar. Aku bersedia untuk tetap menjadi kekasihmu, penolongmu bila mendapat kesusahan, tetapi bukan sebagai istrimu.”   

Embun Semibar sangat berduka mendengar pengakuan sang putri. Keputusan yang sangat berat untuk ia terima. Walau pada akhirnya ia pun menuruti keputusan kekasih gaibnya. “Bagaimana caranya engkau datang padaku. Bagaimana aku bisa memanggilmu?”

Sang putri kembali mendekati Embun Semibar. Ia menyerahkan benda kecil berwarna kuning yang disambut Semibar. 

“Sebutir padi?” Semibar penasaran dengan benda yang sangat sering ia lihat bahkan nasinya sering ia makan. Nasi dari beras dayang rindu yang beraroma wangi yang khas.

“Benar. Itu memang sebutir pari atau padi. Akan tetapi, bukan pari sembarangan. Kau kapan saja dapat memanggilku jika sambil memegang butir padi atau pari itu.” Jelas putri.

“Oh, jadi engkau sebenarnya Dewi Sri?”

“Bukan, Semibar, aku putri salah seorang Dewi Padi dari golongan padi Dayang Rindu.”

“Putri Silampari itu artinya dirimu ini putri Dewi Sri yang menghilang.”

“Iya. Dan, kau dapat menghadirkanku dengan memegang butir padi yang kuberikan padamu.”

“Terima kasih, Putri. Semoga hubungan kita ini semakin baik di kemudian hari.” Semibar berusaha tegar. 

“Aku pergi sekarang, kekasihku. Maafkan, aku telah membuat tempatmu ini menjadi tak keruan karena perkelahian….”

“Sudahlah, tak usah kau hirau akan hal itu. Justeru engkau harusnya bersyukur.”

“Bersyukur?” Semibar mengernyit dahi. “Apa maksudmu? Apa yang harus disyukuri?”

Putri Silampari memberikan tujuh batang lidi yang ia cabut dari ke tujuh pendekar biksu.  Semibar menerimanya. “Lidi-lidi ini adalah kesaktian para biksu yang sudah hilang kekuatannya. Lidi-lidi ini kelak dapat kau gunakan jika engkau memerlukannya untuk kebaikan orang banyak. Sebab bilamana dimiliki para biksu itu, mereka selalu menebar kejahatan.” 

“Baiklah, terima kasih, Putri. Kau baik sekali padaku.” Semibar berbalik dan hendak melangkah.

“Semibar,” tahan Putri Silampari memegang lengan Embun Semibar. “Penyakitmu adalah ulah sihir pendekar biksu tadi. Satu hal yang harus kau ketahui, lawanmu yang terakhir kali sebenarnya bukan dari golongan orang-orang yang mengaku sebagai biksu dari Kadazan. Pendekar berambut gondrong itu hanyalah sebagai penghasut kawan-kawannya. Dia orang pribumi sini. Dia dijuluki sebagai Bujang Juaro. Dia dahulu pernah bertarung dengan seorang pemuda pendatang di tempat ini untuk memperebutkan perempuan cantik yang disebut-sebut sebagai Dayang Matorek. Dayang Matorek sekilas wajahnya mirip dengan wajahku. Bagi orang yang belum paham, pasti mereka menuduh kami sebagai saudara kembar atau paling tidak sebagai ibu dan anak. Hanya saja Dayang Matorek dari golongan manusia. Oleh karena kecantikannya yang luar biasa, dia diagung-agungkan sebagai titisan dewi kahyangan.”

“Siapa sebagai anak?” tanya Embun Semibar.

“Kalau menurutmu?” bertanya balik sang putri sambil tersenyum renyah.

“Kau sebagai anaknya. Sebab kalau kau sebagai ibu berarti aku mempunyai kekasih yang telah dimiliki dari orang lain.” Kilah Semibar. 

“Hem….” Putri Silampari diam. Kemudian dia melanjutkan ceritanya, seakan enggan memperlebar arah bicara mereka. “Perkelahian Bujang Juaro dengan pemuda berjuluk Pangeran Seberang itu berlangsung hingga berhari-hari tanpa ada pemenang. Keduanya sama-sama memilik ilmu sihir “Malih Rupa”. Pangeran Seberang sebenarnya berwajah buruk dan sekujur tubuhnya penuh kurap. Karena selalu dijauhi oleh penduduk, ia kemudian mempelajari ilmu sihir untuk mengubah wajahnya menjadi pemuda sangat tampan. Semenjak itu namanya berubah menjadi Pangeran Seberang yang tampan. Pertarungan mereka berhenti ketika mengetahui wanita rebutan telah mati bunuh diri.” Putri Silampari menutup cerita. “Sihir Bujang Juaro yang menimpamu dapat sembuh dengan sendirinya jika engkau dapat melakukan suatu perbuatan.”

 Semibar senang mendengar saran yang hendak diberikan sang putri, “Perbuatan apa, Putri?” tanyanya tak sabaran. Laps…. Putri silampari sudah tidak ada. Ia kembali silam. Putri Dewi Pari itu sudah lenyap dalam pandangannya. Namun, Semibar masih mendengar suara yang menggema dalam gendang telinganya sendiri. “Menikahlah dengan seorang putri yang sudah dinikahi oleh ayah kandungnya sendiri. Maka penyakitmu akan hilang.” 

Embun Semibar mendapat harapan baru. Ia segera menuruni bukit sembari menahan sakit yang masih mendera. Luka di sekujur tubuhnya kian menjadi manakala bersinggungan dengan daun atau ranting semak yang ia lewati. Matahari tegak lurus di atas kepala ketika ia meninggalkan Bukit Sulap menuju utara.

***

Embun Semibar adalah pendekar yang tak menetap di suatu tempat. Ia berkelana dari tempat ke tempat lainnya. Sosok bertubuh jangkung dan jarang tersenyum ini sangat popular di Sumatera Selatan. Khususnya, Musirawas-Lubuklinggau-Muratara.

Kesaktiannya tak ada yang meragukan. Namun demikian, Embun Semibar tak pernah sekali pun membunuh lawan tanding yang pernah ia taklukkan. Sehingga, musuhnya selalu kalah dengan hormat bila berhadapan dengannya. Buah perkenalannya dengan Putri Silampari membuat Semibar akhirnya mampu melanglang buana di alam peri, alam siluman, dan jin. Dia mempunyai sebilah pisau sakti terbuat dari kayu yang sudah jadi batu. Pusaka miliknya berwarna hitam legam mengkilat lagi beracun. Pisau seukuran dua jengkal tersebut sanggup membunuh lawan hanya dalam tiga kedipan mata bila tergores sedikit saja. Pisau berbentuk kepala ular naga di gagangnya tersebut konon pemberian raja jin bernama Bahlul yang mendiami terowongan Saung Naga yang terletak di bawah jembatan ulak surung kota Lubuklinggau. Pisau itu hasil pengelanaan Semibar ke lorong-lorong gaib. Embun Semibar jarang sekali mencabut atau menggunakan pisau sakti pemberian “raja jin air” ketika menghadapi lawan tandingnya. Karena ia tahu, mencabut berarti kematian atas lawannya.

***

(Bersambung ke sekuel “Tujuh Purnama Kemudian”….)

Leave a Reply

Your email address will not be published.